Kenapa “YHWH” Tidak Ada Tertulis Di ALKITAB PB, Kecuali Hanya di-PL? (Serial ke 6)

Kenapa “YHWH” Tidak Ada Tertulis Di ALKITAB PB, Kecuali Hanya di-PL? (Serial ke 6)

Serial ke-6

SIAPA BILANG NAMA YHWH TIDAK DISEBUT DI PB?
SIAPA ENGKAU YANG MENGGANTIKAN NAMA-NYA?

PENGANTAR

“Tidak Ada Dasar Mempertahankan Nama YHWH
Karena Tidak Ditemukan Dalam Manuskrip Asli Perjanjian Baru” (??)

Kita telah berjalan jauh dan kini sampai kepada benteng terkuat dari pihak mereka yang bersikukuh mempertahankan status-quo nama TUHAN. Mereka ini tidak memerlukan nama YHWH tercantum dalam Alkitab-Nya, juga praktis menghindari atau mencurigai hamba Tuhan yang berdoa atau berkotbah dengan pengucapan nama YHWH (dibaca: Yahweh atau Yehowa). Mereka sengaja ikut menggantikan Nama Suci ini menjadi “TUHAN” atau “ALLAH” dengan banyak pendalilan keilmuan, sehingga tepatlah mereka disebut YHWH Changer (YC). Pendalilan YC yang diyakini paling kokoh itu merujuk kepada fakta yang paling nyata bahwa nama YHWH itu total absen dari seluruh Injil dan surat-surat para Rasul Yesus di Kitab PB! Mereka merasa penggantian nama itulah yang pantas dan benar, menirukan istiadat Yesus sebagai orang Yahudi yang memang tidak membunyikan nama YHWH dari mulutNya…

Namun maaf, pendalilan absennya Nama Suci itu semata-mata karena melihat “fakta” dengan mata occuler saja, dan bukan melihatnya dengan mengikutkan hati dan roh. Begitu pula dengan dalil adat-istiadat keyahudian Yesus itu karena hanya mampu melihatNya sebagai ‘Isa binti Maryam’, bukan Yesus Putra Elohim.

Mereka berkata, “Yesus sebagai orang Yahudi yang baik pasti mengikuti tradisi   Yahudi dan itulah sebabnya Dia tidak pernah mengucapkan nama YHWH”.

Hebat spekulasinya yang mengatas-namakan Yesus sebagai orang Yahudi, tetapi tidak menempatkan Yesus sebagai Anak Manusia yang datang dari Sorga.  
Kenapa kita tidak bertanya, siapakah orang-orang Yahudi itu sejatinya? Bukankah itu anak-anak Abraham? Dan tidakkah Yesus (dan semua para rasul) juga telah memilah dan membedakan anak-anak Abraham dengan mengajukan pernyataan keras  kepada orang-orang Yahudi: “Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham”. (Yoh.8:39)

Perkataan “Jikalau sekiranya” inilah juga yang telah disampaikan secara keras oleh Yohanes Pembaptis kepada mereka agar jangan hanya mengira-ngira sekenanya:
Dan janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami!… Elohim dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini! (Mat.3:9).

Dan apa kata Rasul Paulus untuk orang-orang Israel/Yahudi?

“Tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel, dan juga tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham” (Rom.9:7,8).

Adalah salah besar berasumsi bahwa Yesus sebagai orang Yahudi pasti tunduk menuruti “tatakrama Yahudi atau Musa”. Bukankah Yesus lebih tinggi dari Musa (Ibr. 3:3-6) dan Malaikat (Ibr. 1:6). Dialah Tuhan atas hari Sabat (Mat12:8), bahkan Ia juga lebih tinggi daripada Bait Elohim (Mat. 12:6), yang mana sekaligus menjelaskan otoritas Yesus melampaui segala tatakrama-ibadah Bait Elohim?  Yang terbukti justru sebaliknya bahwa. Yesus sengaja secara demonstratif  “melanggar” tata-adat-hukum tentang hari Sabat, dan sekaligus juga finalitas Taurat (re: kotbah Yesus dibukit Matius pasal 5-7). Di bukit itulah Yesus mendeklarasikan klausulNya yang terkenal, “Kamu telah mendengar firman…. Tetapi Aku berkata kepadamu….”.
Demikian juga “pelanggaran” Yesus dalam mengadili seorang perempuan yang kedapatan berzinah, dimana Dia harus merajam (menurut istiadat Taurat) tetapi malah tidak merajam melainkan mengampuni pezinah tersebut.

Kita singkatkan begini saja, Yesus bukan Isa-Islam. Islam tidak bisa menjawab kenapa Yesus itu berkali-kali mau dirajam dan akhirnya harus disalib menurut versi adat-istiadat Yahudi? Islam tidak percaya Isa itu ‘Anak Allah’. Padahal Dia disalib justru karena “terbukti” melanggar istiadat keagamaan Yahudi baik secara perkataan maupun perbuatan! Khususnya ketika Dia menyatakan diriNya Anak Elohim dan menyebutkan  I AM (Yoh 8:58, Mak 14:62) yang sama dengan Nama-Suci YHWH yang Dia ucapkan kepada Musa (Kel. 3:14). Dan itu pula adalah diriNya yang bernama YESUS (YESHUA) yang bermakna YHWH-Penyelamat (Mat. 1:21)….

ALHASIL: Tradisi Keagamaan Yahudi –bahkan menjadi manusia Yahudi sekalipun—tidak menjadikan Yesus harus tunduk untuk tidak menyebut diriNya “Anak Elohim” atau sebagai  “I AM”. Dua-dua istilah ketuhanan yang diharamkan adat-istiadat Yahudi untuk diucapkan oleh Yesus sebagai orang Yahudi!

Bagaimanapun,  keyahudian Yesus tidak dibenarkan untuk dikaitkan dengan soal dukung-mendukung penggantian Nama Suci, yang bahkan dilakukan oleh manusia secara illegal. Namun mereka juga mengkaitkan pendalilannya atas nama Yesus dan kelak Roh Kudus, yang dianggapnya sah-sah dan legal saja. Maka demikianlah kekeliruan berikutnya yang mereka lemparkan:
“Jikalau di PB Yesus dan para Rasul sendiri mengosongkan penyebutan nama YHWH dari mulut mereka, maka apakah kami juga bisa dipersalahkan karena tidak menyebutkannya?”

Ya, andaikata mereka konsisten mengenakan dalil yang sama untuk nama lain, misalnya nama ALLAH, mungkin saja mereka tidak terlalu bersalah. Tetapi nyatanya YHWH-Changer (YC) ini hanya berbicara dan menuding tentang absennya kata YHWH di PB, namun sengaja melupakan keabsenan kata ALLAH diseluruh manuskrip di PB, dan bahkan juga di PL (!). Kini  nama siapa yang lebih lama absennya-dipanggil diseluruh Alkitab: Nama “ALLAH, Allah” ataukah nama “YHWH”?
Jadi kenapa mereka ini hanya menghakimi absennya nama YHWH di PB (saja!) namun tidak menghakimi absennya nama ALLAH-Allah yang justru absen total diseluruh manuskrip  Alkitab PL & PB?
Yesus telah menegur orang banyak di Yerusalem, dan kini kepada kaum YC: “Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil.” (Yoh 7:24)


Eror logika sering menuntun kepada kekonyolan. Sering kurang diingat, bahwa absennya Nama Suci di PB itu hanya karena tafsiran manusia (lihat selanjutnya di bagian akhir), tetapi absennya nama ALLAH itu adalah ketetapan firman, pasti bukan terjadi secara kebetulan!

NB. Dalam satu perdebatan, salah satu YC yang  menuding-nuding absennya kata YHWH, masih tidak bisa memahami dan melihat error logika yang dibawanya. Sesudah dia diperhadapkan balik jawaban seperti diatas, maka ia bukannya merasakan kekeliruannya, melainkan malah berkilah  dengan pendalilan barunya yang digesernya seolah tidak bersalah : “Kata ‘Allah’ jelas tidak ada di manuskrip PL dan PB yang memang bukan ditulis dalam bahasa Arab. Sama halnya dengan YHWH yang tentu tidak bisa diketemukan di PB yang bahasa Yunani” (karena tidak ada aksara ‘w’ dalam bahasa Yunani).
SO HOW? Inilah yang disebut sebagai smart twisting namun sesungguhnya adalah suicidal-uttering, pendalilan bumerang yang mati konyol.
Segera YC intelek bukan hanya harus menelan batu yang dia lemparkan sendiri melainkan juga harus bertanggung jawab untuk menjawab: Jikalau kata Allah diakui tidak terdapat di manuskrip asli Alkitab (yang asli bahasa Yunani), tetapi kenapa  pula engkau masih harus  memaksakan kata Arab hadir disitu (dan tidak boleh kata Ibrani) sebagai pengganti kata Ibrani YHWH atau Elohim?”

ALHASIL: Mudah sekali eror logika menyelinap dalam perdebatan Nama Suci Tuhan, karena lupa akan hakekatnya yang sangat Privat & Ajaib. Dan dengan pelbagai smart twisting si pendebat terjebak untuk hanya menuding keluar kelawannya, tetapi melupakan tudingan ke-diri-sendiri secara berkeadilan. Bilamana Anda memakai nama Yesus dan para Rasul untuk menghakimi bahwa Nama YHWH tidak disebut di PB, maka hakimilah juga kenapa nama ALLAH (yang kalian substitusikan itu) tidak sepatahpun disebut, bukan hanya di PB melainkan juga di PL; bukan saja oleh Yesus dan RasulNya, melainkan juga oleh Yesus dan Rasul, dan BAHKAN Elohim dan semua Nabi dan malaikat Tuhan!

Nama yang melekat abadi
Sudah dipaparkan dimuka bahwa nama Tuhan bukan sekedar aksara, word & sound atau lafalan kata YHWH, melainkan justru berimplikasi kepada Jatidiri & RohNya. NamaNya itulah refleksi karakter dan jatidiriNya yang kekal, jadi mustahil bisa terhilang, gagal atau sia-sia, selama Dia-Nya sendiri tidak hilang. Sekali saja Tuhan menegaskan dari mulutNya kepada Musa bahwa namaNya itu adalah AKULAH YHWH, DAN AKULAH itu untuk selama-lamanya dan turun temurun (Kel. 3:14, 15), maka jangan ada pihak yang lancang menafsirkannya seolah itu terhilang di PB! Itu yang lagi-lagi akan melahirkan error logika!
Logika lurus yang benar aksiomatis adalah, Dia dengan NamaNya adalah selalu dan selamanya ADA bersama Firman dan RohNya, di PL maupun di PB, tidak peduli malaikat dan sekelompok Rabbi, Teolog, atau Tradisi manapun yang mencoba menghapuskan-Nya. Alasannya satu dan sederhana: Nama Tuhan – berlainan dengan nama manusia—bukanlah nama yang GIVEN (diberi), melainkan sudah ada sejak Dia ADA. Ingat ketika Yesus berkata: “BEFORE ABRAHAM WAS, I AM” (Yoh. 8:58). “I AM”-Nya sudah ada sebagai Nama & Sosok YHWH yang ajaib, unik, absolut dan kekal (Kel. 3:14, 15; Mi. 4:5;  Hak. 13:18; Yes. 44:6, 55:11 Maz. dll).  

Nama Tuhan Itu Non-Given (Bukan Pemberian), Ia  melekat-menyatu dengan DiriNya, dari semula sampai selamanya. Lihat ayat-ayatNya…

Ringkasnya, nama Tuhan adalah refleksi dari keberadaanNya (His Being). Ketiadaan Nama Suci di PB tidak berarti Ia tidak eksis atau lenyap. Bola lampu yang padam di rumah Anda tidak berarti listriknya turut hilang. Ia tetap ada disitu. Demikian juga nama YHWH yang merefleksikan jatidiriNya, bahkan selalu melekat-menyatu dalam sosok diri YHWH sendiri! Lihat beberapa ayat ajaib ini yang memperlihatkan kesamaan Nama & Sosok-Nya:

NamaNya adalah AJAIB > YHWH  Pembuat Keajaiban (Hak. 13:18 vs. Kel. 15:11)
NamaNya adalah CEMBURUAN > YHWH Pencemburu (Kel. 34:14, Ul. 5:9)
NamaNya adalah DAHSYAT > YHWH Yang Dahsyat (Mzm. 99:3, 111:9 vs. 47:3)
NamaNya adalah KUDUS > YHWH Yang Kudus (Im. 18:21, 19:2 vs. Yes. 8:13)
NamaNya adalah KEKAL > YHWH Elohim Kekal (Kel. 3:15 vs. Yes. 40:28)
NamaNya adalah MULIA > YHWH Sang Mulia (1 Taw.16:29 vs.) 1Sam. 15:29)

Namanya adalah YHWH > Dialah YHWH (keduanya dalam 1 ayat, Yes. 42:8)

NamaNya adalah satu-satunya > Dialah satu-satunya (keduanya dalam 1 ayat, Za. 14:9)
Yesus juga berkata: “Aku datang dalam nama BapaKu”
(Yoh.5:43).

