Kenapa YHWH Tidak Ada Tertulis di Alkitab PB, Kecuali Hanya di PL? (Serial ke-5)

Kenapa YHWH Tidak Ada Tertulis di Alkitab PB, Kecuali Hanya di PL? (Serial ke-5)

Serial ke-5

Mengganti Nama YHWH Dengan  Mendalilkan Tradisi &
Absennya Nama YHWH Dari Mulut Yesus & Para Rasul (di PB).

Cobalah Anda simak perdebatan-perdebatan diseputar  isu nama YHWH di Internet & Sosmed. Lebih mirip adu nafsu untuk menang dengan mempamer-pamerkan semua perangkat yang mengatas-namakan properti dunia seperti sejarah, inskripsi, cuplikan buku, hasil riset, kata-kata ilmuwan/teolog, tradisi, budaya, bahasa dll yang dikatakan sebagai bukti dan fakta! Sedangkan fakta Alkitab justru disekunderkan karena sikap dasar mereka adalah keharusan mengandalkan temuan-temuan ilmiah sebagai bukti kebenaran. Namun sudah kita perlihatkan dalam paparan sebelumnya bahwa pendekatan terbuka —open approach— yang bersifat material itu memang menyakinkan bilamana urusan isunya adalah menyangkut porsi keduniaan atau dalam ranah non-misteri Tuhan. Akan tetapi khusus dalam ranah privat yang memang disembunyikan Tuhan (Ams. 25:2, Ul.29:29), maka sesungguhnya hanya devine-voice sajalah yang bisa mutlak suaranya. Diluar itu, segala sumber kebenaran material yang ada sesungguhnya hanyalah terbatas sebagai tambahan iluminasi. Dan bila devine voice itu ditolak, maka itu hanya  akan menjadikannya suara gong  yang berkumandang dan canang yang gemerincing, yang tidak membawa kita sampai kepada kebenarannya.
Tetapi itulah hakekat manusia, yang selalu lebih menikmati dan puas diri dengan berusaha dan mencari-cari SENDIRI “keselamatan-ilahi”, padahal keselamatan yang dari Tuhan telah disediakanNya bagi orang-orang yang percaya!

Sedari dahulu kala, manusia mencari Tuhan, dan memberiNya nama yang agung. Tetapi hanya Tuhan kita yang sudah berkata dan dicatatkan persis,
“Aku ini YHWH, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung” (Yes.42:8)..

BENTURAN PREMIS DASAR ARGUMENTASI

Pihak “Yahweist” dan mainstream “YHWH-Changer” (pendukung Nama Suci diganti, disingkat YC) keduanya saling beroposisi keras dalam penekanan dan pengadopsian premis dalam berargumentasi.
Yang satu menunjuk kepada ayat-ayat “harga-mati” yang paling awal dimana Tuhan sendiri yang mencetuskan nama diriNya kepada Musa untuk segera menyampaikan pesanNya dengan memproklamirkan Nama DiriNya kepada Firaun,

“… AKU ADALAH AKU… YHWH, Elohim nenek moyangmu, Elohim Abraham, Elohim Ishak dan Elohim Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku (pengingat bagi-Ku) turun-temurun. ..
“Kemudian Musa dan Harun pergi menghadap Firaun, lalu berkata kepadanya: “Beginilah firman YHWH, Elohim Israel: Biarkanlah umat-Ku pergi…”
Tetapi Firaun berkata: “Siapakah YHWH itu yang harus kudengarkan firman-Nya untuk membiarkan orang Israel pergi? Tidak kenal aku YHWH itu dan tidak juga aku akan membiarkan orang Israel pergi.”
(Kel. 3:14,15 dan 5:1,2)

Disini kita menyaksikan bahwa Tuhan dari mulutNya sendiri lantang memproklamirkan namaNya yang mutlak dan kekal itu, YHWH,  kepada Musa (sebagai orang dalam) dan juga kepada Firaun sebagai orang luar, bukan untuk kalangan sendiri saja. Maka proklamasi demikian harus dimaknai sebagai axioma yang berlaku universal dan eternal. Hingga hari ini!

Namun yang menyedihkan, pihak YHWH-Changer justru cenderung mereduksi ke-axiomaan Nama Suci tersebut menjadi lebih relatif, yaitu dengan menunjuk kesejarahan tradisi Yahudi yang tidak harus/perlu mengucapkan Nama Kudus tersebut, dan bahkan hal ini didukung oleh seluruh ayat di PB yang  juga tidak memunculkan sekalipun secara eksplisit nama tsb! Dan fakta yang kasat mata ini –bukan lagi firman– dianggap sebagai bagian yang lebih substansial ketimbang ayat-ayat mutlak diatas!
Mereka mendalilkan pula bahwa Yesus juga orang Yahudi, jadi Diapun menjalankan istiadat Yahudi yang pada umumnya tidak melafalkan Nama Suci secara terbuka, dan bahwa adat istiadad Yesus itulah yang mereka ikuti  secara lurus beserta dengan semua RasulNya. Maka merekapun bertanya, “Apakah kami bisa disalahkan?” Dan setelah seribuan tahun  dan miliaran orang-orang Kristen tidak memanggil nama YHWH, maka apakah mereka itu akan Tuhan hukum atau menjadi tidak selamat?

Maka kedua premis yang antagonistis telah saling mengunci dalam kusutan tali yang semrawut. Dan disini kita menjadi pihak ketiga, diluar Yahweist dan YHWH Changer, ingin memberi sumbangan berharga dalam menguraikan tali kusust ini sserta mendamaikan kedua belah pihak.

Properti  Sebuah Nama Tuhan

Kita perlu ingat bahwa ada kejadian dimana Tuhan telah berkali-kali menolak membeberkan namaNya dengan sengaja. Itu bukan karena tidak punya nama, melainkan karena keperluan manusia dikala itu tidaklah esensial untuk sekedar tahu saja, atau juga karena ketidak-mampuan manusia sendiri dalam memahami hakekat NamaNya yang maha-transendental. Itulah yang pernah terjadi kepada Yakub (Kej.32:29) dan kepada Manoah, ayah Simson, dimana malaikat YHWH berkata (Hak.13:18):
“Mengapa engkau juga menanyakan nama-Ku? Bukankah nama(KU) itu ajaib?”
Teks NIV: It is beyond understanding,
yang mana berarti bahwa keajaiban namaNya itu mengharuskan kita untuk tunduk da tergantung kepada apa-apa yang dikatakanNya ketimbang pencaharian namaNya diuar firmanNya.
Plato juga berkata sama bahwa karena hakekatnya yang tak terkatakan, maka tak ada nama yang dapat dikenakan kepada Nya:
“Nothing can express His nature; therefore no name can be attributed to Him.”

Dimana-mana kita baca “namaKu” atau “namaNya” di Alkitab dan kita selalu disuguhi kenyataan bahwa nama Tuhan tidak seperti keberadaan nama manusia. NamaNya bukan sekedar kata atau lafal yang mencirikan dan membedakan, tetapi terlebih kepada pribadi unik dengan properti dan karakter Nya yang melekat. Beberapa contoh ringkas: .

Kel. 34.14 Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena YHWH, yang nama-Nya Cemburuan… [NB. Bunyi nama mustahil bisa cemburu)
Maz 23:3 Dia menyegarkan jiwaku. Dia menuntun aku di jalan kebenaran oleh karena Nama-Nya…
[NB. Nama bisakah menuntun?]
Jer 7:12  Tetapi baiklah pergi dahulu ke tempat-Ku yang di Silo itu, di mana Aku membuat nama-Ku diam dahulu… [NB. Nama bisa dibuatkan tempat kediaman?].

Nama manusia dan nama Tuhan, keduanya berbeda amat sangat kontras.
Pertama, nama manusia itu adalah sebuah pemberian, Given. Nama orang hanyalah sebuah kata (atau untaian kata) dengan mana seseorang itu dikenal. Itu untuk pencirian sosok diri kita sebagai pembedaan dengan diri orang-orang lain. Sebagai pembeda atau pengenal yang paling dasar, ia mirip berfungsi ibarat angka-bilangan dan lazimnya ditambah dengan pemanis sebagai ujud penghormatan dan harapan-harapan bagus bagi penyandangnya. Dan itulah harapan yang dilekatkan kepadanya oleh orang tua atau yang atasan dengan maksud agar makna tersebut  bisa terwujud baginya kelak.

Sebaliknya, nama diri Tuhan bukan seperti apa yang kamus terangkan diatas. Bukan juga terberi/ given dari luar, melainkan sudah ada dalam intrinsik jatidiriNya, bagian dari natur esensi dan identitas diri sendiri. NamaNya juga jelas bukan untuk pembeda, karena Dia-lah sosok satu-satunya yang eksis tiada kembar, tiada tandingan. Segala tuhan tandinganNya hanyalah sosok abal-abal yang non-ekis,  fiktif belaka (Maz.96:5). Tuhan kita bukan dan tak perlu “diangkakan” dan diberi pemanis kosmetis diantara bilangan tuhan-tuhan lainnya. NamaNya  tak ada urusan dengan harapan-harapan untuk Dia wujudkan,  karena namaNya itu adalah –dan ini penting dan unik– wujud implikatif dari properti karakter dan ciridiriNya yang selalu ada, tiada berubah (kuasa dahsyat, unik ajaib, mulia, kudus dan kasih setia).
NamaNya jelas bukan sekedar nama atau sebutan atau ejaan tulisan aksara yang sering kita terbiasakan take for granted, bahkan juga bukan bayangan mistis yang dikonstruksikan dalam imaginasi. Dalam namaNya,  Dia memproklamasikan makna dan implikasi diriNya bagi umatNya yang diberi akses untuk menghampiri-Nya dan saling bersekutu.

Memberi nama –apalagi menggantikan nama-diri seseorang–  itu hanya menunjukkan adanya otoritas dari pelaku pengganti nama terhadap orang yang digantikan namanya (The Harper”s BibleDictionary). Itu adalah hak prerogatif dari seseorang atasan terhadap bawahannya. Lihat betapa Adam mendominasi segala binatang dengan memberi nama kepada masing-masing. Atau patriarchat dan orang-orang tua memberi nama kepada anak-anaknya.

Mengganti nama pada dasarnya berarti memberi status baru yang berbeda atau lebih tinggi atau lebih rendah dari status sebelumnya. Bahkan apapun yang diganti mustahillah itu sama persis & mutlak dengan yang diganti! Maka alangkah arogan dan lancangnya sikap  manusia yang ramai-ramai secara kolektif dan sesukanya menggantikan nama Bapa Sorgawi kita, dari lafal mulut kita, dan dari teks Alkitab kita! Adakah nama bapak Anda yang kalian gantikan dengan cara kolektif dan persis begitu? Pasti tidak ada. Ya, karena memang tidak ada wewenang untuk itu, dan itu juga dianggap kurang ajar. Ketika nama seseorang, apalagi YHWH kini diganti dengan TUHAN, pastilah ada sesuatu apanya yang terlainkan.  Apakah kita benar-benar mau menjadikan Dia sosok yang lain? Segera akan kita tunjukkan  lebih jelas dengan beberapa contoh.

Khusus berkenaan dengan nama diri YHWH, itu adalah AKU ADA dalam arti DUA ADA yang sepenuhnya ADA, yaitu “berada” (being) dan “ada” (existence). Kedua ADA yang dimiliki YHWH ini adalah properti diriNya yang  tidak boleh dilainkan, direduksikan atau diganti oleh apapun atau siapapun. Itulah DUA ADA yang semutlaknya, kesejatian ‘being of God’ yang juga adalah eksistensi diriNya, yang mana Dia adalah Being of being!

Tetapi berkembanglah kaum pro ganti Nama-Suci  (YHWH Changer, disingkat YC)– yang abai namun tidak merasa bersalah–  mereka inilah yang secara sadar atau tidak sadar mencopot porsi dari salah satu ADA-nya Dia, yang secara ontologis  melakukan sesuatu pelainan dalam “linguistic reduction”, dimana nama YHWH DIGANTI menjadi TUHAN atau  ALLAH. Dengan panggilan/ sebutan yang baru ini mereka  sudah melemahkan, mengaburkan  atau menghilangkan kelengkapan properti YHWH yang menjadi identitas hakiki dari nilai dan keberadaan-Nya. Jadilah Dia tercopot dari properti “exist-hadirNya” walau menyisakan “being- beradaNya”.  Hal ini dapat kita rasakan lamat-lamat akan terhilangnya bobot cekaman rasa yang “menggetarkan hati” ketika Nama Suci YHWH diucapkan sebagai TUHAN. Hal ini menjadi jelas sekali ketika orang Israel di PL bersumpah; mereka tidak bersumpah DEMI TUHAN, melainkan DEMI YHWH (Hos. 4:15, 1Sam.24:22). Alkitab justru memberi satu istilah yang tepat bagi kita untuk merasakan kehadiran properti intrinsikNya dalam nama-diriNya. Tuhan berfirman:
“… Carilah wajah-Ku”; maka wajah-Mu kucari, ya YHWH” (Mzm.27:8).
YA, Wajah YHWH inilah yang melekat pada nama YHWH, yang tidak dipunyai lekatannya kepada nama TUHAN, apalagi ALLAH!

Maka “TUHAN” yang semula sebagai kata sebutan dengan huruf kecil kini dijadikan kata untuk nama diri dengan memberikannya label huruf besar semuanya agar bernuansa pribadi menyamai level “YHWH”. Namun pada waktu yang sama aksara-game ini menciptakan kelunturan SIGNIFIKANSI Nama Suci yang keberadaan “wajah-Nya” mengimplikasikan segenap propertiNya, antara lain seperti pribadi, kedekatan, kehangatan, otoritas, kesatuan, nilai, keunikan, dll.

Tanpa perlu pemahaman metafisika yang dalam, setiap kita anak Tuhanpun akan mampu merasakan keanehan aksara-game yang dimainkan kepada tiga kata {‘TUHAN’, ‘Tuhan’, dan ‘tuhan’}. Bukankah kita mudah merasakan perbedaan ketiga ini? Walau ketiganya sama bunyinya tatkala didengar, tetapi mendadak menjadi saling berbeda nuansa personanya ketika diaksarakan dalam tulisan. Orang bisa berargumen bahwa perbedaan itu hanyalah kesepakatan rujukan sosok dalam ilmu bahasa.  Namun disitulah letak terjadinya pergeseran properti eksistensi persona diri Tuhan Yang Maha –yang mana sesungguhnya kita tidak berhak melakukannya—sehingga kita telah memperlainkan Dia dalam sesuatu hal yang inheren melekat pada namaNya.
Joseph Butler telah mengingatkan kita dengan tepatnya bahwa
Each thing is what it is and not another thing”
(Setiap sesuatu adalah sesuatu itulah, dan bukan sesuatu lainnya). 

Tradisi Pemberian Nama

Sebagai makluk sosial, kelompok-kelompok manusiapun diwarisi dengan tradisi tentang pola berpikir, bersikap, perilaku  dan nilai-nilai tertentu dalam suatu masa yang panjang. Namun akibat dari keniscayaan sifat manusia yang selalu berubah, maka pembentukan tradisi itu sendiri – kwantitatif atau kwalitatif, evolusi atau setengah evolusi—biasa terjadi dalam pola pertumbuhan secara primer yang makin meluas dan mengental, ataupun sebaliknya secara sekunder dimana tradisi lama yang sudah mengental kini makin mengurai keluar menuju suatu pola yang lain lagi.

Disinilah kita melihat betapa manusia bisa berbuat kesalahan yang tanpa disadari sepenuhnya bilamana kita melihat dan memperlakukan “tradisi keilahian” (yang sesungguhnya tiada karena Dia mutlak) seolah sama dengan “tradisi kemanusiaan”. Ini telah terjadi khususnya dalam tradisi sekunder dimana nama diri Tuhan YHWH yang disebutkan gencar diseluruh PL dari awal hingga akhir (dalam tradisi primer tadinya), namun kemudian pelan-pelan ditinggalkan dan digantikan menuju pola yang lain. Untuk jelasnya mari kita gambarkan bagaimana tradisi manusia mengadopsi dan meresponi sebuah nama.

1. Tradisi manusia mengadopsi the preferred name (nama yang lebih disukai)
Orang tua memberi nama kepada anak-anaknya hanya (umumnya) berdasarkan pilihan acak dari sederetan untung-untungan yang mereka inginkan atau harapkan. Dalam perjalanan waktu, sosok dirinya yang sama akan dipanggil secara berubah, dengan akibat terjadilah pergeseran kesan & nuansa dalam nama atau panggilan yang berubah ubah itu. Contoh populer dapat dilihat pada seorang Abdurrahman Wahid yang juga dipanggil sebagai Gus Dur. Kedua namanya baik-baik dan correct saja sebagai penunjuk nama diri, namun sesungguhnya tidak sepenuhnya sama yang terbersit dalam nuansa rasa hati kita yang membedakannya. Terasa beda dalam status, peran, keformalan dan keakraban dalam kedua nama tersebut.

Manusia terbiasa mengikuti arus tradisi budayanya sejak dulu yang suka mengganti-ganti nama, bukan karena perbedaan logat lidah atau dialek (yang menyebabkan transliterasi) melainkan memang karena praktek kebiasaan dalam logat yang sama. Misalnya dari panggilan Don (sebagai panggilan kesayangan dirumah ketika kanak-kanak), lalu berubah menjadi Dono waktu disekolah. Kemudian menjadi Supradono ketika masuk ke market place. Itu memang dianggap baik-baik, sah dan tidak dipermasalahkan –baik tradisi primer atau sekunder– sepanjang  nama-nama mereka diberi atau diganti secara layak,  hormat dan sesuai tradisi panggilan untuk status tertentu: The preferred name.
Tetapi nama diri Tuhan tidaklah dalam lingkup tradisi otak-atik manusia, siapapun dan apapun itu dia. Nama Tuhan bukan preferred name, Ia adalah THE NAME (!), mutlak dan selamanya!

2. Tradisi manusia meresponi Nama-Suci Tuhan 
Manusia pada dasarnya sangat menghormati  akan Tuhan, tentu sekalian dengan namaNya. Tuhanpun berkenan akan hal ini karena Dia layak mendapatkannya.Maka tradisipun terbentuk dengan pelbagai cara penghormatan yang berbeda beda, baik berupa pemberian namaNya maupun pengadaan ritual penghormatan/ pengagungan namaNya. Dan disinilah terjadi perbedaan mendasar antara tradisi asli manusia (man made tradition) dengan tradisi yang Tuhan harapkan dari manusia! (God expected tradition) dalam tata cara memperlakukan dan menghormati namaNya.

Tuhan sendiri tidak punya tradisi. Ia mutlak dan namaNya mutlak. Tatkala kita mendengar Tuhan menyebut namaNya ‘AKU ADALAH AKU’, seketika itu juga terbitlah sirat maknanya yang absolut otoritas, tanpa rivalitas, uniformitas, dan kekal selamanya. Ya, Tuhan tidak punya preferred names, melainkan THE NAME yang teramat kompleks diluar pengertian kita (beyond understanding) yang bukan hanya tanpa rival, tetapi sesungguhnya juga tanpa ada analoginya!