Pihak-pihak yang menafikan eksistensi nama YHWH di PB seharusnya cepat bangun dari paradigma lamanya yang  ketiduran, dan berbuat sesuatu terhadap kemustahilan yang diciptakannya sendiri, sama seperti Yakub yang terbangun sadar dan serta merta mengakui eksistensi diri YHWH yang maha dahsyat, lalu berbuat sesuatu:

“Ketika Yakub bangun dari tidurnya, berkatalah ia: “Sesungguhnya YHWH ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya.” (Kej. 28:16).

Keesokan harinya pagi-pagi Yakub mengambil batu… Lalu bernazarlah Yakub…
“… maka YHWH akan menjadi Elohimku”
(Ayat 18, 20,21).

“MANA AYATNYA?”— “DIMANA TERTULISNYA” NAMA YHWH DI PB?  TANTANGAN PINTAR ATAU BODOH?

 Analogi Tantangan Seberang

Praktis dalam setiap debat agama kita disuguhi dengan tantang-menantang yang berkutat diseputar pertanyaan “pintar” yang hampir baku: “Mana Ayatnya, Dimana Tertulisnya?” Dan jikalau Anda berhasil menunjukkan ayatnya, si pendebat-pun langsung membantahnya lagi dengan berdalil bahwa ayat tersebut tidak persis bunyi verbatimnya daripada yang diajukannya! Tantangan model “Mana Ayatnya?” atau “Dimana Tertulisnya?” tampaknya telah menjadi mode & favorit debat yang sok ilmiah, tapi bisa menjadi kelucuan dan kebodohan jikalau kita melupakan fakta siapa diri kita sebenarnya sehingga ayat Tuhan harus identik bunyinya dengan “ayat Anda” sampai kepada aksaranya? Bahkan selalu akan terjadi ketekoran ayatnya Kitab Tuhan untuk melayani tuntutan persis dari si pendebat yang tak tahu diri itu. Bukankah jumlah abjad cuma terbatas kepada 24 aksara, dan jumlah ayat diseluruh Alkitab cuma 31.000 an, lalu bagaimana bisa dicarikan yang persis ejaannya untuk sejuta isu-isu debat tentang Alkitab, khususnya tentang YHWH?

Namun kita sadar bahwa Kitab Tuhan sering menyatakan hal-hal yang profound (sangat dalam pengertiannya), dan itu dilakukan dalam pelbagai narasi atau perumpamaan yang sesuai dan benar ketika diimplikasikan. Bahkan Yesus dan para Rasul sering mengutip ulang ayat-ayat di PL dengan parafrase tertentu. Keseluruhannya kita melihat adanya narasi yang DESKRIPTIF, ada pula narasi yang PRESKRIPTIF (ala resep presisi)! Itulah sebabnya dalam banyak hal Yesus bahkan menyampaikan satu isu partikular dengan beberapa perumpamaan yang berbeda-beda, misalnya yang sangat mencolok adalah tentang Kerajaan Elohim.

Jikalau Nama Suci baru bisa dianggap sah hadir di PB hanya jikalau Yesus ada menyebutkannya persis preskriptif, maka maaf, mereka yang menuntut hal itu adalah (ibarat istilah Islam) mereka yang “tidak mendapat hidayah dari Allah SWT”. Orang-orang yang tidak mendapat hidayah begini antara lain yang mirip dengan mereka ini:

(1). Ibarat Apologet Islam Ahmed Deedat (AD) dan Zakir Naik (ZN) yang menuntut dan menantang segenap orang Kristen: “Tolong tunjukkan 1 ayat di Injilmu dimana Yesus ada berkata: “Akulah Allah, sembahlah Aku’, dan kalau itu ada ayatnya, aku akan masuk jadi Kristen!”

Dan kini bukankah para YHWH-Changer (YC) sama menuntut nama YHWH harus ada TERTULIS persis preskriptif di Injil atau di PB, dan barulah YHWH itu sah diperlakukan sebagai “ALLAH”? Jadi tidak mampukah Anda memperlihatkan kepada Ahmad Deedat & Zakir Naik bahwa Yesus MEMANG ADA berkata “I am God, worship Me” dengan deskriptif dan frasa dan parafrasa yang berbeda? Itulah tantangan bodoh seperti Ahmad Deedat & Zakir Naik dan sekondan-sekondannya yang suka mempertanyakan “Mana-Ayatnya”? Padahal tantangan pembuktiannya amat sangat elementer bagi setiap murid Tuhan Yesus yang sudah dewasa.

(2). Ibarat kemunafikan yang dicela Yesus, bahwa banyak fenomena ‘alamiah’ sudah diberikan sangat nyata (OBVIOUS), namun “Mengapakah kamu (masih) tidak dapat menilai zaman ini?” (re Lukas 12: 54-57). Mana akal sehat yang sudah Tuhan berikan? Mengapa kalian masih terus mencari-cari kutu-busuk dan saling menantang & memperdebatkan sesuatu yang sudah sangat obvious?

“Yesus berkata pula kepada orang banyak: “Apabila kamu melihat awan naik
di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini? Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar?”

Analogi: Anda adalah seorang kepala keluarga. Tetapi apakah Anda pernah mengklaim diri kepada tetangga Anda dengan berkata secara preskriptif: “Saya adalah laki-laki”? Praktis tidak ada, bukan? Namun absennya klaim anda sebagai laki-laki (yang dianggap sangat penting) ini suatu hari dipakai oleh tetangga Anda untuk menantang Anda untuk membuktikan bahwa Anda betul laki-laki.  Itu adalah sebuah tantangan yang bodoh!


Akal sehat kitalah yang perlu menuntun kita untuk mendengar dan menangkap persis –deskriptif dan preskriptif—apa kata & makna Tuhan akan namaNya. Sekali Dia berkata bahwa namaNya “NamaKu YHWH” kekal dan turun temurun” (di-segala generasi), maka tidak bisa lain bahwa Nama Suci itu harus ADA hadir dalam generasi manapun, di PL & di PB dan bahkan juga ada disekitar kita saat ini. Bila tidak demikian ADA-NYA, maka gugurlah Dia sebagai “YHWH” for all generations! Lain halnya bilamana nama tersebut sepertinya belum ada, maka masalahnya bukan tidak ada, melainkan akal sehat dan pencaharian andalah yang belum mampu “menilai zaman ini”…


(3). Ibarat membuktikan Yesus mengklaim diriNya Imanuel
Ya, tolong sekalian perlihatkan kepada kita dimana Yesus (dan para rasul) pernah mengatakan diriNya secara tekstual sebagai I.M.A.N.U.E.L di Injil dan di PB?
Nah, kosong bukan? Lalu akankah nama Yesus itu kurang dari, atau bukan “Imanuel”, God with us?
Maka begitu jugalah timbal baliknya bahwa Yesus yang telah meng-atribusikan diriNya sebagai “I AM” di PB (dalam Yoh. 8:58), itulah Dia yang sama dengan “I AM THAT I AM” dan “I AM” di PL (dalam Kel. 3:14,15). Klaim itu bahkan sudah sangat preskriptif, tetapi kenapa Anda masih menafikan diriNya mengklaim YHWH bagi diriNya? Inilah fallacy (eror logika) dari umatNya di dalam banyak gereja-gereja yang kurang (siap) menangkap firmanNya: God says “I Am that I Am”, but the churches don’t believe “I Am”. Maka Yesus bertanya: “Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasaKu? Sebab kamu tidak dapat MENANGKAP firmanKu”
(Yoh. 8:43).


(4). Bahkan Tantangan Yahudi Kepada Orang Kristen Tentang Mesias PL
Dimana kaum Yahudi akan bertanya sama miripnya: “Jikalau Yesus itu adalah juga Mesias kami, dan seluruh PL merujuk kepada Dia (seperti yang kalian orang-orang Kristen sampaikan kepada kami), kenapa nama YESUS itu tidak sekalipun tersebut di Tanakh, Alkitab Ibrani kami?”
Nah, bilamana Yesus adalah sosok central yang harus dinanti-nantikan oleh seluruh umat manusia –khususnya umat Yahudi– tentulah nama YESUS sudah harus banyak muncul di PL. Tetapi adakah nama itu per se  pernah muncul SATU KALI SAJA persis secara tekstual di PL?

Dan Anda YC mungkin berkilah bahwa Mesias-Pra-Inkarnasi sudah memperlihatkan diriNya sebagai MALAIKAT TUHAN (YHWH) kepada Hagar dan Abraham, dan tokoh-tokoh lainnya di PL (lihat Kej. 16:7ff, 21:17, 22:11 ff dan seterusnya) dan khususnya Malaikat YHWH ini memperlihatkan diriNya kepada Musa (Kel. 3:2ff) yang nantinya berkata bahwa Dialah YHWH dalam ayat 14-15. Jadi apakah anda akan berkata: “Malaikat TUHAN (YHWH) itu adalah theofani-nya Yesus Mesias di PL?”

Segera tampak bahwa dalam ranah-privat Tuhan yang disebut ajaib itu (Hak.13:18)  nama preskriptif yang aksarawi tidak bisa membatasi cakupan wilayahNya. Preskripsi bagi Sosok Ketuhanan selalu dimungkinkan menjadi deskripsi, dan tidak ada alasan untuk kita menentangnya.

Namun Tuhan juga sudah mengokohkan sosok Mesias itu dalam diri Yesus, setidaknya sudah ada ayat-ayat deskriptif lainnya yang cukup mendukung kehadiran nama ilahi ini di PL. Misalnya dalam sebutan atau titel IlahiNya yang tercantum dalam Kitab Yesaya 7:14, 9:6, dan Yeremia 23:5,6 dan beberapa kata Mesias di tempat-tempat lain. Yesus hadir di PL tanpa membutuhkan pengakuan Rabbi manapun yang ngotot mensyaratkan keharusan melihat abjad dan ejaan preskriptif-Nya di Tanakh. Tuhan kita (di PL dan PB) tidak pernah mau meladeni “angkatan yang jahat dan tidak setia” demikian. Bagi Tuhan, ngotot menuntut suatu TANDA-TAMBAHAN akan dilihat sebagai kesalahan. Dan itu tidak akan diberikanNya kecuali hanya tanda nabi Yunus (Mat.12:39 dll). Tuhan tahu itu adalah soal keinginan daging semata, bukan soal kebenaran dan iman:
“People tend to believe what they want to believe”.

5. Bukankah kata TRINITAS tidak disebut dalam Alkitab?

Kita tahu bahwa Islam dan Yahudi telah bersama-sama mengeroyok doktrin Kristen tentang TRINITAS, “Tunjukkanlah dimana ada kata/istilah Trinitas dalam Alkitab (PL dan PB), sehingga sampai dijadikan inti doktrin kalian?”
Kita persilahkan kaum YC saja yang menanggapinya sendiri, sebab mereka toh adalah orang-orang Kristen bahkan banyak sekali yang merupakan teolog besar! Tapi inilah analogi yang persis sama dengan tuntutan mereka sendiri bagi KEHARUSAN KATA YHWH dipreskripsikan di PB, maka baru nama YHWH itu SAH dan layak untuk disebut dan diagungkan dari mulut mereka yang terhormat.

Cukuplah, kita kini mau menghemat waktu kita untuk mempertegas bahwa model-model yang mempertanyakan “mana ayatnya – mana tertulisnya” jangan hanya dikenakan keluar tetapi tidak kedalam. Anda YC yang sesekali mensubstitusikan Nama YHWH menjadi “ALLAH” di Alkitab itu bagaimana ceritanya? Dari mana kata itu berasal? Mana ayatnya & dimana tertulisnya di Alkitab asli Ibrani/Yunani? Bahkan lebih dari itu, tahukah anda bahwa nama ALLAH telah dipakai untuk mengaburkan nama YHWH lewat jalur Konsep Trinitas?

Secara ringkas saja, memang Quran secara eksplisit menolak Tuhan Trinitas. Juga entitas YHWH ditiadakannya. Penolakan quranik ini namun berbeda dengan pelbagai aliran-aliran sebelumnya yang juga menolak ketrinitasan YHWH seperti Yudaisme, Sabelianisme dan Arianisme dll., Quran-lah yang pertama-tama mengusahakan penghilangan nama YHWH dan menggantikannya menjadi ALLAH. Dan ini dilakukan dengan dua kesatuan/tahapan yang tersamar baik, yang pertama menyatukan nama, dan kedua menggantikan nama:

(1) Dengan cara menyatukan nama YHWH  dengan nama ‘Allah’
(lihat Qs 29:46). Dimana Quran mengklaim: “Our Allah and your Allah is one” (terjemahan Yusuf Ali dari asli Arab dengan kata ‘Allah’, bukan ‘Tuhan’). Menjadikan Allah mereka sama dengan Tuhan kita?
Dan

(2) Dengan mengisah ulang perjumpaan Musa dengan “Allah” (dalam Quran) dari konteks kisah asli perjumpaan Musa dengan “YHWH” (dalam Taurat). Beda waktu pengisahan ulang lebih dari 2000 tahun.