 Tuhan menjawab kepada Musa bahwa “NamaKu adalah AKULAH”, dan itu sesungguhnya sudah mensugestikan juga bahwa “AKU” dan NAMAKU”itu sudah final, tidak boleh dan tidak untuk di-utak-atik dalam tradisi perubahan manusia. Lain soalnya bila itu menyangkut logat lidah/dialek sehingga misalnya nama YEHOSHUA, YESHUA yang terlogat kedalam pelbagai macam bahasa dunia menjadi nama Iesus, Jesus, Yesus, Jasu dll (tapi bukan Isa) yang tetap berkaitan dengan akar-kata aslinya sambil sepenuhnya memaknainya sebagai jatidiri aslinya. Begitu pula dengan nama dan makna YHWH sepenuhnya, yang tidak bisa diutak-atik keluar dari akar diriNya. Masih tepat dan sesuai dipanggil Yahweh, Yehowah, Yaweh, Yehovih, Yahwih dll atau bahkan seperti transliterasi kedalam ejaan Yunani kuno sebagai IABE (untuk God orang Samaria, huruf ‘b’ disuarakan ‘uu’, bacaan menjadi ‘yah-u-ei), sepanjang ini tidak menciptakan varian-varian yang keluar dari akar kata dan makna  Ibrani YHWH. Dan tentu ini berlainan dengan pengenaan label nama asing sebagai “TUHAN”, ”ALLAH” (juga ISA), yang tentu sudah “free-kick” keluar jalur. Ini akan di uraikan dengan seksama nanti…

Tuhan sejak semula sudah me-reveal-kan namaNya secara bertahap dan mengkerucutkannya kepada satu ejaan kata YHWH. Semula kata dan nama YHWH memang sudah disampaikan kepada moyang patriark, mulai zaman Set, Nuh, Abraham dan seterusnya –masih sumir sumir, masih koma belum titik–karena belum ditunjukkan implikasi dan signifikansi ke-Yahweh-anNya yang dahsyat.  Namun sejak Ia berturut turut berkata kepada Musa dalam Keluaran 3:15 yang terkenal, kemudian dilanjutkan dengan Keluaran 6:1,2 ff, maka disitulah Dia mulai sampai menyatakan ke-YHWH-an sepenuhnya:

 “Akulah YHWH. Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Elohim Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku YHWH Aku belum menyatakan diri”.

SEJAK SAAT ITULAH namaNya harus dikenal, diserukan dan dipopulerkan oleh umatNya, dalam koridor hukum Dasa Titah Tuhan yang mengharuskan nama kudusNya tidak dilecehkan: “Jangan menyebut nama YHWH, Elohim-mu dengan sembarangan, sebab YHWH akan memandang bersalah orang yang menyebut namaNya dengan sembarangan” (Kel.20:7). Tuhan perlu menegaskan hal ini karena Dia sangat tahu bahwa umatNya yang tajam lidah itu akan bisa menyalah gunakan namaNya dikala manusia terluap emosinya dalam amarah atau ketika bersumpah, sampai-sampai menyumpahi atau mengutuki lawannya atas nama Tuhan YHWH!
Secara manusiapun, tidak ada anak yang boleh melecehi, mendustai, mengutuki/ menyumpahi saudara-saudaranya atas nama bapa-ibunya. Jadi ayat YHWH tersebut sudah crystal clear, tidak untuk ditafsirkan lain, apalagi sengaja menakut-takuti umat sampai kepada tingkat ketahyulan melarang menyebut atau harus menggantikan  Nama Suci itu oleh manusia. Tidak begitu!
Sebaliknyalah yang benar, bahwa YHWH kita justru memerintahkan umatNya untuk memperkenalkan, memanggil dan mengibarkan Sang Nama ini keseluruh bangsa bangsa –dan hanya Nama Suci itu saja yang harus dikibarkan karena tidak ada lagi yang lain (Kel.34:14, Yes.42:8b, Maz.96:5). Ini menggaris-bawahi bahwa nama YHWH itu bukan untuk bangsa Israel saja, melainkan adalah Nama Suci universal dan kekal. Diperkenalkan dengan penuh hormat dan bangga:

       “Aku ini YHWH, itulah nama-Ku” (Yes.42:8);

“Supaya mereka tahu, bahwa namaKu YHWH” (Yer 16:21).

“Dan bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Akulah YHWH” (Yeh. 36:23).

“Bersyukurlah kepada YHWH, panggillah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa!” (1Taw.16:8).

“Tetapi sesudah itu Aku akan memberikan bibir lain kepada bangsa-bangsa, yakni bibir yang bersih (a pure language, KJV), supaya sekaliannya mereka memanggil nama YHWH, beribadah kepada-Nya dengan bahu-membahu” (Zep.3:9).

Tradisi Primer dan Tradisi Sekunder
Kita bersyukur bahwa Alkitab kita menyodorkan satu fakta tradisi primer umat Yahudi dimana Nama Suci tersebut masih dilafalkan secara terbuka ribuan tahun, sebelum dikaburkan kelak lewat tradisi sekunder yang misterius menjadi ADONAI, KYRIOS, LORD,TUHAN dan ALLAH tanpa ada yang merasa harus bertanggung jawab. 
Bukankah nama mutlak YHWH itu— telah ditulis dan diucapkan oleh umat & para Nabi-Nya (dengan penuh hormat), setidak-tidaknya di zaman Musa hingga Ezra (tahun 444 SM, dimana Ezra membacakan Kitab Taurat kepada seluruh rakyat,  seharian suntuk di Yerusalem, bahkan hingga 7 hari, dimana nama YHWH diserukan dan disambut umat dengan “Amin, Amin” (lihat Nehemia ps.8-9).
Ini adalah tradisi yang Tuhan harapkan dari umatNya dimana namaNya harus diserukan secara luas dengan penuh hormat bahkan kepada semua mahkluk yang bernafas (Mzm.150:6, 1Taw.16:8-9)

Namun kemudian sesudah era Ezra dan berhentinya  pewahyuan kepada para nabi PL, maka nama suci dan tradisi-primer yang tadinya sudah diketahui baku diseluruh kesejarahan nabi-nabi, lalu mengalami larangan demi larangan dalam mengucapkannya didepan umum oleh orang umum. Dan disinilah munculnya fenomena tradisi-sekunder yang bergeser kian intensif walau tidak ada hukum baru lain diseluruh Tanakh kecuali Dasa Titah Hukum ketiga yang tetap sama saja bunyinya: “Jangan menyebut nama YHWH, Elohim-mu dengan sembarangan”.

Jelas, larangan itu ditetapkan berdasarkan interpretasi rabbinika atas ayat yang satu dan sama itu, dan itu bukan atas perintah Tuhan. Namun pengaruh larangan yang disertai dengan sanksi sosial dan religi ini cepat bereskalasi. Dan dua abad kemudian, hadir pula terjemahan resmi Septuaginta (abad ke-3 SM, PL Yunani Koine) yang diterjemahkan dari Kitab Ibrani asli,  yang dilakukan oleh 70 teolog Yahudi yang secara tekstual menggeser Tetragrammaton (4 huruf YHWH) dibaca ADONAI dengan mengikuti perkembangan tradisi baru Yahudi dikala itu dan akhirnya menjadi KYRIOS dengan menggantikan/ menghilangkan nama YHWH sebanyak lebih dari 6000 kata di Kitab Ibrani. 

Dan kelak oleh raja Antiochus  IV Epiphanes (175-164 SM) yang dalam proses memaksakan kultur Hellenisasi kepada semua rakyat jajahannya — dan yang terkenal benci akan semua yang berkaitan dengan keyahudian–  telah mengeluarkan dekrit larangan terhadap semua praktek keagamaan orang-orang Yahudi, sampai kepada hukuman mati. Direntang masa itulah TRADISI PRIMER tentang nama YHWH mulai dikaburkan dengan tradisi-sekunder yang di-ciptakan demi untuk mendukung interpretasi rabbinik dan penghilangan nama YHWH secara kolektif menjadi Adonai, Elohim, Theos, Kurios, dst.

“While it is commonly assumed that traditions have ancient history,
many traditions have been invented on purpose, whether that be
political or cultural, over short periods of time” …
Wikipedia on tradition.

Maka kini kita dapat melihat bahwa permasalahan Nama Suci telah berubah essensinya selama rentang waktu yang panjang sesudah era Ezra/ Nehemia hingga Antiochus IV hingga kepada era Yesus dan para Rasul dan kini.
Yaitu dari tradisi yang awalnya berasal dari ayat Alkitab,
*“Jangan menyebut nama YHWH dengan sembarangan
 kini berubah proses secara kolektif, permissif dan perlahan mengikuti
tradisi ciptaan para pemimpin Yahudi yang berasal dari tafsiran rabinika menjadi:

*“Jangan menyebut nama YHWH, sekalipun tidak dengan sembarangan, 
karena Nama YHWH terlalu kudus untuk kita orang berdosa; Gantilah itu dengan nama ‘TUHAN’ atau ALLAH; sebab Tuhan kita Mahatahu akan pikiran, niat dan maksud baik kita, yang tetap tertuju kepada Dia yang sama dan satu-satunya.

Itulah cara dan otak-atik manusia inspiratif dalam meresponi Nama Suci dan menafsirkan ayatNya  dengan “motivasi & maksud baik” tetapi yang bisa mendapatkan dampratan Yesus yang telah berkata sama kepada Petrus: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Elohim, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Mat.16:23). … you do not have in mind the concerns of God, but merely human concerns.” (NIV). Sekali lagi ini menyangkut dua kepentingan yang berbeda: Concern of God vs. human concern!

Dampratan Yesus ini bukan terjadi karena Petrus berbuat kejahatan atau pengkhianatan kepada Yesus, melainkan justru sebaliknya. Petrus justru membelaNya dengan maksud yang terbaik, menolak dan tidak mengizinkan Yesus untuk disiksa dan dibunuh, “Hal itu sekali kali takkan menimpa Engkau”.
Kita bisa berkata tentang faktanya Petrus yang “tidak bersalah” ketika menolak berita penyaliban tersebut karena toh sebelumnya ia tidak pernah tahu atau diberitahu oleh Yesus tentang hal itu. Itu adalah pemberitahuan yang pertama kalinya dari Yesus perihal siksaan/ pembunuhan dan kebangkitan DiriNya.  Namun –dan inilah kuncinya—SEKALI yang pertama kali saja Yesus menyampaikan firman tentang PRIVAT DIRINYA, maka jangan ada tafsiran &kehendal lain yang memakai human concern, betapapun rasional dan hebatnya gagasan pikiran manusia itu! 
Jadi, bagaimana pikiran rabbinik menggantikan pikiran Tuhan untuk Nama Privat DiriNya YHWH, yang bahkan sudah disebutkan mutlak lebih dari 6000 kali dalam Alkitab?? 

Keberanian manusia mengganti nama suci Tuhan bukan sampai disitu saja, melainkan malah ada yang lebih nekad dan mengagetkan lagi, yang merambat kepada sosok yang bernama YESUS, Nama diatas segala nama (Fil.2:9). Yaitu bahwa Yesus orang dari Nazaret-Israel diabad kesatu — yang bernama Yehoshua  (Yeshua)– itu telah di-cross cultural-kan namaNya oleh orang Arab diabad ke-7 menjadi ISA. Dan justru para pengikut Yesus masa kinilah yang ikut-ikut melatahi tradisi baru ini dengan mem-fashion-kanNya menjadi bernama ISA! Maka terjadilah ekwivokasi sosok (pertukaran sosok) yang dicocok-cocokkan sbb:

Mereka mengklaim  bahwa YESUS sama dengan  ISA. Alasannya keduanya dimaksudkan sama kepada satu sosok yang sama, walau sumbernya berbeda (yang satu dari Injil, yang lain dari Quran). Ditambahkan lagi oleh mereka bahwa Muhammad pasti juga memaksudkan kesamaan sosoknya….Tetapi apa yang dimaksudkan sama itu mustahil bisa sama tatkala substansi sosoknya (yang jatidiri DNA) saling berbeda. Yang satu disebut Putra Elohim, yang lain malah mengharamkannya dan memaksudkannya hanya sebagai Putra Maryam. Yang satu punya Bapa dan memanggilNya begitu, yang lain mengharamkan itu. Tentu saja kedua Putra ini tidak sama dimensinya. Yang satu ada, historis, sementara yang lain itu dimunculkan begitu saja tanpa genealogi, geografi dan kronologi, melainkan cuplikan dari retelling story yang disisip-sisipkan acak untuk menghadir-kan somethingness dari nothingness (Maz.96:5), tanpa bukti dan saksi mata manapun.
Nama Yesus bermakna iIlahi, YHWH Menyelamat.  Isa kosong makna.
Nama Yesus berkuasa, nama diatas segala nama. NamaNya dikonfirmasi ulang oleh Malaikat bahkan Iblis (Mark 5:7), juga dikonfirmasi sendiri oleh Yesus: “Akulah Yesus yang kauaniaya itu” (Kis 9:5). Lalu mana ada sosok Isa dalam Quran yang pernah berkata: “Akulah Isa?” Dan masih ada 1001 jenis beda…
Jadi, apanya yang sama, atau yang dimaksudkan sama itu? Yang ada hanyalah perbedaan secara diametral, mulai dari DNA hingga kepada seluruh derivative-nya. Namun oleh kekerasan tradisi manusia, kedua nama tsb tetap dipaksakan fallacy- equivocation -nya sebagai SOSOK YANG SAMA SAJA… ! Namun Yesus berkata: “I AM” yang merujuk kepada “I am that I am” dengan hakekat YHWH. Dan kembali hal ini hendak dikaburkan dengan menyamakannya dengan  ISA yang tiada koneksitasnya dengan YHWH!

Maka kita menyaksikan betapa mudahnya manusia terkelabui oleh satu  perspektif untuk menilai seluruh realitas ketuhanan yang super komplex. Dan satu perspektif itu –jikalau diadopsi secara kolektif—akan membentuk apa yang disebut TRADISI yang bahkan akan menciptakan sebuah doktrin ketuhanan. Namun kita salut akan satu peringatan yang kita harus selalu was-was akan tradisi:

“It is too easily assumed that all traditional doctrines are firmely based on the Bible” … Terlalu mudah bagi kita untuk beranggapan bahwa doktrin-doktrin tradisional itu berdiri teguh berdasarkan Alkitab!

Merasa Nyaman dan Benar Menyebut NamaNya TUHAN?

Sudah disinggung diatas bahwa manusia dicekoki oleh tradisi penggantian nama atas sesuatu. Tak kecuali tradisi duniawi ini diteruskan kepada nama Tuhan. Maka Nama-Kudus-Nya perlu hadir dengan disertai dengan peringatan agar namaNya jangan disalah gunakan oleh umatNya, karena ada hukumannya yang berat (kematian). Peringatan yang tadinya bersifat pencegahan terhadap SALAH-PENGGUNAAN Nama Suci telah diubah menjadi LARANGAN MENYEBUT Nama itu karena alasan kekudusanNya dan ketakutan atas hukuman, yang menghasilkan nama-nama penggantiNya menjadi ADONAI, KYRIOS, LORD, TUHAN, ALLAH dst.

TANTANGAN BAGI YHWH-CHANGER (YC):
Agar para pembela YHWH-Changer itu (penentang penggunaan nama YHWH atau yang memilih penggantian nama YHW) membuka jendela perspektifnya lebih lebar, maka mari kita bersama berselancar dalam proses/ konstruksi pergantian ayat-ayat yang menjadi penyebab penggantian nama suci Tuhan. Semula, diperingatkan oleh Tuhan bahwa namaNya  yang kudus  tidak boleh disebut dengan sembarangan.  Kemudian disusul dengan dua ayat lain sehingga terkumpullah 3 hukum Tuhan yang langsung terkait dengan peringatan dan larangan dan hukuman bagi umatNya yang melanggar peringatan tersebut. Ketiga Trio HukumNya seperti yang tercatat dalam  Kel.20:7 dan Kel. 34:14 dan Im.24:16 sbb:

(a). “Jangan menyebut nama YHWH, Elohim-mu dengan sembarangan, sebab YHWH akan memandang bersalah orang yang menyebut namaNya dengan sembarangan” (Kel.20:7).
(b). “Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena YHWH, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Elohim yang cemburu” (Kel.34:14).
(c). “Siapa yang menghujat nama YHWH, pastilah ia dihukum mati dan dilontari dengan batu oleh seluruh jemaah itu” (Im.24:16).

Murni dari motif para rabbi dan pemimpin agama Yahudi, mereka yang telah melakukan penggantian Nama Suci ini pasti sudah menganggapnya baik, masuk akal, tahu diri akan kekudusanNya, dan mengamankan diri umat dari hukuman. Akan tetapi penggantian ini tetap liar, kecuali ada payung hukumnya dalam bentuk taklimat hukumnya, yang kita misalkan berbunyi  “XYZ”, entah itu tercatat di Midrash, Misnah, Talmud atau lainnya. Nah, karena de-fakto Nama Suci telah diganti di Alkitab, maka kita semua percaya bahwa taklimat tersebut SEHARUSNYA sudah ditulis dengan baik (berdasarkan tafsir-tafsir yang otoritatif entah di Midrash, Misnah, Talmud atau lainnya), yang melarang dan meniadakan Nama Suci untuk disebutkan, melainkan menggantikannay menjadi “ADONAI”.

TANTANGANNYA kepada YC tegasnya sbb:
1). Bagaimana bunyi taklimat hukum/aturan/firman baru (XYZ, apapun bunyinya) yang dibuat oleh para pemimpin agama Yahudi,  berdasarkan penafsirannya? Mohon taklimat XYZ ini bisa ditampilkan oleh pihak YC yang sudah membela pergantian namaNya atas dasar legal, tidak liar.


(2). Sesudah itu renungilah dalam-dalam apakah taklimat XYZ (apapun bunyinya) bisa sama /tidak terubah makna substansialnya terhadap ketiga ayat firman YHWH yang ada diatas?


(3). Apakah nurani Anda merasa nyaman dan berani mengklaim bahwa Tuhan PASTI berkenan akan taklimat XYZ tersebut, serta praktek mulia Anda yang telah mengubah ayatNya?      

Segera terlihat bahwa para YC akan terbelalak mata menghadapi kenyataan bhawa tak akan ada statement XYZ manapun dan bagaimanapun (!) yang bisa mereka temukan yang TIDAK MENYALAHI firman YHWH aslinya! Kenapa? YA, firman Tuhan tersebut pada dasarnya adalah trio peringatan, larangan, dan hukuman terhadap pemberlakuan yang tidak senonoh terhadap keberadaan namaNya yang bernama YHWH itu, bukan menghilangkan & menggantikan “ADANYA” NAMA TERSEBUT!