Maka tampaklah di Quran bahwa namaNya telah berubah menjadi ALLAH (nama Arab, QS.28:30) yang tadinya bernama kekal YHWH (nama Ibrani, Kel. 3:14,15). Menjadikan Tuhan kita sama dan satu dengan Allah mereka, dengan kehilangan nama aslinya YHWH. Sementara kita semua tahu bahwa tidak ada kata Allah apapun dalam seluruh manuskrip Alkitab kita.
Dan kitapun tahu Roh ALLAH (SWT) tidak mengenal/berhubungan dengan Roh YHWH, dan demikian juga sebaliknya. Kita tahu Islam bukanlah kelanjutan dari Kristianitas. Itu sebabnya Islam dan Muslim – lebih daripada kaum YC, tidak pernah mengenal nama dan sosok YHWH atau telah berurusan apapun dengan Tuhan YHWH.

Nama Tuhan bukan soal sound & voice, melainkan lebih soal jati diri dan Roh. Dan secara roh pula Islam telah menolak Tuhan Trinitas dan yang MENGGANTI NAMA & JATIDIRI ketiga Pribadi Kudus Tuhan kita secara strategik & sistematik menjadi,
* YHWH telah diganti menjadi ALLAH.
* YESUS diganti menjadi ISA.
* ROH KUDUS menjadi Malaikat JIBRIL (mahkluk ciptaan).

Jadi kenapa Anda YC harus berkonsesi 4 kali (!) atas isu-isu yang doktrinal, dengan mengikuti mereka memanggil ALLAH sambil menukarkan Nama yang asli kudus dan dahsyat itu? (Mzm. 111:9). Bila Anda setuju bahwa nama Tuhan itu bukan sekedar soal sound & voice, melainkan lebih soal jati diri dan Roh, maka kedua Tuhan ini perlu dipisahkan sejelas mungkin demi kekudusanNya sesuai dengan maknanya yang berarti “terpisah khusus”. Menjadi pertanyaan besar, Roh apakah sebenarnya yang ada dibalik nama ALLAH? Apakah Dia pernah memanggil dirinya, atau minta dipanggil sebagai BAPA? Bukankah malah menegaskan yang sebaliknya bahwa Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan? Apakah kita kekurangan nama-nama asli Alkitab bagi Tuhan kita sehingga harus mengadopsi nama Ilah Arab sebagai pengganti Nama SuciNya yang Mahakudus? Azaz keuntungan dalam penggantian ini bukan hanya TIDAK ADA, melainkan justru telah merugikan kekristenan yang mengandalkan kuasaNya kepada ROH KEBENARAN, dan bukan kepada roh lain (2Kor. 11:4). Awas-awaslah! Penggantian nama Tuhan bukan termasuk ranah pilihan manusia. Apabila dulu terlanjur masuk ke ranah pilihan, maka demi Tuhan Yang Hidup, pilihlah Nama Yang Hidup selamanya dan turun temurun!

6. Pendek saja, jikalau kaum YC tetap alergi dan menolak mengembalikan nama YHWH karena alasan bahwa nama itu kosong di PB sehingga lebih memilih “TUHAN dan ALLAH”– maka bukankah selama-lamanya mereka akan memikul kontradiksi firman yang tak terselesaikan karena 2 hal maha-prinsip
(a). Nama itu sudah diaksiomakan untuk diserukan kekal turun-temurun (Kel.3:15) di PL dan PB dan diseluruh jenjang keturunan manusia?
(b). Nama itu harus dikenalkan, dihormati dan dimasyurkan kepada seluruh bangsa (Mzm 111:9, Yer 16:21; Ul 32:3;1 Taw 16:8, 29; Yes 12:4 dll). Nama yang diharuskan untuk bergerak maju (move-on) secara universal masakan kini disembunyikan, dipinggirkan, atau dihilangkan oleh YC?

Singkatnya, sia-sia semua penjelasan diatas, kecuali kaum YC itu perlu sekejab menyingkirkan terlebih dahulu “alergi” dan “balok didalam mata” (Mat.67:3) mereka terhadap Nama Suci yang Ajaib itu. Agar mampu melihat lurus untuk menyambut rahasia Kerajaan Sorga dalam kehadiran Nama Suci di PB, sebagaimana mereka mampu melihat hadirnya konsep Trinitas di PL & PB. Nama Suci (dan entitas Trinitas) ini sudah berkesinabungan & konsisten hadir dalam ayat-ayat konsepsional yang deskriptif maupun preskriptif. Dan Yesus sudah datang ke dunia dalam nama BapaNya yang menyandang nama YHWH pula (lihat Yoh. 5:43, 17:11, Yes. 63:16)!


Jawab Yesus: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.  Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti” (Mat.13:11-13).

Ayat yang dikutip diatas berkenaan dengan siapa-siapa yang “mempunyai” dan siapa-siapa yang “tidak mempunyai” dalam narasi perumpamaan. Mempunyai apakah? Tak lain tak bukan mempunyai kerinduan besar akan apa yang paling diprioritaskan Tuhan sendiri, yaitu “Carilah dahulu Kerajaan Elohim dan KebenaranNya (Mat. 6:33). Mereka yang “tidak mempunyainya”, tidak akan melihat maupun mendengar rahasia Kerajaan Elohim di Sorga, yang mana termasuk pula rahasia namaNya YHWH (Yang Ajaib) itu sebagai Sang ADA,
hadir untuk selama-lananya dan turun temurun”.

KEHADIRAN NAMA YHWH DI MANUSKRIP PERJANJIAN BARU

Para YC berkata: “Tidak Ada Dasar Mempertahankan Nama YHWH
Karena Tidak Ditemukan Dalam Manuskrip Asli Perjanjian Baru”
(???)

Itulah seruan sloganik dari kalangan pendebat YHWH-Changer. Sayangnya orang-orang yang alergi terhadap nama YHWH ini selalu berargumen dengan 1 jurus debat yang dianggap sebagai fakta tak terbantahkan, yaitu memamerkan banyak naskah kuno PB dari belasan ribu manuskrip PB dalam papyrus, codex dll yang tidak ditemukan nama YHWH di dalamnya. Kemudian menyimpulkan bahwa tidak ada satu pun naskah asli atau fragmen atau Codex kuno PB (yang dianggap telah diilhami oleh Roh Kudus itu) yang mempertahankan nama YHWH, melainkan selalu tertulis secara konsisten dengan nama Kurios…
Maka lalu mereka anggap kasus ini final, finished  & closed terbukti !

Hipotesa Yang Mandul, Bukti Yang Mandul
Mereka naif karena tidak menyadari bahwa dengan menyodorkan hanya 1 jurus debat seperti itu mereka BELUM membuktikan apa-apa untuk menolak atau mengadopsi nama YHWH. Apa yang dapat mereka buktikan HANYALAH bahwa benar nama YHWH tidak tertulis di semua manuskrip kuno PB. Tetapi apakah itu berarti bahwa: (1) Yesus dan rasul-rasul tidak pernah mengucapkan Nama Suci itu? Dan (2) Apakah Yesus telah membatalkan Nama Suci tersebut? Ini dua hal yang berbeda dengan hanya sekedar memperlihatkan ribuan dokumen yang tanpa nama YHWH! Dan Itulah contoh pembuktian yang unfinished dan error-logic yang sering terjadi.

Isu atau hipotesa testing sejatinya adalah apakah benar Yesus (dan para Rasul) Tidak Mempertahankan Nama YHWH karena Dia memang sudah membatalkannya?

Lihat, jikalau benar Yesus di PB tidak meng-endorse (mendukung) nama YHWH, maka serentak para YC harus berhadapan dengan seabrek tantangan doktrinal, dan harus mempertanggung jawabkan “5 Kausul ‘Bukankah’…” berikut yang membentur total asumsi mereka tentang kosongnya nama YHWH di PB? Ke-5 klausul itu adalah:


(1) Bukankah Tuhan telah mendekritkan bahwa Nama Suci Nya itu kekal turun temurun dari generasi ke generasi, Pl, PB dst? Kok kini hilang?
(2) Bukankah sudah disebutkan Nama Suci itu sedikitnya 6000-an kali di seluruh PL, dan bahwa apa yang difirmankan dari mulut YHWH tidak akan kembali sia-sia melainkan akan berhasil? (Yes.55:11). Kok kini sia-sia?
(3) Bukankah telah diyakini bahwa PB adalah sebagai kelanjutan, rujukan dan penggenapan dari PL, sehingga Nama Suci yang adalah paling maha-penting di PL itu pasti harus dipertahankan pula di PB?
(4) Bukankah urusan ini maha-penting untuk semua anak-anak Tuhan, lalu kenapa Yesus tidak berbicara apa-apa tentang alasanNya untuk tidak meng-endorse nama YHWH, namun juga tidak membatalkan nama tersebut? Padahal Yesus pasti tahu siapa itu YHWH, dan Ia selalu berterus terang kepada murid-muridNya, “Aku berbicara terus terang kepada dunia….
Aku tidak pernah berbicara sembunyi-sembunyi”
(Yoh.18:20).  
“Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu” (Yoh 14:2).
Dan seterusnya…


(5) Bukankah terlalu kontras beda antara PL (yang didominasi nama YHWH) dengan PB (yang dianggap mengosongkannya) yang sudah berjalan ribuan tahun, sehingga hal itu pasti bukanlah sebuah kebetulan. Tidakkah fakta-keras ini layak untuk memaknai bahwa Tuhan sesungguhnya SUDAH menyatakan “seperlu & secukupnya” (necessary & sufficient) tentang namaNya di PB bahkan sudah pula mempermuliakanNya (Yoh.17:6 ff,11, 12, 26), sehingga layak dianggap OBVIOUS (sudah nyata-nyata) seperti yang Yesus tegurkan kepada orang-orang munafik yang tidak TAHU menilai zaman? Sehingga “juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar?” (Luk.12:54-57). Melainkan masih tetap saja menjadi angkatan lain yang tidak mau melihat tandaNya kecuali tetap menuntut tanda-tanda tambahan?

Nama YHWH memang tidak sama dengan Sosok YHWH. Namun sudah diperlihatkan bahwa nama Tuhan adalah refleksi dari keberadaanNya (God’s name is a reflection of His Being). Dan keduanya melekat tidak terpisahkan. Maka jikalau pihak YC tetap ngotot mendalilkan
Kami mencontohi Yesus & Roh Kudus, yang terbukti tidak mempertahankan nama YHWH” dan selesai sampai disitu, maka hipotesa dan bukti anda-anda itu sungguh mandul. Bahkan menghadirkan kontradiksi PL dengan PB secara telanjang dan selamanya! Akibatnya seluruh hakekat PL dan PB akan saling berkontradiksi mati dan saling VOID (saling meniadakan).

Anda tidak berhak lagi berkata bahwa “Aku sudah mengikuti Yesus dan para Rasul yang juga sudah mengosongkan nama YHWH di PB”, sebab statemen Anda itu sudah tidak sah, tidak benar, VOID, SEBELUM Anda mempertanggung jawabkan 5 klausul diatas, sampai bisa mejelaskan kenapa PL &PB berkontradiksi dalam nama YHWH dan diri Yesus!?

Maaf, ribuan manuskrip asli PB Anda tidak membuktikan ketiadaan eksistensi nama YHWH di PB, apalagi membuktikan bahwa Yesus tidak mengucapkan nama tersebut. Itu hipotesa yang mandul dan mandek ibarat kuda ditempatkan dibelakang kereta (the horse behind the cart) yang sudah menjerat kaum YC dengan error fallacy yang kurang disadarinya. Sebab Nama & Sosok YHWH itu menyatu dimanapun, dan itu hal yang absolut. Satu kemutlakan tidak bisa dijadikan relatif dengan hanya menyodorkan sebuah gejala yang dianggap fakta. Tetapi yang disebut fakta itulah yang harus anda periksa habis-habisan! Dan kita sebentar lagi akan membuktikan lebih jauh bahwa tidak ada yang bertentangan atau void, karena NAMA ITU ADA DISANA, ada dalam PB! Puji Tuhan. (lihat dibawah ini).

Apakah Yesus Tahu Menahu Tentang Pelafalan TETRAGRAMMATON?
YHWH Changer Versus Yahweist (The Sacred Name Movement)

Tetragrammaton adalah 4 huruf Ibrani untuk namanya Tuhan, yaitu YHWH. Karena kekudusan karakternya maka disekitar tahun 300 SM mulai terjadilah kecenderungan kolektif dari orang-orang Yahudi sendiri untuk menghindari pengucapannya tatkala membaca Kitab Suci. Dan mereka menggantikannya dengan pelafalan ‘Adonai’ atau Ha Shem, yang perlahan-lahan membentuk tradisi-sekunder (lihat serial ke-5). Perkembangan tradisi ini mendapatkan percepatannya karena nasib bangsa Israel memang mengalami banyak penjajahan dari pelbagai penaklukan yang dilakukan oleh kerajaan-kerajaan bangsa kafir.

Lihat saja sejak Persia menaklukkan Babylonia, lalu ganti ditaklukkan oleh Yunani, dan ganti ditaklukkan lagi oleh kekaisaran Romawi sejak 63 SM hingga zaman Yesus. Dan setiap kali ganti sang penjajah, terjadilah pemaksakan yang sistematis terhadap pelenyapan tradisi lokal Israel – tertuju khusus kepada gaya hidup, bahasa dan agamanya– sehingga pembentukan tradisi yang baru, yang helenistis, yang mensuppres dan yang berusaha menggantikan Nama Suci itu mendapatkan momentum tersendiri. Ingat akan masa-masa pembuangan, diaspora Yahudi, penganiayaan dan penghujatan keagamaan dimasa kekaisaran Seleukia khususnya raja Antiokhus IV (175-164 SM). Maka penghilangan pelafalan Nama Suci dalam tradisi sekunder itu cepat menjadi hal yang didukung dan seolah dibenarkan, hingga sampai ke zaman para Rasul! Tidak heran sarjana sarjana pintar (yang tergolong selalu nuntut bukti apa saja) sempat bertanya hingga sekarang apakah Yesus betul-betul tahu akan pelafalan tetragramaton, dan betulkah Dia sudah mengucapkannya? Ini adalah sebuah pertanyaan bodoh!

Kita balik bertanya, apakah semua nabi, malaikat dan iblis tahu akan nama dan pelafalan YHWH? Bukankah semua-semuanya (!) sudah tahu kecuali YC yang tidak mau tahu dan masih mencarinya dalam kegelapan? Iblispun tahu, Zak. 3:1-2, masakan malaikat tidak tahu? (Kej. 19:13 dll).

Jikalau kita bisa percaya bahwa imam Zakharia tahu bagaimana menyapa Nama SuciNya di dalam Bait Suci, bukankah kita juga memanggil Yesus itu Rabbi dan Imam Besar Agung (Ibr. 4:14, disamping Nabi dan Raja) yang lebih besar lagi? Yang adalah juga Kepala atas Hari Sabat? (Mat.  12:8), yang mengklaim dirinya lebih dari Bait Suci Yerusalem? (Mat. 12:6). Bukankah Dia lebih tinggi dari Abraham dan Musa (Yoh. 8:58, Ibr 3:3-6), nabi yang paling berotoritas tentang pelafalan nama YHWH sejak di gunung Horeb?
Bahkan bukankah Yesus itu mahatahu akan segala sesuatu (Yoh. 16:30).
Bukankah Dia Firman Elohim sendiri yang berfirman di PL dan Injil?
Jadi Yesus yang empunya firman, mustahil tidak tahu apa dan siapa dan bagaimana lafal oral dan tekstual firmanNya untuk YHWH! Akhirnya, bagaimana mungkin Yesus yang bernama YEHOSHUA, Yeshua (Yah Shua), itu tidak tahu menahu diriNya bernama “YHWH Yang Menyelamatkan”? Dan bila sudah tahu, bagaimana mungkin Dia tidak menyampaikannya kepada murid-muridNya? (Yoh. 17:26).

Demikianlah, kita bisa mempersingkat paparan kita langsung kepada intinya – bahwa Yesus tahu akan namaNya yang terkait nama YHWH, maka Yesus pasti akan mempertahankan nama YHWH– tanpa perlu mengobralkan “bukti” manuskrip-manuskrip PB apapun (!) seperti yang diperlihatkan oleh kaum YC (lihat kasus dibawah ini).

 
Alkitab sudah mencatat bahwa Yesus pada suatu hari Sabat masuk ke sinagoga di Nazaret, dan disana Dia membaca dari Alkitab nas Kitab Yesaya yang tertulis:

“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin…” (Luk. 4:18).

Tetapi kita sekarang tahu bahwa nas Yesaya yang Yesus bacakan itu – ditempat dan diwaktu itu — pasti bertuliskan Tetragrammaton dalam bahasa Aramik atau Paleo-Hebrew, tidak peduli apakah Kitab yang disodorkan kepada Yesus itu adalah Kitab Suci Ibrani ataupun Septuaginta bahasa Yunani! Bila itu Alkitab Ibrani –dan itulah yang masuk akal — ya otomatis Kitab Suci itu memuat 4 huruf Tetragrammaton dan pasti Yesus – Sang Firman — sudah membacanya secara jujur seperti apa asli FirmanNya yang tertulis : “Roh Tuhan YHWH (Ibrani: Adonay YHWH) ada padaku, oleh karena YHWH telah mengurapi aku…” (Yes. 61:1)
Bagaimana mungkin Sang Firman membaca yang bukan asli FIRMANNYA sendiri? Bagaimana mungkin Yesus yang Yah-Shua sengaja membaca nas yang menghilangkan Nama Suci yang ada kaitan langsung dengan nama dan sosok diriNya, yang sudah disubstitusikan entah oleh siapa menjadi,
“Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku…”

Dan jikalaupun yang dibacakan itu adalah Septuaginta (dengan alasan narasi teks umumnya lebih sesuai), maka tetaplah itu adalah Septuaginta versi naskah sebelum Masehi, dimana para teolog dan ilmuwan kini juga menemukan adanya salinan-manuskrip Septuaginta yang memuat tetragrammaton dalam teks Ibrani Paleo atau Aramik. Dan itu umumnya terdapat dalam salinan naskah sebelum pertengahan abad ke-2. Contoh salah satu diantaranya adalah skroll fragmen Nahal Hever Minor Prophets, dari abad ke-1 M.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/12/Lxx_Minorprophets.gif/300px-Lxx_Minorprophets.gif

https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://en.m.wikipedia.org/wiki/Greek_Minor_Prophets_Scroll_from_Nahal_Hever&ved=2ahUKEwjXiOih1fbqAhXbZCsKHWP9ALsQFjABegQIBBAJ&usg=AOvVaw09-_wMXthgy3NIBE7kmV9

Namun terlepas dari salinan versi manapun, tidak ada keraguan bahwa Yesus memang sengaja dan bertujuan khusus ke sinagoga Nazaret dikala itu demi untuk mulai menyaksikan jatidiriNya yang terkait dengan nama YHWH. Dengan kata lain, Ia perlu bahkan harus membacakan tetragramaton YHWH! Kenapa? Ya inilah yang paling sering dialpakan orang bahwa Yesus PASTI DENGAN SENGAJA memilih teks Yesaya tersebut DEMI meneguhkan jati-diriNya yang sejati, di kota Nazaret dimana Ia dibesarkan namun yang selama itu hanya dikenal sebagai “anaknya Yusuf si tukang kayu”. Kali inilah Dia perlu menyatakan sisi keaslian jatidiriNya yang lain, Yang Diurapi & Yang Diutus oleh Roh YHWH!

Lihatlah betapa Yesus mengkonfirmasikan status diriNya, segera sesudah Ia membacakan semua nas profetik itu, lalu berkata: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran… lalu kata mereka: “Bukankah Ia ini anak Yusuf?”
Membenarkan apa? Ya dengan terheran-heran mereka mulai melihat Yesus dengan perspektif yang lain samasekali, lalu membenarkan diri Yesus dalam konotasi baru YESHUA (dalam bahasa lokal Aram yang dikenal bermakna YHWH Yang Menyelamatkan), yang diperhadapkan secara terheran-heran dengan anak Yusuf si tukang kayu! Yesus menegaskan bahwa pada hari itu tergenapilah keseluruhan teks nubuatan yang dibacakanNya di Kitab Yesaya 61:1-2. Dan itulah Yesus, Dia sosok yang diurapi dan diutus khusus oleh Tuhan YHWH dengan misi  kemesiasan yang penuh demi untuk membebaskan umat yang tertindas dan penyampaian tahun rahmat YHWH (harap baca-banding secara paralel teks Lukas 4:18-19 dengan aslinya di Yesaya 61:1-2, dimana terjemahan LAI telah menggantikan keaslian nama YHWH menjadi TUHAN dan ALLAH, dua-duanya sekaligus).

KESIMPULAN: Sekali lagi, disinilah Yesus tepat, terbuka, sengaja dan dengan maksud yang jelas memilih teks ini dan menyuarakan JATIDIRINYA yang YEHOSHUA (YHWH Penyelamat, bukan sekedar anak Yusuf) yang diutus Tuhan YHWH dengan RohNya khusus untuk penyelamatan dan penyampaian tahun rahmat YHWH bagi umatNya. Itulah pendeklarasian peran & jatidiriNya dalam kaitan dengan YHWH. Adalah fallacy (eror logika) dari para skeptis YC ketika menyimpulkan sesuatu ATAS NAMA YESUS merupakan slogan yang menentang tujuan pokok kenapa Yesus memilih membaca nas Yesaya tersebut di sinagoga Nazaret!  Sangat absurd para YC secara kolektif sampai menslogankan bahwa Yesus tidak mempertahankan nama YHWH (?) padahal mereka tidak mampu menunjukkan bahwa Yesus PERNAH MEMBATALKAN pengucapan Nama Suci tersebut!

Logika yang lurus, Yesus pasti tahu – dan itulah yang dicariNya— keberadaan teks asli “tertragrammaton”nya dalam gulungan Kitab Yesaya itu. Tidak ada indikasi apapun bahwa perbendaharaan suci gulungan kitab asli Ibrani di sinagoga Nazaret sudah diganti dengan versi Yunani. Juga tidak ada isu apapun yang terjadi tentang pengucapan Nama Suci di Sinagoga. Sebab di rumah ibadat tidak ada larangan untuk mengucapkan Nama Suci. Lihat Mishnah Sotah 7:6, “Di tempat suci para imam mengucapkan nama Tuhan sebagaimana yang tertulis (YHWH). Tetapi diluar tempat suci, itu diucapkan dengan nama substitusi “Adonai”.

Tentu Yesus dan para muridNya tahu bahwa Nama Suci tidak selalu pantas disebut-sebut di luar sinagoga dimasa itu. Yesus juga tahu namaNya yang YESHUA itu melekat kepada nama diriNya YHWH. Sehari-hari Dia dipanggil “Yesus” secara umumnya, namun Dia tahu persis KAPAN namaNya dan kaitan YHWH-nya itu bisa dan harus dihadirkan secara kudus, yaitu di Rumah Tuhan itulah dan tidak ditempat umum sembarangan.
Tetapi YHWH ada di dalam bait-Nya yang kudus” (Hab. 2:20).
“Aku berbicara terus terang kepada dunia: Aku selalu mengajar di rumah-rumah ibadat dan di Bait Elohim, tempat semua orang Yahudi berkumpul; Aku tidak pernah berbicara sembunyi-sembunyi” (Yoh. 18:20).

Maka disitulah, di bait Nazaret, Yesus sebagai Rabbi/Imam Besar telah difasilitasi secara ilahiah untuk mengucapkan Nama SuciNya PERTAMA KALI – yang dikaitkan dengan diriNya– tanpa ada halangan siapapun! “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.”

Mitos “Lingua Franca” Sampai di Nazaret
Kitab (scroll) versi Yunani praktis tidak mungkin menjadi rujukan liturgis Yahudi di dalam Bait Suci di dusun Nazaret. Alasan kaum sloganis bahwa bahasa Yunani sudah menjadi “lingua franca” di Yerusalem dimasa itu hanya istilah pasaran praktis yang “grossly hyperbolic” (melebih-lebihkan) saja tanpa verifikasi dan kuantifikasi porsi dan batas-batas ukurannya. Yang pasti itu tidak otomatis melingua-francakan Galilea, dusun kecil Nazaret, yang sehari-harinya masyarakatnya berbahasa lokal Aram. Siapa pernah membuktikan lingua franca yang seberapa kental yang sudah merasuk ke daerah Galilea? Ini sama saja dengan menslogankan bahwa bahasa Inggris saat ini sudah menjadi lingua-franca di Jakarta, lalu menyimpulkan ada jemaat GKJ (Gereja Kristen Jawa) di  Wonosobo sana (misalnya) yang ibadah kebaktian rayanya dilakukan dalam bahasa Inggris.