Alih-alih mereka yang tadinya merasa takut akan kesucian nama itu, tetapi faktanya malah telah bertindak terlalu jauh dengan menginterpretasikan Trio ayat-ayat (a), (b), (c) itu kebablasan menjadi sebuah mitos yang takut akan TAHYUL terhadap Sang Nama. Tetapi dilain pihak justru ketakutan itu berbalik menjadi TIDAK USAH TAKUT bila Nama Suci itu diutak-atik sampai menggantikanNya!

Justifikasi Diri Sendiri
Agaknya masih merasa kurang nyaman dan tidak cukup alasan untuk penggantian Nama SuciNya, maka dibelakangan hari di susulkanlah justifikasi tambahan dengan penekanan bahwa penggantian itu dilakukan berdasarkan:
* Tuhan mahatahu akan maksud baik & itikat baik dalam penggantian namaNya dan tidak mengharuskan umatNya memanggil Dia dengan satu nama saja.
* Lestari dan sesuai dengan tradisi dan sejarah Yahudi
* Walau nama Tuhan dan pelafalanNya tidak sama (diganti), namun sosokNya tiada lain tetap tertuju kepada Dia Sang Bapa yang sama. Tuhan melihat hati kami.
* Nama YHWH tidak perlu dihadirkan, karena itu juga tidak hadir diseluruh PB. Yesus dan para Rasul tidak pernah melafalkan nama tsb.

Tentu saja dalil ini telah mengkosongkan perintah Tuhan yang justru jelas-jelas dan berulang kali telah memerintahkan untuk memanggil namaNya dan memasyurkannya  (lihat banyak sekali ayat yang sudah disodorkan sebelumnya).

JAWAB: Ketiga butir pertama dari justifikasi diatas sudah kita patahkan.
 Intinya bukan terletak kepada kebaikan-kebaikan manusia, atau tradisi dan kemahatahuan Tuhan kita, melainkan bagaimana tanggungjawab, ketaatan dan komitmen anak-anak Tuhan terhadap apa yang Dia sudah perintahkan tentang (keharusan menyerukan) NAMANYA YANG SATU-SATUNYA! Namun masih ada saja dikibar kibarkan alasan dan justifikasi awam dengan pelbagai plintiran narasinya, a.l. sbb,

“Tuhan melihat hati. Dia mahatahu Siapa yang kami tujukan ketika kami menyebut ‘Allah, ALLAH atau TUHAN’. Tiada lain hati dan niat dan konsep pikiran kami ditujukan kepada sosok Sang Bapa, Tuhan Alkitab, bukan Allah SWT Islam atau ilah lainnya”….

Ya, Tuhan memang Mahatahu akan segala isi hati dan maksud baik dan sikap hormat kita kepadaNya. Sayangnya kitalah yang kurang mahatahu-nya sehingga tidak tahu bahwa segala isi hati, niat baik, hormat dan konsepsi pikiran logis kita justru harus diletakkan dalam ketertundukan dan ketaatan kepada perintahNya yang Mahatahu! Bila anda membalikkan ini dengan kesengajaan penuh, maka anda bisa disebut oleh Yesus sendiri sebagai sesat atau iblis (simak Mat.22:29, 16:23).

Tuhan Mahatahu tidak harus menjadi obyek dari excuse (sdalil pembenaran) Anda. Apakah Dia yang Mahatahu akan segala masalah dalam hatimu, menjadikan anda tak perlu berucap doa? Bukankah doa Bapa Kami yang Yesus ajarkan itu tetap mengajari  kita agar berdoa untuk aspek aspek yang sebenarnya tanpa usah berdoapun tetaplah hal-hal itu pasti terjadi. Yaitu tentang  “Kekudusan namaNya, kedatangan KerajaanNya, dan terjadilah KehendakNya”. Tanpa doa kitapun, semuanya itu pasti terlaksana! Akan tetapi Tuhan selalu menuntut kepada anak-anakNya akan porsi-wajib yang harus kita lakukan sendiri atau duluan, bukan hanya memahamiNya sebagai pihak yang Mahatahu & Maha-mengampuni (?)

Kaum YHWH-Changer selalu berdalil bahwa Tuhan boleh-boleh-boleh diberi nama apa saja ASAL merupakan persembahan yang baik. Tetapi mereka lupa begitu sering Tuhan merewelkan persembahan yang dianggap baik, bahkan mempersetankan apa yang manusia mengiranya itu terbaik.  Ingat akan persembahan yang Tuhan tolak  sekalipun berharga tetapi  telah mengabaikan perkataan-perkataanNya (Yer.6:19,20).  Lihat korban persembahan Kain yang dia anggap baik, namun Tuhan tidak mengindahkannya (Kej.4:5). Ingat akan Petrus yang namun “diibliskan” Yesus gara-gara ia bermaksud baik dengan tidak membiarkan Yesus disalib (Mat.16:23).  Dan seterusnya…
Tetapi begitulah yang kita akan  diingatkan untuk WAJIB LURUS mempersembahkan porsi yang terbaik bagi namaNya seperti apa yang SUDAH TERSEDIA YANG TERBAIK dari Dia sendiri. Tak akan ada nama ganti baru manapun dari Anda yang akan lebih baik daripada Nama KudusNya.  Memberi Dia nama yang paling hormat sekalipun tidak akan lebih hormat daripada Sang Nama yang sudah melekat kediriNya.. . Untuk lebih membumi, baiklah kita memberi satu ilustrasi  paralelistis sederhana,

Katakanlah Anda mau memberi nama pengganti kepada bapak Anda. Lalu Anda memilihkan nama terbaik terhormat baginya yaitu nama BARON PRIYAYI yang sama dengan nama Pak Lurah dikampung Anda. Lalu anda-anda merasa bangga dan menyeru-nyerukan nama tersebut dimana-mana. Pertanyaannya: Apakah bapak Anda akan merasa nyaman dan berkenan dengan pemberian baik dari Anda ini? Kedua, apakah Pak Lurah juga akan merasa nyaman-nyaman?
NAH, itulah yang persis terjadi dikala anda-anda kaum YC telah memberi nama baru ALLAH (TUHAN) kepada YHWH yang ! Orang Muslim-pun tidak akan nyaman bahwa “mliknya” terbagi kepada kafirun, dan lebih dari itu YHWH-pun akan sama berkata: “YHWH itulah namaKu satu-satunya, selamanya!” Tidak ada satupun nama yang lebih  baik ….

Sesederhana begitu! Masalahnya bukan “seberapa benar” konsepsi akal budi dan hati  anda untuk “memutihkan” nama RA, OSIRIS, BAAL, GUANYIN, APOLLO, DEWA, dll menjadi “TUHAN ALKITAB” setiap kali anda memanggil namaNya, melainkan ketertundukan Anda akan namaNya seperti yang sudah Dia nyatakan lurus:Aku ini YHWH, itulah nama-Ku” (Yes.42:8).
Ringkasnya, Anda bukan mengandalkan hati Anda untuk tahu akan Tuhan yang mahatahu, melainkan Anda sendiri perlu tahu dan yakin akan isi hati Bapa Sogawi bahwa Ia akan merasa lebih dimuliakan jikalauanda memanggil nama sorgawiNya “YHWH”, sebab Dia  itu Tuhan yang namaNya “Cemburuan” (Kel.34:14, 20:5, Ul.5:9).
Dia sendiri telah memberi jaminan untuk nama-diri-Nya tanpa usah menghirau-kan hiruk pikuk tradisi manusia dalam memitoskan nama-nama ilah yang lainnya: “Biarpun segala bangsa berjalan masing-masing demi nama allahnya, tetapi kita akan berjalan demi nama YHWH Elohim kita untuk selamanya dan seterusnya” (Mikha 4:5).

Akhirnya, kita bisa merenungi satu quote yang diadaptasikan khusus untuk kasus justifikasi nama TUHAN ketimbang YHWH:
“Having faith in God’s love does not excuse us from the responsibility to do exactly what He had commanded.
Understanding God knows all does not give us licence to endorse the change of His name YHWH into your own naming TUHAN, no matter what.
Realizing that the invented tradition and world system seem to agree to silencing His Holy name does not mean that every wild speculation on His name is true.

[Beriman akan kasih Tuhan tidak memaafkan kita lari dari kewajiban untuk melakukan apa yang telah diperintahkanNya dengan persisnya.
Memahami (mentang-mentang) Tuhan itu Mahatahu tidaklah memberi kita izin untuk merubahi namaNya dari YHWH menjadi TUHAN, apapun alasannya.
Menyadari bahwa tradisi dan sistim dunia yang diciptakan manusia semua setuju mendiamkan Nama KudusNya, tidaklah berarti bahwa spekulasi yang liar dalam memperlakukan namaNya seperti itu bisa dibenarkan].

Dibagian akhir, kita akan meng-entertain pendalilan para YHWH-Changer yang dianggap paling shahih bahwa Yesus dan para Rasul tidak memberi contoh pemanggilan nama Tuhan sebagai YHWH.

Signifikansi  Nama YHWH: Wajah Versus Jubah

Nama YHWH teramat jauh transcendental dan subliminal. Ia adalah beyond understanding (Hak.13:18). Karena namaNya adalah manifestasi dan implikasi  dari karakter pribadiNya, dan hanya YHWH-lah yang selalu ADA sepenuh propertiNya seperti itu. Hal ini tak mungkin bisa dimiliki dari  “TUHAN” yang secara ontologis lebih merupakan referensi untuk suatu keberadaan (being) yang namun existensi propertinya sudah tereduksi, betapapun DINIATKAN sama dalam bayang-bayang  mistis-Anda.