Berapa % jemaat di Nazaret itu – dan bukan di Alexandria– yang sudah berbahasa Yunani dikala itu? Yang sudah siap menggantikan bahasa lokal Aram? Dan siap dalam upacara peribadatan Yudaisme diselenggarakan dalam bahasa lingua-franka itu? Yang ditengah-tengah khauvinisme Yahudi masih tetap memandang rendah bahasa penjajah? Yang masih terus membenci budaya Yunani khususnya dimasa penaklukan Anthiokhus IV, yang telah mencemari Yerusalem beserta rumah-rumah ibadatnya? Sampai-sampai memicu pemberontakan Makabe?…
Dan diatas semuanya itu, seberapa suksesnyakah helenisasi orang-orang Yahudi di tanah Yudea dan Galilea sedemikian sehingga bahkan seorang sangat terpelajar dan merupakan sejarawan terkenal Yahudi yang bernama Josephus bahkan berkata bahwa dia sendiri sangat sulit belajar bahasa tersebut, lalu memberikan kesaksian bahwa bahasa Yunani merupakan bahasa yang asing bagi orang-orang Yahudi? (Antiquities of the Jews, 20:11:1).

Dan saksikan betapa hal ini harus dilakukan oleh Yesus pada awal misi pelayananNya di Galilea, sebagaimana nantinya juga diakhir misi pelayananNya di Yerusalem, Yesus menutupnya dengan deklarasi yang sama bahwa Dialah I AM, EGO EIMI, kokoh di hadapan Mahkamah Agama (lihat dibawah).

Dengan demikian Yesus – dalam masa tekanan dan penindasan tradisi Yahudi kepadaNya– sungguh Dia masih dapat konsisten berkata  “Ya” diatas “ya”, dan “tidak” diatas “tidak”,  sebagaimana yang selalu diajarkan-Nya. Sebab bagi Yesus, yang datang dengan membawa nama BapaNya (Yoh.5:43, 17:12), menyeleweng sedikit saja dari Nama SuciNya itu—maka tentulah kata-kata itu datangnya bukan dari mulutNya, melainkan pasti dari bisikan si Iblis (Mat.5:37).

Yesus Mustahil Menolak Nama YHWH; Dia Justru MengkonfirmasikanNya!
Sesungguhnya telah diperlihatkan diatas dan terbukti bahwa Yesus sebagai Firman Elohim mutlak tahu tentang keberadaan Tetragrammaton, dan mustahil sengaja tidak mempertahankan, alias menyembunyikan atau menolak Nama Suci  tersebut. Lebih mustahil lagi bila Yesus sebaliknya yang memilih untuk MEMPERTAHANKAN & MENGGANTIKAN Nama Suci menjadi Kurios, Lord, TUHAN, ALLAH dst. Sudah dijelaskan bahwa Nama Suci bukan hanya berurusan dengan konstruksi ejaan abjad & kata, melainkan yang terpenting justru pengucapan dan makna nama tersebut. Dan Alkitab telah memperlihatkan benang merah kehadiran nama YHWH di PB dalam tiga cakupannya: ejaan kata, bunyi pelafalan, dan makna nama. Mari kita uraikan sejumlah ayat-ayat iluminatif berikut ini untuk disimpulkan oleh Anda-anda semua dalam terang Roh Kudus, dengan hati yang merendah:

  • FIRMAN TUHAN adalah FIRMAN YHWH yang tetap untuk selama-lamanya. Ini dinyatakan di PL maupun PB ,Yesaya 40:7-8 dan 1 Pet.1:25, yang telah dinarasikan oleh YESUS bagi diriNya sendiri:
    “Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, apabila YHWH menghembusnya dengan nafas-Nya. Sesungguhnyalah bangsa itu seperti rumput. Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Elohim kita tetap untuk selama-lamanya.” (Yesaya 40:7-8)

Ayat yang dahsyat dari YHWH telah diambil alih oleh Yesus dengan narasi yang sama dahsyatnya untuk menjadi milik kepunyaanNya sekaligus jatidiriNya:
“Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku (firman-Ku) tidak akan berlalu”
(Luk 21:33 ).
Firman Elohim
adalah Elohim (Yoh.1:1) yang hakekatNya adalah pula YHWH (Ul.6:4), yang berinkarnasi menjadi Yesus, sama tak berubah, kemarin, kini dan selamanya sebagaimana YHWH yang juga tidak berubah, karena “Aku, YHWH, tidak berubah” (Mal. 3:6 versus Yesus dalam Ibr. 13:8). Nyata sekali bahwa Yesus dan YHWH bersama-sama bersosok tak berubah dan berfirman kekal. Dengan kata lain, YESUS adalah wujud inkarnasi dari Firman Elohim yang adalah satu-satunya penyandang Firman YHWH yang berfirman kekal.

  • YESUS  (YAHSHUA, YESHUA, yang artinya “YHWH Menyelamatkan”,
    re: Matius 1:21,  yang telah disebutkan oleh Malaikat di dalam PB).
    Dalam Luk. 2:11,30, kembali nama YESUS dimaklumatkan lagi sebagai Mesias, JuruSelamat. Sebelumnya, Nama dan Titel ini sudah disebut pula dalam PL sebagai Juruselamat satu-satunya: “Aku, Akulah YHWH dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku” (Yes. 43:11).  

Inkarnasi Firman Elohim ke dunia adalah ANAK Elohim, yang dinamakan YESUS (Yeshua) dengan makna Ilahi sebagai YHWH Penyelamat, sesuai dengan misi yang disandangkanNya bersama  YHWH. Karena namaNya melekat sebagai YHWH Penyelamat, Yesus tidak memerlukan apapun lagi untuk membuktikan Ke-YHWH-an diriNya. Dia pasti mempertahankan nama YHWH yang toh selalu melekat dalam diriNya karena Ia (Anak) datang dalam nama BapaNya (Yoh. 5:43; 17:11) yang sekaligus diberi dan memiliki Nama yang Bapa miliki (Yoh.17:10, 11) dimana Bapa juga menyandang Nama Suci YHWH dan Penebus/Penyelamat (Yes.63:16).
Maka setiap kali nama “YESUS” disebutkan di PB, sekian kali itu pulalah bunyi dan nama YHWH itu dihadirkan. Dan secara keseluruhannya PB telah memuat lebih dari 900 penampilan Nama Suci Yesus!

  • I AM … (AKU ADA, YHWH), sudah dikumandangkan di PB secara sangat ‘viral’ sampai-sampai membuat risih kaum Yahudi dan Muslim. Klaim maha-dahsyat dari Yesus dalam Kitab Yohanes 8:58, “Before Abraham was, I AM”. Ditengah-tengah permusuhan dari para pemimpin agama, disinilah YESUS secara berani mengulangi apa yang YHWH ucapkan kepada Musa di Perjanjian Lama, “I AM THAT I AM” (Keluaran 3:14,15).
    “I AM” yang dulu diucapkan YHWH dihadapan Musa hingga 3 x itu bagi nama-diriNya, kini diklaim dan diucapkan Yesus bagi diriNya. Kata ini jangan dianggap biasa. Ini kata super ajaib, ini kalimat predikatif yang tanpa predikat! Ketika Yesus menggunakan konstruksi kata “I AM”, Dia berbicara dalam gaya ketuhanan yang berotoritas. Dan ketika Dia menjawab para prajurit yang mencari dan mau menangkapNya dengan berkata: “I AM He” (Akulah Dia), maka serta merta prajurit-prajurit itu terdorong mundur dan berjatuhan ke tanah (Yoh 18:6). 


Maka ketika Yesus berkata Dialah “I AM”, Dia pun hendak dirajam oleh orang-orang Yahudi yang menganggapnya sebagai penghujatan terhdap Nama Suci! Sayangnya betapapun viral dan gemanya ayat petir ini di telinga orang Yahudi, namun adakah mereka sampai sekarang bergeming atas klaim Yesus yang begitu menggetarkan? Tidak akan ada berdampak apapun selama kaum Yahudi tidak bersedia merendahkan hati untuk dilawat oleh Roh Kebenaran. Dan akan begitu jugakah gerangan telinga dan hati kaum YC yang tidak mau tahu bahwa “I Am” itulah konstruksi aksara yang theophanic, khusus dengan nama dan makna YHWH bagi Yesus, yang keluar berkali-kali dari mulut Yesus sendiri!

  • AKULAHI AM (atau EGO EIMI, asli Yunani dalam PB, teraksara preskriptif dalam Kitab Markus 14:62ff). Kembali pengakuan Yesus secara lantang preskriptif dihadapan Mahkamah Agama bahwa Dia itu “I AM”, “AKULAH”, yang mana membuat Mahkamah dan Imam Besar serentak mengetok palu (!) dan Yesus pun terbukti sah secara hukum sebagai penghujat Nama Suci YHWH. Harap ini disadari bahwa pengakuan Yesus di Mahkamah Agama ini (dengan akibat salib-kematian) adalah kesaksian nama YHWH dalam diri Yesus dengan bobot legalistik yang paling tinggi dari keseluruhan kesaksianNya akan diriNya! Jadi adakah Anda YC masih menuntut apa-apalagi yang lebih tinggi yang diharapkan bakal keluar dari mulut Yesus untuk mempertahankan nama YHWH?!

Highlight diatas memperlihatkan bagaimana Yesus sudah mengucapkan Nama Suci YHWH bagi jati diriNya yang bernama YESHUA (YHWH Yang Menyelamat), baik secara deskriptif maupun preskritif bahasa Yunani: EGO EIMI!  Dia bukan seperti yang diklaim pihak YC seolah tidak mempertahankan Nama Suci, melainkan Dia malah mengkonfirmasikannya dengan tegas: “I AM” dan “AKULAH YESHUA yang kauaniaya itu” (Kis.26:15, dalam bahasa Ibrani). Dan PB sudah mencatat nama Nya lebih dari 900 kali!  Kini, apabila kaum YC masih tidak mampu melihat YESUS sebagai penyandang gugus/kolektif nama YHWH, atau masih tidak menganggapNya mempertahankan keterkaitannya dengan nama YHWH, maka mereka layaknya hanyalah sepersekutuan dalam paham Yudaisme belaka, yang memang menolak keras Yesus sebagai Mesias yang SUDAH ADA sebelum Abraham ada! Namun jikalau Mahkamah Agama Yahudi sudah menghukum mati Yesus sebagai akibat bahwa Dia sudah terbukti SAH MENGUCAPKAN penghujatan nama YHWH, lalu kenapa Anda YC masih mengklaim bahwa Yesus TIDAK mempertahankan nama YHWH?

Membawa-bawa Nama Roh Kudus Untuk Pembuktian
Apabila kaum YC masih meyakini bahwa semua salinan manuskrip-manuskrip kuno yang diadopsikan kedalam PB adalah final dihasilkan dari pengilhaman Roh Kudus, dengan kata lain PB yang tanpa nama YHWH itu adalah final karya Roh Kudus, maka Anda-anda telah menyalahi Alkitab –Firman Elohim—atas nama Roh Kudus!! 
Terlalu sering kita mendengar pihak YC mengatasnamakan RohKudus atau malah memakai nama RohKudus itu untuk mengintimidasikan lawannya demi pembenaran argumentasi mereka disini. Ini beberapa statemen asli yang kita petikkan dari mereka yang membawa-bawa nama RohKudus:

“Semua salinan teks asli PB, tak ada sepotongpun yang memuat nama YHWH, semua menerjemahkannya menjadi “Kurios”. Apakah Rasul lalai sekalipun sudah diilhamkan? Bila ini diragukan, maka anda meragukan pengilhaman Alkitab oleh Roh Kudus.

“Saat PB mengutip dari PL, nama YHWH selalu diterjemahkan dengan istilah Yunani “kyrios” (Tuhan) dan tidak mempertahankan nama asli YHWH. Itu yang dilakukan para Rasul atas pimpinan Roh Kudus, dan kita mentaatinya tanpa masalah”.

“…tetapi dalam Septuaginta (LXX) yaitu PL bahasa Yunani dari tahun 280 SM, yang diikuti oleh para rasul di bawah ilham Roh Kudus, nama YHWH selalu diterjemahkan Kurios (Tuhan)”.

“Tidak Ada Dasar Mempertahankan Nama YHWH Karena Tidak Ditemukan Dalam Manuskrip Asli Perjanjian Baru”

[NB. Bahkan sampai ada pihak YC yang mencatut nama Roh Kudus dengan statemen pribadinya merujuk kepada Kis. 2:11: “Nama ‘A.l.l.a.h’ sudah ada di-Alkitab, dan ini sudah disahkan oleh Roh Kudus!” (re: Serial ke-2)].

Sedikit sedikit mendalilkan Roh Kudus hanya akan memberi kesan bahwa pihaknya kekurangan sumber daya untuk pembuktian yang absah meyakinkan.
Kosongnya kemunculan hurufiah YHWH di PB sebenarnya samasekali bukan ulah atau urusan Roh Kudus, bahkan juga bukan urusan para Rasul seperti yang di-salah-sangkakan atau dikaitkan oleh kaum YC. Itu merupakan ulah kalian sendiri yang salah membawa-bawakan urusan itu kepada Roh Kudus. Kita sudah perlihatkan bahwa tidak semua Nama Suci diterjemahkan sebagai “Kurios” di PB, melainkan ada pula nama EGO-EIMI (I Am) yang langsung merujuk kepada YHWH.
Maka hal-hal tersebut cukup untuk memperlihatkan bahwa manusia-manusialah yang salah “memfinal-absolutkan” pengilhaman Roh Kudus menurut “apa yang nampak” bagi mereka (Yoh. 7:24) dalam menilai ribuan manuskrip asli PB. Tak ada yang final disana sepanjang AUTOGRAF PB tidak ada ditangan Anda. Apa yang ada adalah campur tangan pengilhaman yang “necessary & sufficient finality” dari Roh (finalitas yang seperlu & secukupnya dalam izin Tuhan) yang menghasilkan salinan demi salinan tangan para Penyalin (Copyiest) terhadap manuskrip-manuskrip asli. Mereka bukan Roh Kudus, melainkan manusia biasa yang tidak terlepas dari keteledoran/kesalahan bahkan bisa-bisa melemah dibawah tekanan politik dan/atau tradisi keagamaan.


Kita bisa melihat sejumlah contoh salinan manuskrip yang belum final absolut seperti teks dalam ‘Doa Bapa Kami’ yang terkenal (Mat.6:9-13), dimana kalimat terakhir diberi tanda kurung, demi menandakan adanya perbedaan teks dari pelbagai sumber manuskrip yang shahih namun berbeda. Berbeda dalam jumlah, tarikh (usia kuno), kerusakan, keaslian dan berbagai unsur penentu yang super kompleks.
Lihat saja isu perdebatan panjang sejak abad ke-4 hingga sekarang mengenai ayat 1Yoh. 5:7-8 yang menyangkut “anak kalimat” kontroversial yang diistilahkan sebagai “Comma Johanneum”. https://id.wikipedia.org/wiki/Comma_Johanneum  Semuanya memperlihatkan urusan/ulah manusia dan ‘broken history’ yang tidak bisa otomatis dilabelkan secara umum sebagai hasil pengilhaman Roh.

Contoh teks ayat 1 Yohannes 5:7
Ini sangat kontroversial dalam kaitan dengan isu penyalinan teksnya sampai hari ini, karena terdapat 2 varian yang sangat berbeda namun sulit memilah final mana yang “diilhami oleh Roh Kudus”. Lihat perkembangan salinan teksnya dalam 3 versi terjemahan LAI: TL (1958), TB (1974), dan BIS (1985):

TL. 1 Yoh 5:7 Karena tiga yang menjadi saksi di surga, yaitu Bapa dan Firman dan Rohulkudus, maka ketiga-Nya itu menjadi Satu;

TL. 1 Yoh 5:8 dan ada tiga menjadi saksi di bumi, yaitu Roh dan air dan darah, maka ketiganya itu menjadi satu tujuan.

TB. 1 Yoh 5:7 Sebab ada tiga yang memberi kesaksian

(di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu.
TB. 1 Yoh 5:8  Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi):
Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu.

BIS. 1 Yoh 5:7 Ada tiga saksi:

BIS. 1 Yoh 5:8 Roh Allah, air dan darah — ketiga-tiganya memberikan kesaksian yang sama.

NB. Saat ini para sarjana memang cenderung beranggapan bahwa koleksi manuskrip-manuskrip kuno Yunani untuk PB itulah yang paling luas, terpelihara, dan benar. Dan bahwa “anak kalimat Comma” (dalam tanda kurung huruf merah) itu tidak merupakan teks otentik melainkan teks tambahan hasil catatan pinggiran (papyrus) yang secara tak disengaja (atau sengaja?) disisipkan oleh Copyiest ke dalam teks dan akhirnya menjadi satu dengan body texts, yang mana mempertegas kesesuaiannya dengan doktrin Trinitas secara langsung.

Namun pendapat modern ini belum final. Masih terbuka kemungkinan bahwa ayat yang lengkap dengan Comma itu adalah asli dan benar. Soalnya keaslian adanya Comma justru banyak disaksikan oleh para bapak-bapak Gereja awal yang menyaksikan keberadaan Comma tsb. Baik Greek Fathers maupun Latin Fathers.
Greek Fathers seperti Athanasius (296-373, quoted in Disputatio Contra Arium), Origen (184-253, in Selecta in Psalmos), Gregory of Nazianzus (329-390) in Oration 45). Dan Latin Fathersseperti Tertullian (155-245), Cyprian (285), Priscillian (380) dll. [Ini banyak dibantah, tetapi bantahan-balik juga banyak].
Begitu juga Konsili Kartago (419), manuskrip tua dari Vestus Latina (Old Latins)  dan Vulgata versi Jerome, codex Frisingensis (abad 6-7) dll juga merupakan naskah-naskah kuno yang tercatat mengucapkan Comma. Tentu ini banyak dibantah, tetapi mereka juga membantah balik, yang menjadikan kasus ini akhirnya tergantung kepada keyakinan tiap aliran gereja.

Dan bagaimana kasus Erasmus yang menerbitkan Textus Receptus edisi ke-3 (tahun 1524 M) dengan memasukkan Comma, sesudah  dalam 2 edisi sebelumnya tak dimasukkan Comma didalamnya? Ini tentu menjadi tantangan yang besar bagi kaum YC tentang manakah manuskrip Yunani PB yang diilhami Roh Kudus dan mana yang bukan (??). 

BUT, A BIG BUT, PUJI SYUKUR KEPADA ROH KUDUS, bahwa dengan atau tanpa tambahan Comma itupun doktrin Trinitas juga tidak terganggu, karena PL dan PB telah mengusung banyak konsep-konsep ketrinitasan yang valid  kedalam ayat-ayat Alkitab. Dan itu sudah cukup dan perlu untuk memperlihatkan betapa pemeliharaan RohKudus sempurna ditengah-tengah pertikaian manusia karena kemanusiaannya!

Roh Kudus jangan sekali-kali dipakai dengan cara yang salah oleh manusia yang mengataskanNya, apalagi untuk syahwat menang berdebat! Tetapi syukurilah Dia yang tetap turut bekerja dalam segala sesuatu (Rm. 8:28), sehingga meskipun ada perbedaan teks manuskrip yang terjadi namun Alkitab tetap benar untuk berita dan pesan FirmanNya dan tidak ada doktrin yang terubahkan. Ini yang kita sebut pengilhaman yang necessary & sufficient (seperlu & secukupnya), (re Yoh.20:30-31), namun bukan dikte Roh Kudus yang absolut seperti yang dipahami pendebat YC yang mengatas namakan Dia.


Sebaliknya, khusua untuk ranah privatnya YHWH, yaitu namaNya yang ajaib, sekalipun peran Roh Kudus tetaplah sama, namun banyak ayat-ayat lain yang telah dibukakanNya SEBELUMNYA, dan mengikat seterusnya secara absolut. Dengan cara inilah para penyiasat hanya bisa berulah BELAKANGAN secara relatif, dan apa yang relatif dari manusia mustahil dapat meniadakan yang absolut.  Roh Kebenaran  telah memperlihatkan kebenaran dan kedaulatan yang final dan sepenuhnya (fully insightful), tidak peduli manusia mau bersikap bagaimana!  Disinilah, masalah yang sudah kita bicarakan —bahwa petikan berulang-ulang ayat-ayat ASLI dari PL yang jelas ada nama “YHWH” namun manusialah yang menggantikannya menjadi “Tuhan” di PB, oleh sejumlah penulis/penyalin – dan bukan oleh Roh Kudus atau Yesus.
Bahkan sekalipun anda menyangka dan mengklaim bahwa Yesus dan para Rasul tidak menyebut Nama Suci itu, lalu adakah mereka MEMBATALKAN penyebutanNya? Dan bagaimana nasib nama YHWH yang Agung ini yang kehadiran dan penyebutanNya HARUS kekal dan turun temurun untuk seluruh generasi? Bisakah Anda menafikanNya sebegitu naifnya? Bukankah Anda menentang kaidah Anda sendiri untuk PB terhadap PL?


Pertanyaan kepada para YC: Urgensi dan obsesi apakah dari Tuhan YHWH –bukan dari kalian – sehingga NamaNya harus disiasati? Apakah keputusan ini berarti Roh Kudus-lah yang mengesahkannya? Bagaimana Anda mengartikan “kesempurnaan pengilhaman Roh Kudus” yang dikaitkan dengan fakta “ketidak- sempurnaan tekstual salinan manuskrip-manuskrip PB yang kalian sodorkan”?

Padahal YHWH sudah wanti-wanti memperingatkan akan finalitas mutlak dari namaNya di PL : “YHWH…This is my name forever, the name you shall call me from generation to generation” (Kel. 3:15). Dan juga Yesus memberikan finalitas yang sama:

“Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi” (Mat. 5:18). Dan hukum Taurat itu justru utamanya termasuk hukum tentang Nama SuciNya yang kudus dalam Dasa Titah di Kel. 20, Hukum Kasih di Ul. 6:4-5 dan lainnya.

Dan Yesus telah berkata kepada semua orang: I AM! Termasuk kepada para murid. Dan khusus kepada Paulus yang tidak pernah ikut bersama Yesus, tetaplah Yesus berseru kepada Saulus: “Akulah YESHUA (YAH SHUA) yang kauaniaya itu”. Ini diucapkan Yesus dalam dialek Ibrani (Kis. 26:14, 15) yang mana pasti menjadikan Saulus (Paulus) tersadar dalam perenungan pertobatannya bahwa nama tersebut sunguh-sungguh adalah “YHWH-Penyelamat” sesuai dengan maknanya dalam bahasa Ibrani yang sangat dipahami seorang Paulus!
Maka nama YHWH sungguh SUDAH DIPERTAHANKAN oleh Yesus dan kepada para Rasul dan semua orang di PB.

KESIMPULAN:

*Kaum YC yang membenarkan penggantian Nama Suci dengan dalil-dalil Roh Kudus ternyata tidak membenarkan apapun, kecuali Roh Kudus turut bekerja secara ilahiah untuk mengamankan kebenaran firmanNya yang “necessary & sufficient” diatas jejak-jejak kekurangan dan kesalahan manusia yang ditinggalkannya.

*Bahkan dalam pendalilan YC yang berkata: “Tidak Ada Dasar Mempertahankan Nama YHWH Karena Tidak Ditemukan Dalam Manuskrip Asli Perjanjian Baru”, Kaum YC ini justru telah menunjukkan dasar argumen yang rapuh, karena mereka hanya menyampaikan klaim kosong “tidak ditemukan” (oleh mata manusia), namun tidak menyinggung dan membuktikan secara paralel apakah di PB, Yesus memang pernah MEMBATALKAN nama YHWH? Padahal sebaliknya yang Yesus katakan, yaitu bahwa satu IOTA-pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat (yang mencantumkan nama YHWH secara berlimpah).
*Mendasari ribuan-ribuan Manuskrip Kuno itu bagus, tetapi akan konyol bila itu saja yang dipakai untuk menyimpulkan ranah privat nama Tuhan yang ajaib. Anda lupa bahwa pewahyuan tetap bisa dibukakan kebenarannya secara bertahap lewat iluminasi Roh Kebenaran atas firmanNya yang HIDUP, bukan mati dalam kekunoan manuskrip!

*Kaum YC ini juga tidak sadar bahwa statemen-nya justru mengekspose kontradiksi PL dengan PB dengan melemparkan dua ”fakta keras” yang saling bertentangan, namun tidak merasa bertanggung jawab atas eksposisinya, seolah berkata: “Kami tak ambil pusing bahwa PL telah memuat 6 ribuan nama YHWH; yang penting PB memuat 0-kali nama YHWH, dan itu adalah pengilhaman Roh Kudus. TITIK”. Padahal Alkitab justru merupakan keseluruhan Firman Elohim yang koheren dan konsisten, menguntai dari PL ke PB – tanpa ada link yang kontradiktif mati—dari Kitab Kejadian hingga Kitab Wahyu. Masakan Tuhan Kristiani hanya punya nama sebelum tahun Masehi (di PL), namun mendadak tidak punya nama lagi sejak Yesus muncul? Dan andaikata Nama itu hilang, masakan tak ada alasan apapun dari Yesus untuk kehilangan yang sebegitu penting itu?

Tetapi Yesus sudah bertanya: “Who do you say that I am?” (Mat. 16:15)
Dan Yesus pula yang sudah jelas & tegas menjawabnya akan ke-YHWH-anNya:
I am that I AM”!
Bahkan Yesus akan mengulanginya lagi:
Aku telah memberitahukan nama-Mu (Bapa) kepada mereka dan
Aku akan memberitahukannya… “ (Yoh.17:26)

 “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar! “ (Matius 11:15).
“Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan
Roh kepada jemaat-jemaat”
(Why.2:7, 11, 17, 29;  3:6, 13, 22 dll).