Itulah sebabnya YHWH berkalikali secara sengaja menekankan namaNya dalam kepenuhan dan kekuatan diriNya tatkala berfirman kepada nabi dan umatNya. Tentu saja hal demikian dimaksudkan sama untuk setiap kita, demi memberi stressing dan siratan ‘yang menggentarkan’ kepada mereka yang masih “men-TUHAN-kan” Dia secara umum dan biasa-biasa saja. Lihatlah betapa signifikannya nama diriNya yang Dia sebutkan dengan menekankan kekuatanNya diujung atau diawal kalimatNya, dan itu Dia lakukan dengan segala kesengajaan.
Dan bilamana kita menggantikannya dengan kata TUHAN (T), terasalah betapa ter-reduksi-nya dan kelayuan nuansa wibawaNya. Itu ibarat menggantikan  WAJAH dengan JUBAH untuk identitasnya Tuhan!
Lihat beberapa contoh saja:

Kel.6:1-7 “Akulah YHWH (=> TUHAN?) 
Disini ada 7 ayat ringkas dalam peristiwa Musa diutus oleh Tuhan kepada kaum Israel. Perhatikan betapa YHWH PERLU-PERLUNYA mengucapkan nama diriNya secara menyolok bak “over statement”: AKULAH YHWH!
Ini tentu bukan untuk memberi informasi atau perkenalan namaNya secara ber-ulang-ulang, melainkan untuk stressing otoritas ilahiah, yang tidak bisa dicapai dengan nama ganti ‘TUHAN’ (T).

Kel.15:3  YHWH (T?) itu pahlawan perang; YHWH (T?), itulah nama-Nya.  
[‘TUHAN’ tak perlu menerangkan namanya sampai dua kali. Tetapi 2x ulang itu memang cocok diperlukan untuk pembobotan otoritas DIRI YHWH!]

Kel.4:11  Tetapi YHWH (T?) berfirman kepadanya: “Siapakah yang membuat lidah manusia … ; bukankah Aku, yakni YHWH (T?)?
[Ditto, sama dengan atas, nama Tuhan yang ber-kata2 sudah diketahui Musa, jadi kenapa Dia masih perlu2nya mempertanyakan siapa, dan menjawabnya sendiri diakhir kalimatNya? Tiada lain tiada bukan karena itulah untuk pembobotan inferensi dan sugesti otoritas YHWH]].

Awal kata-kata  ancaman  Musa kepada Firaun, atas nama YHWH

Kel.7:17  Sebab itu beginilah firman YHWH (T?): Dari hal yang berikut akan kau (Firaun) ketahui, bahwa Akulah YHWH (T?).
[Ya, jelas maksud Tuhan kita, yaitu agar Firaun tahu bahwa Tuhan itu bernama YHWH, Dia bukan tuhan Mesir,  bukan Tuhan TUHAN manapun].

 Tulah terdahsyat kepada Firaun
Kel. 12:12
  Sebab pada malam ini Aku akan menjalani tanah Mesir, dan semua anak sulung, dari anak manusia sampai anak binatang, akan Kubunuh, dan kepada semua allah di Mesir akan Kujatuhkan hukuman, Akulah, YHWH (T?).
[Nah, inilah nama YHWH yang hendak Dia pertentangkan terhadap semua allah2 Mesir. Tentu Dia harus memakai nama diriNya yang PALING MENGGENTARKAN: ‘AKULAH YHWH satu-satunya’ dan bukan Tuhan abal-abal dengan nama apapun yang lain! Ini harus ditekankan persis  kepada Musa  dan kepada  Firaun.

Imamat pasal 18, terdapat 6x tekanan “Akulah YHWH (T?)” diakhir kalimat

Imamat pasal 19, bahkan ditekankan sebanyak 16x “Akulah YHWH” (T?)”
Kenapa sampai begitu rupa YHWH menegaskan nama diriNya yang YHWH?
Dengan penuh hentakan kekuatan? Tidakkah itu redundant yang konyol dari Elohim, jikalau itu hanya untuk memperkenalkan nama, untuk diketahui,  atau bahkan kalau itu hanya sekedar agar Musa tidak lupa?

Imamat 19:18  Hukum kedua dari Hukum Terbesar:
“… melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri;
Akulah YHWH (T?)”.
Disini jelas-jelas Tuhan menekankan satu hukum yang meletakkan KASIH tanpa limit untuk sesama. Dan itulah yang Dia nyatakan sebagai hukum terbesar, sebagaimana terbesaranNya dalam ekspresi yang dimeteraikan: “Akulah YHWH”.

Bukankah debut kedahsyatan  “Akulah YHWH!” ini sudah dimanifestasikan dan diimplikasikan pertama kalinya lewat nama YHWH itulah, yang ditujukan kepada Firaun, orang yang paling tegar tengkuk menolak Sang Nama tersebut? Perhatikan bahwa disitu sang Firaun malah menantang balik sepertinya kepada Musa, tetapi sesungguhnya langsung menentang YHWH sendiri. Firaun berkata dengan sangat hujatnya: “Siapakah  YHWH itu yang harus kudengarkan firmanNya…Tidak kenal aku YHWH itu…”

Itulah tantangan muka dengan muka terhadap “ke-Yahweh-an” YHWH yang Firaun lakukan dengan segala akibatnya! Dia telah mengingkari signifikansi dan implikasi nama dahsyat tersebut untuk mana dia harus membayar harganya hingga 10-tulah!

Sebaliknya Daud bukan hanya mencari muka Tuhan, melainkan wajahNya:
Hatiku mengikuti firman-Mu: “Carilah wajah-Ku”;
maka wajah-Mu kucari, ya YHWH”
(Maz 27:8).
 Ya, YHWH telah mengundang umatNya untuk mencari WAJAH-Nya,
bukan melabelkan JUBAH yang dikenakan kepada “TUHAN” (yang tekor wajah).
WajahNya itulah yang merefleksikan kedahsyatan pribadi yang mengentarkan,
“Sebab YHWH adalah El yang besar, dan Raja yang besar mengatasi segala allah”! (Mzm.95:3)

Pertanyaan kritis untuk kita: Untuk apakah YHWH berobral besar-besaran dengan penekanan namaNya—secara kwalitas dan kwantitas diseluruh Alkitab sampai 6823 kali—jikalau akhirnya manusia manusia rabbinik lebih mengikuti Firaun yang mentulikan kupingnya terhadap Nama YHWH… ketimbang mengikuti Musa?

Tuntutan Akan Kepersisan Pengucapan Nama YHWH

Penggantian nama ini telah terjadi dengan penuh kesadaran dan secara kolektif menjadikannya sebagai “tradisi keagamaan”masyarakat Yudeo-Kristiani sesudah PL, dan ini dianut oleh semua orang-orang Katolik dan mayoritas Kristen.
Tetapi cobalah tanya kepada mereka –kaum YHWH-Changer dan penentang penggunaan Nama Suci– apakah keuntungan/keunggulan penggantian namaNya diatas nama YHWH? Adakah?

Ternyata yang dikemukakan mereka BUKANLAH poin-poin keunggulan atau keuntungan nyata yang dimiliki dalam nama diri T.U.H.A.N-nya, melainkan  hanyalah beberapa butir trivial (diluar isyu kekudusan) yang “dianggap tidak dimiliki” nyata oleh nama YHWH. Seperti:


1. Nama YHWH tidak bisa dipanggil karena semuanya huruf mati.
sehingga tidak ada yang tahu persis –alias sudah hilang– pelafalan terhadap Tetragrammaton YHWH itu.
2. Yesus dan para Rasul juga tidak pernah memanggil YHWH


Tampak bahwa tidak ada keunggulan nama TUHAN (an sich) yang bisa disodorkan mereka, melainkan hanya bisa mengungkitkan anggapan akan “kekurangan” nama YHWH. Dari keharusan menyodorkan keunggulan, malah kini dibiaskan menjadi tuntutan akan pelafalan tetragrammaton ‘YHWH’ yang persis. Woww! Ada nada arogan disini. Mereka lupa bahwa Nama yang satu ini berkadar ‘Ajaib’ dalam arti yang sungguh. Tidakkah mereka teringat kepada  Yakub di Pniel dan Manoah yang juga bertanya begitu, tetapi ditolakNya mentah-mentah?! (refres kembali ke Kej.32:29 dan Hak 13:18).

Memang betul tetragrammaton dalam huruf huruf konsonan tidak bisa diucapkan secara langsung oleh orang orang asing diluar tradisi budaya Ibrani itu sendiri. Namun tidak demikian adanya dengan orang-orang Yahudi lokal sejak zaman dulu, yang tetap setia menjunjung dan menyerukan nama yang maha penting dari Tuhannya. Justru kisah-kisah yang menceritakan seolah semua orang Yahudi tidak lagi mengenal pelafalan nama suci sejak pembuangan ke Babilonia itu hanyalah kisah dramatis yang asal digeneralisir. Selama 70 tahunan (2 generasi) pembuangan mereka, itu memang bisa kehilangan  bahasa tertulis mereka dalam teks kuno Paleo Ibrani, tetapi bukan/ belum akan sampai melenyapkan pelafalan oral mereka. FAKTA bahwa dibawah penjajahan Yunani (khususnya raja Antiochus  IV Epiphanes, 175 – 164 SM) terjadi pelarangan keras pemujaan YHWH dan penindasan brutal terhadap segala bentuk ibadah Yahudi –dengan sanksi hukuman mati—itu sudah membuktikan bahwa nama YHWH tetap dipergunakan oleh orang-orang Yahudi dikala itu. (penindasan yang akhirnya mencetuskan pemberontakan Makabe, 167-160 SM diseluruh Yudea dan Galilea).

Sayang bahwa fakta-fakta historis tentang proses peralihan & pergantian nama YHWH itu kurang terdokumentasi, atau memang sengaja sudah ditiadakan. Namun satu hal yang jelas bahwa proses itu tidak terjadi secara revolusioner, melainkan bersifat evolusi, sporadis dan seleftif, yang akhirnya tetap menyisakan jejak-jejak yang dapat memperlihatkan kepada kita  sekali lagi betapa pelafalan Nama Suci tidaklah hilang samasekali!

Intervensi Manusia Keatas Nama Suci
Alkitab dan para ilmuan sama  melaporkan tentang  tradisi  orang-orang Yahudi yang sejak semula telah mengucapkan Nama Suci Tuhan dengan penuh antusias, hormat dan khidmat. Tetapi kita sering mendengar yang sebaliknya dari kaum YC, yaitu bahwa tidak ada ayat Alkitab yang memerintahkan bangsa-bangsa Non-Israel untuk menggunakan Nama Suci itu. Statemen ini tentu ngawur dan sesat.

*Dibawah Elia, semua rakyat Israel berseru gegap gempita ketika mereka menyaksikan kemenangan Tuhan YHWH atas Baal nya para nabi palsu dan raja Ahad digunung Karmel. Serentak semua rakyat bersujud serta berseru: “YHWH, Dialah Elohim! YHWH, Dialah Elohim!” (1Raj.18:39)

*“Dan bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Akulah YHWH”
(Yeh. 36:23).

*“Bersyukurlah kepada YHWH, panggillah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa!” (1Taw.16:8).

*Bahkan bangsa-bangsa yang jahat juga diminta untuk bertobat dengan bersumpah demi nama YHWH yang hidup (Yer.12:14-16).
*Dan Tuhan malahan akan memberikan bibir lain kepada bangsa-bangsa, supaya sekaliannya mereka memanggil nama YHWH. (Zep.3:9).

Bertalian dengan sejarah, kita juga tahu bahwa raja Persia yang non-Yahudi itu juga mengenal akan nama YHWH. Dialah Koresh, yang menaklukkan Babylon, yang akhirnya melepaskan orang-orang Yahudi yang ditawannya untuk pulang ke Yerusalem demi mendirikan Bait Tuhan disana. Raja Koresh memproklamasikan maklumat kerajaan – sekitar 538 SM—dengan ucapan maupun tulisan akan nama YHWH:
Segala kerajaan di bumi telah dikaruniakan kepadaku oleh YHWH, Elohim semesta langit….” (Ezr.1:2).
Akhirnya di Yerusalem,Ezra diminta oleh seluruh umat untuk membacakan Kitab Taurat. Dan ini dilakukan  seharian suntuk, bahkan hingga 7 hari, dimana nama YHWH diserukan dan disambut seluruh umat dengan “Amin, Amin” (Neh. ps.8-9).
Itu terjadi dipertengahan abad ke-5 SM, saat-saat menjelang akhir dari sejarah pewahyuan para nabi di PL. Dan sesudah itu masuk kedalam pelbagai masa tragis penganiayaan & peng-helenisasi orang-orang Yahudi yang makin menjauhkan dan mengaburkan pengucapan Nama Suci. Namun demikian, TIDAK terindikasi apapun akan adanya pewahyuan susulan di PL dan bahkan di PB (!) yang mengizinkan PELARANGAN & PENGGANTIAN PENGUCAPAN NAMA YHWH sebagaimana yang dipahami dan dipraktekkan oleh kaum YHWH-Changer! Tak ada izin ilahi untuk membatalkan pengucapan Nama SuciNya kecuali tafsir-tafsir rabinika yang ingin memperkokoh legalisasi otoritas mereka dengan ancaman kekudusan Sang Nama!

Menengok Jejak-Jejak Penghilangan Nama Suci
Aturan-pengucapan Nama Suci tidak tampak diberlakukan larangan serempak, melainkan  berkembang lewat tradisi-sekunder yang sudah kita bicarakan didepan.  Larangan pokok tadinya –yaitu tradisi –primer– mengacu kepada tradisi baku Dasa Titah YHWH, tetapi lambat laun berkembang kepelbagai arah larangan ‘tafsir rabbinik’ secara partial dan bersifat kondisional, seperti …

*Nama Suci tak boleh diucapkan dengan suara keras (namun boleh suara bisik-bisik saja)… *Tidak diucapkan ditempat umum. Ditempat umum, nama Suci diucapkan dengan nama pengganti (Adonai). Ditempat ibadat, imam-imam mengucapkan Nama Suci sebagai mana yang tertulis (YHWH)  (lihat Misnah Sotah 7:6)… *Orang awam dilarang ucap kecuali Imam-imam dan yang tertentu saja… .*hingga akhirnya hanya diizinkan kepada para Imam Besar saja, dan itupun khusus dalam Bait Suci Yerusalem dihari raya khusus…..

Kita melihat bahwa sejak Musa hingga akhir dari penaklukan Babylonia pengucapan Nama Suci masih dilakukan oleh Ahli Taurat Ezra bersama umatNya. Dan baru pada masa pemunculan Septuaginta terjemahan Yunani dari Kitab-kitab Ibrani –mulai sekitar 280 SM hingga abad ke-1 SM– tampak nyata bahwa tetragramaton (4 huruf YHWH) itu makin disembunyikan pelafalannya dan akhirnya digantikan dengan kata “Kyrios”. Namun tak ada keraguan bahwa pelafalan Nama Suci itu dikenal oleh para Imam yang harus mempertahankan nama itu bagi umat Yahudi. Nama Suci tetap  diserukan oleh pihak Imam Besar dan kalangan kudus lainnya khususnya tatkala menyampaikan Berkat Imamat (Priestly Blessings) kepada umat –seperti yang diperintahkan YHWH dalam Kitab Bilangan 6:24,25,26– yaitu dengan menyerukan Nama Suci YHWH sebanyak 3 kali. Dan lebih khusus lagi tatkala Imam Besar melaksanakan liturgi-raya di-Hari Penebusan atau Yom Kippur di Bait Yerusalem setiap tahun. Disitu Imam Besar menyerukan 10 kali nama YHWH dengan suara keras (Talmud-Mas.Yoma 39b). Belum lagi adanya keharusan bagi para imam untuk meneruskan Nama Suci ini kepada anak-anak atau para murid mereka, 1 atau 2 kali setiap 7 tahun (Babylonia Talmud, Kiddushin 71a). Bagaimanapun, pelafalan Nama Kudus itu  tidak hilang  melainkan dikenal, diajari dan diturunkan diawal masa pasca Yesus mengingat Talmud Babylonia itu baru diselesaikan secara final sekitar tahun 550 M dalam dua bahasa Aram dan Ibrani (https://www.sefaria.org/Kiddushin.71a.9?lang=bit&with=all&lang2=en) Singkatnya, Encyclopaedia Judaica menyebutkan “pelafalan Nama Suci YHWH yang asli dan benar tidak pernah hilang dari ingatan manusia” (EJ, 7, p.680). Pengucapan Nama Suci tetap berjalan paling tidak selama Bait Suci Yerusalem masih ada berfungsi. Dan dipercaya bahwa Imam Besar Kayafas dan kelompok sucinya (Luk.3:2; Yoh.11: 47-52) juga mengetahui pelafalan mulia itu. Dan itulah pada rentang zaman Yesus, hingga Bait Suci dihancurkan Romawi ditahun 70 M.

Vokalisasi tetragramaton telah dikonstruksikan oleh banyak sekali para ilmuwan dari pelbagai bidang keilmuan yang pada akhirnya menyimpulkan bahwa pengucapan tetragramaton yang paling dipercaya dan didukung paling luas oleh kalangan ilmuan dan teolog.adalah YAHWEH atau YEHOVAH atau YEHUWA (dengan beberapa bunyi pergeseran lidah lainnya) dan pelafalan transliteratif lain yang mungkin. Semuanya tidak keluar dari kerangka akar kata, vokal kata, dan makna asli dari batang tubuh “YHWH” itu sendiri.

Bahwa ada beberapa pelafalan yang dianggap tidak pasti dan persis—seperti  Yahowah, Yehovih, Yahwih dll hal itu hanyalah bentuk transliterasi didalam lingkup realm “YHWH” –-bukan varian-varian yang diambil/comot dari luar lingkupnya seperti pelabelan kata “TUHAN” atau “ALLAH”. Pelabelan demikian telah menjadikan dirinya ibarat UFO –total alien keluar dari sumber aslinya dan makna esensinya yang berdiri diatas fondasi “AKU ADA YANG AKU ADA”!

Betapapun yang kita lafalkan dari bibir kita untuk mensuarakan Tetragrammaton YHWH,  tetaplah tidak akan sama persis sounding, tarikan, dan intonasinya  seperti yang YHWH (atau Musa) sendiri ucapkan dari mulut dan bibirNya. Tidak ada bjad atau aksara dan tanda-tanda-vokal manapun yang mampu 100% menuliskan suara. Keduanya dalam dimensi yang berbeda.


Akhirnya, mengingat namaNya itu beyond understanding (Hak.13:18), maka kita justru bisa dipuaskan dengan kenyataan bahwa namaNya yang ‘beyond the exact sound and script’ itu layak menyisakan porsi misteri yang memang Tuhan SUDAH PERUNTUKAN bagi kemuliaanan DiriNya sendiri: “Kemuliaan Elohim ialah merahasiakan sesuatu, tetapi kemuliaan raja-raja ialah menyelidiki sesuatu” (Ams.25:2).