TUNTUTAN YHWH-CHANGER AKAN “TANDA”

Kita semua percaya Tuhan kita bukan Tuhan yang ingin mengacaukan namaNya yang sebegitu penting itu bagi manusia untuk menyerukanNya, menyembahNya. Maka jikalau benar nama yang “Kudus, Kekal, Dahsyat” yang sudah digaungkan 6000-an kali itu di PL  tiba-tiba dikosongkan oleh Dia sendiri sebegitu Yesus lahir, maka kenapakah, MENGAPA itu dilakukanNya tanpa alasan dan pemberitaan apapun di Alkitab? Sehingga terjadi satu gap dan inkosistensi PL-PB yang tak terjangkau? Atau apakah manusia yang mengosongkannya? Dan apakah ini mampu dilakukannya tanpa izin restu dari Dia yang empunya nama?
Tidak sulit untuk menjawabnya. Bahwa bilamana Tuhan yang melakukannya, pastilah Dia memberi tahukan alasan atau keteranganNya kepada umatNya.

Dan bilamana ada manusia yang melakukannya, mereka tidak akan berhasil, dan Tuhan pasti mempertanyakan atas otoritas siapa mereka lancang melakukanNya?

Syukurlah bukan kedua kemungkinan naif tersebut. Lihat betapa Yesus sudah menegur beberapa pihak yang bertanya konyol ataupun yang tidak tahu apa yang SEHARUSNYA MEREKA TAHU, karena sudah sangat nyata (obvious):

(1).  Filipus sepertinya telah bertanya “pintar” kepada Yesus, tetapi berhati-hatilah menilai, sebab bagi Yesus itu adalah sebuah pertanyaan konyol:

“Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.”

Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami” (Yoh.14:8,9).

(2). Yesus berkata kepada orang banyak (awas, bukan hanya kepada para murid):
“Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata:
Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi.

Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?

Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar? (Lukas 12:54-57)

Jadi, jikalau sampai tidak disinggung oleh Yesus sedikitpun tentang sesuatu yang teramat sangat penting seperti halnya dengan keberadaan nama YHWH di PB, itu bukan artinya hilang tanpa sebab dan alasan, melainkan  hanya bisa berarti satu. Yaitu bahwa  anak-anak Tuhan sudah SEHARUSNYA MENGENAL ITU OBVIOUSLY, seperti halnya dengan Filipus yang sudah begitu lama ikut jadi murid Yesus!
Atau bahkan SUDAH HARUS TAHU “menilai zaman ini” (bukan saja menilai rupa bumi & langit), lewat hikmat dan akal budi yang sudah Tuhan berikan kepada anak-anakNya,  karena “tanda-tanda” tersebut sudah dibuka secara kasat mata bagi akal sehat umatNya! Sedemikian sehingga kita-kita diharapkan oleh Yesus untuk MEMUTUSKAN SENDIRI APA YANG BENAR!

Namun nyatanya kita masih menuntut tanda & pernyataan Yesus yang lebih eksplisit preskriptif, persis seperti para Farisi dan Saduki yang minta tanda tambahan kepada Yesus walau TANDA sudah diperlihatkan Yesus setiap saat. Maka Yesus menampik permintaan dari angkatan yang jahat ini – dengan merujuk kembali kepada tanda-tanda zaman — sembari melengos pergi
(Mat 16:3-4).

Itulah ranah keajaiban namaNya yang teramat privat  dan transendental, namun yang akan dikenal baik dan memuaskan pencahariannya apabila anak-anakNya menghampiriNya dengan hati yang polos dan terbuka.
Ingat akan contoh Manoah (ayah Simson) yang terbuka hatinya, akirnya dia otomatis tahu siapa SANG DIA lewat pencerahan Roh.

 (17) Kemudian berkatalah Manoah kepada Malaikat YHWH itu: “Siapakah nama-Mu, sebab apabila terjadi yang Kaukatakan itu, maka kami hendak memuliakan Engkau.” (18)  Tetapi jawab malaikat YHWH itu kepadanya: “Mengapa engkau juga menanyakan nama-Ku? Bukankah nama itu ajaib?” …… (21) Sejak itu Malaikat YHWH tidak lagi menampakkan diri kepada Manoah dan isterinya. Maka tahulah Manoah, bahwa Dia itu Malaikat YHWH. (Hak 13:17-21).

KABAR BAIK UNTUK SEMUA: MASAKAN TUHAN PUNYA NAMA-BESAR YHWH DI PL DISEPANJANG 4000 TAHUN, TETAPI TIDAK PUNYA NAMA DI PB?

Perdebatan-perdebatan seru tentang nama Tuhan tiada habis-habisnya terjadi sejak belasan tahun yang lalu di Indonesia, walau dimulai dengan kata sambutan Panitia Debat yang baik dan doa bersama dalam kasih Tuhan. Namun nyatanya praktis dilakukan dengan perdebatan yang kasar, saling membully dan membenci.
Perseteruan yang kontra produktif dan memalukan seperti itu harus kita akhiri.

Masalahnya adalah, masing-masing pihak berebut bicara dan kurang mau belajar mendengar. Juga terlalu karatan terbalut dalam paradigma masing-masing, dan sering tusukan perdebatan keluar dari relevansi isu pokok itu sendiri, sadar atau tanpa sadar.

Kaum YC memamerkan ketiadaan nama YHWH diseluruh manuskrip asli PB. Tapi oleh kaum Yahweist ini diejek sebagai bukti penyalinan naskah-naskah yang sudah terkorupsi oleh Scribe dan Copyiest dibawah pengaruh bapak-bapak gereja dan kerajaan Romawi yang memang ingin mengikis Yudaisme dengan simbol-simbol keyahudiannya, termasuk manuskrip atau Kitab PB Ibrani.

Kini marilah kita bersaat teduh dan berdamai atas isu yang sebenarnya bukan benar-benar isu doktrinal. Soalnya nama YHWH itu tidak pernah hilang sebagaimana yang sudah dibeberkan diatas. Masakan Tuhan PL punya nama, tetapi Tuhan PB kehilangan namaNya? Tentu tidak hilang dalam arti sebagaimana yang telah dipersepsikan disepanjang setiap perdebatan. Apa yang aneh terjadi adalah terletak pada nama itu sendiri, yang disebut oleh Sang Pemilik Nama sendiri sebagai AJAIB, BEYOND UNDERSTANDING (NIV. Hak. 13:18).

Nama YHWH: Apakah Itu? Kenapa Sepertinya Hilang di PB?
Para teolog dan ilmuwan disepanjang zaman telah menyelidiki dan menggeluti nama yang super ajaib itu. Kita tidak akan masuk dalam aspek-aspek teknis yang pelik dan yang telah banyak dipublikasikan dan diperselisihkan. Kita disini justru mau memberikan satu perspektif baru demi mensinkronisasikan dan merasionalkan namaNya yang ada di PL dengan yang ada di PB. Dikatakan “perspektif baru” karena disini kita merasional & mensinkronkan keduanya,
PL dan PB, dengan keharusan untuk melibatkan keberadaan YHWH yang Tritunggal. Karena seperti yang sudah kita perlihatkan, Sosok (yang Tritunggal) dan Nama Tuhan tidak boleh dipisah-pisahkan…


Perhatikan kenapa nama pribadi YHWH hanya muncul di PL secara berlimpah. Itu adalah nama dari kekal hingga kekal. Tetapi di PB praktis tak ada nama pribadi di PB, kecuali Yesus yang karena kemanusiaanNya memang harus punya nama sejak inkarnasiNya ke dalam dunia. Namun secara umum nama ilahi yang disebutkan hanyalah panggilan sebagai BAPA, ANAK, dan ROH KUDUS saja. Sejak saat inkarnasi inilah Elohim (di PB) semakin dinyatakan dalam ketiga pribadi ilahiNya yang berbeda! Elohim yang mana? Tentu saja Elohim yang sama dengan yang di PL  yang bernama YHWH:
“Dengarlah, hai orang Israel: YHWH itu Elohim kita, YHWH itu esa!” (Ul. 6:4).

“YHWH, Dialah Elohim! YHWH, Dialah Elohim!” (1Raj. 18:39).

Kita semua sadar bahwa di PL nama-diri (pronoun) YHWH dan sebutan (gelar) ELOHIM sering dipertukarkan penggunaanNya tergantung pada signifikansi dan konteksnya, namun tidak pernah dibedakan apapun dalam hakekat dan jatitidiriNya. Tidak perlu diperdebatkan beda Hipotesis Dokumen & Kritik Tekstual, kita cukup dengan akal sehat menyaksikan di Kitab Kejadian pasal 2 dan 3 terjadi penggabungan kedua nama tersebut sebagai YHWH Elohim.
Bahkan dalam dua ayat yang berturutan juga terjadi pertukaran nama keduanya:

“YHWH memperhatikan Sara, seperti yang difirmankan-Nya,
dan YHWH melakukan kepada Sara seperti yang dijanjikan-Nya.

Maka mengandunglah Sara, lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki
bagi Abraham dalam masa tuanya, pada waktu yang telah ditetapkan, sesuai dengan firman ELOHIM kepadanya”
(Kej.21:1-2).

Jelaslah bahwa Tuhan YHWH di PL adalah nama bagi ELOHIM yang sama di PB, namun yang kini men-tabirkan nama YHWH-Nya sejak inkarnasi demi siap untuk menyatakan wujud ketritunggalanNya menjadi lebih nyata. Disinilah ditampilkan Anak (dan Roh Kudus) diutus oleh Bapa untuk turun menjadi manusia YESUS (Yoh. 8:42, 15:26, 14:26). Dan sebutan-sebutan Bapa—Anak—Roh Kudus itulah yang dipakai oleh Elohim untuk karya misiNya di dunia sesuai dengan peranNya dan ciri PribadiNya masing-masing. Dan sejak inkarnasi itulah nama tunggal YHWH tidak disebutkan lagi dari mulutNya, melainkan secara AJAIB namun konsisten berganti nama jadi sebutan bagi setiap Pribadi dalam peran & statusNya sebagai: Bapa, Anak/Firman/Yesus, Roh Kudus.

Sosok Bapa hanya dipanggil Bapa.
Sosok Anak dipanggil juga Firman (Why. 19:13, Yoh. 1:1, 14, Mat.3:7), dan populernya YESUS. Namun Roh Kudus mempunyai lebih banyak lagi sebutan/panggilan. Seperti Roh Elohim, Roh Kebijaksanaan (Ul. 34:9), Roh Kasih Karunia (Ibr. 10:29), Roh Kebenaran (Yoh.14:17), Roh Penghibur (Yo.ps.16), Roh Pewahyu (Ef.1:17, 18), bahkan Roh Anak (Gal. 4:6, Rom. 8:15), Roh Kristus (Rom. 8:9) dll. NAMUN semuanya merujuk kepada dan adalah satu Roh Kudus yang sama… Itulah ajaibnya ranah privat Tuhan Tritunggal yang nama Pribadinya sendiri juga dinamakan dalam beberapa panggilan, namun semuanya menyatu.

Begitu pulalah yang terjadi pada nama YHWH yang dasarnya adalah juga terdiri pelbagai varian Nama Pribadi yang semuanya tercakup dalam SATU WADAH NAMA YHWH yang dapat diibaratkan sebagai Nama Keluarga YHWH, yang diattribusikan kepada ketiga Pribadi Tuhan Trinitas.

Selama ini kita umumnya hanya melihat Trinitarian dalam sosok diriNya, namun kurang melihat nama-nama PribadiNya dalam kesatuan Sosok TrinitasNya.   Nah, Tetragrammaton itu memang satu kata misterius, yang Ajaib (Hak. 13:18), dan atas dasar Ajaib itulah kita – dalam keterbatasan pemahaman manusia—tidak boleh menutup mata terhadap keberadaan keempat huruf tersebut yang lebih tepat berupa SATU WADAH, ketimbang satu kata. Wadah yang menempatkan satu gugus ejaan Ibrani yang theophanic, EHYEH ASHER EHYEH yang berarti
“I AM THAT I AM”. Dan itulah serangkaian gugus kata-kata (bukan satu) yang sudah didiktekan oleh Tuhan kepada Musa. Kita dapat menyaksikan gugusan kata atau nama kolektif dalam tiga penyebutan Tuhan sendiri dalam Keluaran 3:14-15. KetigaNya sama ajaib dan sama ilahi, dalam kesatuan YHWH, sbb:

I AM THAT I AM (Ehyeh Asher Ehyeh) …..           (ayat 14a)
I AM  (Ehyeh)     …………….                                  (ayat 14b)
YHWH    …………                                                    (ayat 15)


Mirip dengan gugus kata di PL, kini di PB pun Elohim Tritunggal melengkapi NamaNya (BUKAN MENGGANTIKANNYA) dengan nama-nama Pribadi baru yang sama valid dan berotoritasnya, kedalam lingkup WADAH NAMA YHWH yang kekal turun-temurun, yaitu:

BAPA (Bapa YHWH, Adonai YHWH) …. Yes. 63:16 & Yoh. 17:10, 11, Kel. 23:17 & Yes. 48:16, Mat.3:7, dll.
ANAK (Anak YHWH) ….. Maz. 2:7, Dan.7:13 & Mat.26:64b; Yoh. 1:1, Mat.28:19
YESUS (Yeshua) ….. Kis. 26:14, 15 & Mat.1:2 &  Luk. 2:11,30 &
Yes. 43:1, 63:16; 5:43.
FIRMAN (Firman YHWH)…  Yes. 40:7-8 & Luk.21:33 & 1Pet. 1:25; Why. 19:13 & Yoh. 1:1;  Mal. 3:6 & Ibr.13:8; Mzm.56:11.
I AM (Ehyeh) ….. Kel. 3:14 & Yoh. 8:58 & Mak. 14:62
ROH KUDUS (Roh YHWH) …. Kej.6:3; Yes. 61:1 & Luk.4:18, 19; Yoh.15:26; Mat.28:19 dll.