ALHASIL: Kita sungguh tidak mengerti logika dari para “penolak menggunakan nama YHWH” yang menuntut kepersisan vokalisasinya ‘YHWH’, tetapi justru mendukung penyimpangan vokalisasi kata ‘TUHAN dan ALLAH’ yang justru extrim jauh dari kepersisan nama aslinya! Apalagi ini jelas menyeret penyimpangan makna Nama Suci, dari makna aslinya yang imanen & transenden “I AM THAT I AM”, kini total tereduksi menjadi “Sang Penguasa” TUHAN!…

Keuntungan Menggantikan Nama Suci:
Mendapati Terjemahan Yang Putus Asa. 

Orang awam non-Kristen sangat tahu apa artinya kata kata “Tuhan” dan “Allah”, tetapi sungguh tak paham sedikitpun apa itu “TUHAN” dan “ALLAH” semua huruf besar yang telah dijejerkan disamping kata Tuhan dan Allah dalam Kitab- Sucinya orang Kristen. Bagaimana dengan orang Kristen awam? Mari kita simak bersama.

THE WORD-PLAY BERIKUT INI
(A). Mari baca Kitab Yesaya 61:1,
“Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku..”  
[The Spirit of the Lord GOD is upon me; because the LORD hath anointed me…]

NOTE: Ayat pusaka ini sengaja dicari dan dikutib oleh Yesus ketika Dia berkotbah disebuah rumah ibadat di Nazaret. Lihat Lukas 4:18-19. Yang interesting disini apakah Yesus membaca ayatnya dalam nama YHWH atau TUHAN atau ALLAH? Kita tidak singgung ini dulu disini tetapi nanti di bab Serial-6: “Apakah Yesus Tahu- Menahu Tentang Nama & Pelafalan YHWH?”.

Pertama-tama, apa makna dan maksud dari 4 jenis PANGGILAN MULIA  yang di-beda-bedakan dalam ayat tersebut. yaitu: “Tuhan, TUHAN. Allah, dan ALLAH”.  Kita yang awam hingga sarjanapun pasti melihat bahwa ada keterpaksaan pemlintiran dan pergantian istilah Tuhan dan Allah disitu. Bacaan yang lurus, gramatikal dan logik-nya tentunya harus berbunyi:
Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena ALLAH telah mengurapi aku…”.

Bukankahkata ALLAH di-induk kalimat  harus SAMA dengan ALLAH yang di-anak kalimat? Tetapi disini ternyata prinsip yang benar dan lurus tidak bisa dijalankan. Kekonyolan dari word-game ini seharuslah dipertanggung jawabkan  dengan seksama:
(1). Apa beda TUHAN dengan ALLAH disini? Dan
(2). Kenapa sesudah menggantikan nama YHWH dengan TUHAN, kini Anda YC masih harus menggantikannya dengan ALLAH dianak kalimat kedua?
Nah, Inilah upah dari kesepakatan yang semrawut diantara para ahli Kristen yang ngotot menolak kata suci YHWH! Sebab pilihan bacaan yang TERBAIK & SEMPURNA sesungguhnya hanya se-simple back to basic Bible yaitu,
“Roh Tuhan YHWH ada padaku, oleh karena YHWH telah mengurapi aku”!
Itulah produk terjemahan akrobatik yang putus asa, hasil belat-belit semrawut terjemahan Nama Suci yang telah ditukar gulingkan demi sinkron terhadap tradisi, namun tidak sensitif terhadap relevansinya dengan hukum “Jangan menyebut nama YHWH dengan sembarangan”!

(B).  Bandingkan lagi dengan Kel.23:17 (LAI),
“Tiga kali setahun semua orangmu yang laki-laki harus menghadap
ke hadirat Tuhanmu TUHAN”.
[(… shall appear before the Lord GOD (Tuhan TUHAN)].

Apa artinya “Tuhan(mu) TUHAN”? Padahal sangatlah sederhana dan benar akurat bila diterjemahkan lurus saja menurut aslinya:
 … harus terlihat di hadapan Tuhan YHWH (Terjm.ILT).
Singkat kata, akhirnya begini saja kita berkata,
Pronoun “Tuhan” is just common, well understood, but “TUHAN”
 is never a right choice, it is man made name, unauthorized by its own…

Dengan perkataan lain, lagi lagi itu adalah produk terjemahan yang putus asa.

Ada lagi contoh menarik yang memperlihatkan absurditasnya yang tidak terlalu kentara karena kita sudah terbiasa saja membacanya begitu. Namun sesungguhnya telah terjadi pencemaran antara SOSOK dengan NAMA disini.

Re Keluaran 34:1-7, khususnya ayat 5-7, Terjm LAI:

“Turunlah TUHAN (YHWH) dalam awan, lalu berdiri di sana dekat Musa serta menyerukan nama TUHAN (YHWH). Berjalanlah TUHAN (YHWH) lewat dari depannya dan berseru: “TUHAN, TUHAN (YHWH, YHWH), Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat.”


Perhatikan bahwa Tuhan bisa memanggil nama diri-Nya sendiri dengan bebasnya. Kenapa begitu? Itu karena Sosok dan NamaNya selalu menyatu (akan diperjelas nanti). Namun apabila namaNya telah diganti manusia, maka mustahil Dia bisa memanggil balik kepada diriNya sendiri dengan nama ganti yang bukan propertiNya! Perhatikan kalimat pertamanya:
“Turunlah TUHAN dalam awan, lalu… menyerukan nama TUHAN”.
Ini  versi ajaib buatan manusia, sebab Tuhan (Sosok) yang turun dari  Sorga itu mustahil menyerukan nama-diri “TUHAN” (yang manusia berikan kepadaNya secara ilegal) SAMBIL mengganti nama asliNya! Nama pengganti yang diserukan itu tidak pernah keluar dari mulutNya kepada Musa sejak tahun 1300 SM, hingga sekarangpun! Ingat, oknum dengan nama pengganti tidak dapat berseru balik kepada nama pengganti KECUALI DIA SENDIRI SUDAH MENSAHKANNYA.

Apalagi dengan ayat di kalimat kedua, terdengar seruan langsung dari mulut TUHAN sendiri yang menyerukan  “TUHAN, TUHAN” dalam bentuk nama pengganti: Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru:
“TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih,
….”.

Tuhan manakah yang Tuhan Musa itu serukan?
Apakah Tuhan Musa itu ada yang selain YHWH?
Tidakkah ini suatu skenario dari umat Tuhan yang kebablasan ketika Sosok YHWH sesudah digantikan namaNya oleh manusia), lalu diskenariokan lagi dengan memproklamirkan nama pengganti ini –oleh mulutNya sendiri– seolah ABSAH bagi diriNya? Teks aslinya menyatakan secara lurus bahwa “YHWH berseru: YHWH, YHWH…” dan  itu adalah keseluruhan AKULAH yang berseru; “AKULAH, AKULAH…”, yang mana YHWH serentak memanggil YHWH secara tepat: Ya DiriNya, Ya NamaNya! 
Sebaliknya, jikalau nama-DiriNya diganti dengan kata ganti TUHAN, maka hal itu mustahil terjadi, sebab SOSOK yang digantikan namaNya, mustahil bisa serta merta memanggil NAMA yang menggantikan”.

NOTE: Dalam appendix Alkitab versi LAI, bagian  Kamus Alkitab hanya diterangkan  istilah TUHAN sebagai “Salinan dari nama Allah Israel, yaitu Yahweh”. Ini tidak memadai dan membingungkan: Apa dimaksudkan dengan “salinan” disini? Apakah itu berarti kutiban, copy-an, terjemahan, transleterasi, atau lainnya? Kenapa dan bagaimana itu disalinkan sehingga ada muncul lafalan “Yahweh” dari manuskrip/kitab yang disalini, dan bukan YHWH atau ADONAI? Dan apa itu “ALLAH” yang mau disejajarkan atau diibedakan dengan kata TUHAN dan Yahweh? Kenapa dihindari samasekali dan tidak berani dijelaskan? Pengamat yang kritis segera akan berkesimpulan bahwa penterjemahan disini telah terkusut, dan tidak ada bahan lagi disini (putus asa?) untuk mencoba mendefinisikan pembedaannya antara ALLAH dengan TUHAN. Tidakkah itu sebuah tanda peringatan dari YHWH yang mahabaik, bahwa bilamana Nama SuciNya disembarangi maka akan timbul masalah inkonsistensi yang absurd?! 

Pesan Tuhan jelas, lurus dan gamblang: “…YHWH akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan” (UL.5:11). Tetapi, kita selalu lebih senang menegakkan kebenaran tradisionil kita dengan preferred name kita dengan asumsi tafsiran privat atau kolektif  kita, tetapi yang justru berujung dengan meninggalkan sejumlah masalah baru yang tak terselesaikan bagi kita:

  • Apakah nama “TUHAN” itu nama yang kekal (sperti YHWH)?
  • Darimana datangnya nama T.U.H.A.N atau A.L.L.A.H itu sehingga bisa menjadi nama- diri suatu sosok, yang dijejerkan sesukanya (baca: sembarangan) kepada Tuhan Semesta Alam?
  • Siapakah yang sudah memberi atau diberi otoritas untuk memanggilNya TUHAN?
    Ya, hanya Hagar yang pernah memberi nama khusus kepada YHWH — nama yang Hagar sendiri sudah dengar. Namun Nama pemberian Hagar samasekali bukan untuk menggantikan, melainkan untuk turut memberi kesaksian seraya mensyukuri Dia yang