Ini memperlihatkan betapa ajaib dan sorgawinya nama YHWH itu – yang dalam pemahaman kita yang terbatas & tidak sempurna—mirip sebagai NAMA INDUK atau nama KELUARGA ILAHI bagi setiap Pribadi ketrinitasanNya.
Di dalam PL pra-inkarnasi, Elohim yang Satu – saat yang belum terlalu tampak dan masih tersembunyi wujud ketiga PribadiNya — itu selalu bernama YHWH sebagai nama Keluarga Ilahi di PL. Dan barulah dalam inkarnasiNya (di PB), Dia menyingkapkan tiap-tiap pribadiNya sebagai Bapa, Firman/Anak (Yesus), dan Roh Kudus.

YHWH di PL adalah Nama-Keluarga dari Tri-Pribadi-Ilahi yang menyatu-serempak. Dialah Sang ADA yang unik, kekal, kudus, dahsyat, transcendent, solemn, namun covenant, kasih tiada terjangkau. Dan dalam kolektifitas pribadi jamak yang manunggal, YHWH saling berinteraksi sesamaNya secara intern-relasional dengan istilah kesatuan intim ‘Kita’ atau ‘Kami’ (Kej. 1:26, 11;7) antara Bapa-Anak-Roh Kudus, yang saling berfirman, mengasihi, saling memuliakan sejak sebelum alam semesta diciptakan. Dalam keberadaanNya yang operatif sebagai YHWH, Dia selalu Se-Ada, Se-Hati, Se-Ia, Se-Kata, Se-Aksi antar pribadi Bapa-Anak-RohKudus yang menyatu SEREMPAK (UNISON).

Sebaliknya, sesudah siap Grand Design & Salvation-PlanNya, sebegitu inkarnasi, Dia tidak lagi menampakkan nama YHWH yang unison serempak. YHWH kini tertabir dibalik Misi Keselamatan-Nya yang TIDAK LAGI diperankan dalam nama YHWH, melainkan oleh setiap Pribadi YHWH (yang non-serempak) dimana Bapa mengutus Anak/Firman bersama dengan RohKudus ke dalam dunia, hingga kepada Hari PenghakimanNya.

Grand Design YHWH yang universal itu mengharuskan OUSIA DiriNya (Esensi KeilahianNya) berkarya dalam HYPOSTASIS kesatuan pribadi BAPA, ANAK dan ROH KUDUS, dimana Bapa mengasihi dan menyelamatkan umat melalui Anak oleh Roh Kudus.

Dan Triunity-Unison-God (Elohim Yang Serentak) YHWH dalam relasional dengan umat ciptaanNya, kini menjadi nyata dalam Pribadi-pribadiNya, dimana:
BAPA, yang adalah God for us, Abba YHWH atau Adonai YHWH.

ANAK, yang adalah God with us , Firman YHWH
ROH Kudus, yang adalah God in us, Roh YHWH.


Itulah keunikan kesatuan penamaan kolektif (dalam gugus  Wadah YHWH)
yang Tuhan kenakan kepada essensi-jati diriNya yang adalah “I Am that I Am” namun yang tak terjangkau selain hanya dicoba diilustrasikan sbb,

Ilustrasi Tuhan Trinitas yang orthodoks (kotak segi-4) tidak mencantumkan nama YHWH. Ini semata-mata akibat penjabaran dari PB Yunani yang selama ini memang tak mengenal kata itu secara aksarawi.
Namun Trinitas bukan hanya urusan PB, melainkan HARUS sama pula hakekatNya di PL dan kapanpun & dimanapun YHWH selalu membawa NamaNya yang kekal dan satu-satunya (Zak.14:9, Yes.40:28, 42:8). Yesus berkata tentang nama yang satu-satuNya itu:

“Yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku…

“dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka
dan Aku akan memberitahukannya” (Yoh 17:11, 26).

Maka ilustrasi ketrinitasan yang realistis kini perlu dilukiskan dengan memunculkan kembali namaNya yang seolah “sempat terhilang” padahal hanya tertabir dalam Nama Keluarga sepanjang Misi Keselamatan dari ketiga Pribadi YHWH. Maka satupun dari NamaNya tidak hilang, tidak juga pergi entah kemana! Melainkan dapat diperlihatkan sebagai Wadah-Semesta (universe-holder) Nama Keluarga YHWH, demi mencakup banyak nama-nama Ke-YHWH-an dari ketiga pribadiNya, sebagai wujud nama bagi Triune Unison God.

IMPLIKASI INKARNASI TUHAN BAGI KITA SEMUA
Inkarnasi Tuhan jelas merupakan penggenapan Rencana Keselamatan Tuhan yang universal  bagi seluruh umat manusia.  Namun inkarnasi ini juga adalah jembatan penghubung satu-satunya antara PL dan PB demi pengenalan akan rancangan dan kehendak hati Tuhan. Konten PL merujuk kepada nubuatan akan kedatangan dan misi Sang Mesias, Anak Elohim yang Mahatinggi. Dan konten PB adalah menggenapi apa yang telah dinubuatkan oleh PL sepenuhnya. Tidak ada satupun konten bahkan se-iota-pun dari PL yang hilang, apalagi NamaNya.
Maka marilah kita bersama, dengan rendah hati dan takut akan Tuhan, untuk mengembalikan Nama Kudus YHWH kedalam AlkitabNya menurut namaNya yang asli.
Kenapa Anda manusia berani mengganti nama suci YHWH?
Lalu bersuka mengubahNya menjadi TUHAN, bahkan dengan kata ALLAH (nama yang tidak berharga bagi Kekristenan, Re: Serial ke-3 & 4, juga Mzm 95:6)? Kenapa Anda diam-diam agak ALERGI dan tidak pernah membanggakan Nama Kudus nan Dahsyat tersebut, melainkan cuma berpura-pura mengatakan bahwa Anda “tak bermasalah dengan nama tersebut”? Bagaimana otoritasnya seseorang yang menggantikan nama bapaknya sendiri, lalu apalagi nama Tuhan? Apakah Anda tidak merasa bahwa penggantian dan penghilangan Nama Tuhan yang ilegal itu merupakan sikap kebencian terhadapNya, dibawah sadar Anda?
Apakah untungnya bagi anda sehingga harus menggantikan nama itu? Atau sebaliknya apakah kesalahan dan kerugian yang prinsipil sehingga anda menolak untuk memuliakanNya dengan terbuka, penuh hormat, dan penuh adab-persekutuan umat? Lihatlah betapa nama YHWH sudah diagungkan umat Tuhan di zaman dahulu, bukan hanya sekedar dalam tatakrama rohani seumpama saling bersalaman (scripural greetings), atau dalam kasus bersumpah saja, melainkan dalam seluruh kehidupan kesehariannya (!): “Ancient Hebrew letters found at Lachish illustrate the usage of Yahweh in daily life. It is employed not only in greetings and in oaths, but throughout the entire letter. Elohim never appears” (Josh McDowell, Evidence, Vol.2, p.124).

Malaikat YHWH menampakkan diri kepadanya (Gideon) dan berfirman kepadanya, demikian: “YHWH menyertai engkau, ya pahlawan yang
gagah berani.”
(Hak. 6:12).

“…sehingga orang-orang yang lewat  (the passers by) tidak berkata:
“Berkat YHWH atas kamu! Kami memberkati kamu dalam nama YHWH!”
(Maz. 129:8).

Ia (Boas) berkata kepada penyabit-penyabit itu: “YHWH kiranya menyertai kamu.” Jawab mereka kepadanya: “YHWH kiranya memberkati tuan!” (Ruth. 2:4).

Sebaliknya untuk kaum Yahweist, kenapa Anda-anda harus memaksakan nama YHWH HARUS ADA aksaranya tertulis preskriptif di PB?  Sampai-sampai memastikan apa yang belum pasti tentang harus adanya Kitab Injil versi Ibrani yang asli yang ada aksara Y.H.W.H atau nama “YAHWEH”?
Tidakkah kita belajar – dari 25 kata dalam Comma Johanneum— bahwa tanpa 4 huruf Tetragrammaton itupun, maka nama YHWH dalam gugusNya juga sudah tampil dan tersebut setiap kali Anda membaca kata “YESUS”, Yahshua, di PB. Dan itu sudah disebutkan Nama SuciNya hampir 1.000 kali di PB, dengan atau tanpa pengakuan Anda !
Tidakkah Yesus betul-betul telah teridentifikasi sepenuhnya – oleh sarjana Alkitab manapun, termasuk Anda—sebagai memiliki segala attribut dan hak prerogatif dari YHWH?! (Yoh.17:10). Dan kenapa Anda mengutuki pihak lain yang tidak memakai Nama Suci itu sebagai sesat, dan juga menganggap tidak sah doa atau baptisannya yang tanpa menggunakan nama YHWH? Malahan gara-gara tidak mengenal akan konsep Nama Keluarga YHWH, lalu bersikap ekstrem begitu rupa sehingga men-simplifikasikan “Bapa-Anak-Roh Kudus” hanyalah multiple-  manifestasi dari YHWH yang satu Pribadi mutlak?? Dengan kata lain Anda masuk kembali kedalam Unitarian di-jaman dulu yang Anti-Trinitas? Padahal kendala penafsiran “multiple-manifestasi” itu dapat diselaraskan secara lurus lewat konsep gugus “Keluarga Ilahi” dengan nama YHWH yang murni Alkitabiah bagi ketiga PribadiNya yang menyatu dalam Elohim Tritunggal.

Marilah setiap kita berefleksi & bermeditasi, serta mengenali secara dalam dan murni akan keberadaan dan eksistensi YHWH yang Maha-Ajaib dan Kudus itu.

Inkarnasi Tuhan berimplikasi dalam meng-estafetkan Nama KudusNya dari PL ke PB bukan dengan membawa aksara yang sama, dan bukan menghilangkan aksara apapun. Melainkan membawa serta Nama Keluarga YHWH yang sama untuk setiap PribadiNya melewati masa-masa MahakaryaNya sesuai dengan janjiNya. Bahkan, Tuhan sudah menjanjikan akan menyatakan diriNya dengan nama yang lain lagi (Why. 3:12, 14:1, 19:12) yang tentunya lain lagi aksaranya walau YHWH dalam esensi “I Am that I Am” tetap kekal selamanya!

“Dalam PL, nama YHWH diestafetkan menjadi BAPA, ANAK/FIRMAN, YESUS, ROH KUDUS yang semuanya dalam gugus “Keluarga Ilahi” dengan nama YHWH yang menyatu penuh. Sekalipun Yang satu Mengutus, dan lainnya Yang Diutus (menurut teks ayat), namun Yang Mengutus juga ikut sebagai Yang Terutus. Dan keduaNya sama memiliki semua properti yang ada (termasuk Nama bersama). Sebab “Aku tidak seorang diri, tetapi Aku bersama dengan Dia yang mengutus Aku”, dan “segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku (Yoh.8:16, 17:10).
Lihat betapa Anak bersama dengan Roh Kudus yang diutus dan keluar dari Bapa (Yoh.8:42, 15:26), telah menunjukkan ketritunggalan DiriNya:
Yang dikonfirmasi pada saat Yesus dibaptis dalam penampakan Trio-Serentak: Yesus, Merpati Roh, dan Suara Bapa dari langit. Dinyatakan secara audio & visual yang tanpa tara. Dan dengan Credo pembaptisan dalam Satu Nama untuk ketiga Pribadi: Bapa—Anak—dan Roh Kudus. HALELUYAH! PUJILAH YAH!

“Oleh karena itu umatku harus mengetahui namaKu” (Yes. 52:6)

Bersyukurlah kepada YHWH, panggillah nama-Nya, perkenalkanlah
perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa!”…

Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus, biarlah bersukahati

orang-orang yang mencari YHWH! (1Taw. 16:8,10).

“Biarlah segala yang bernafas memuji YHWH! Haleluya!” (Maz. 150:6)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *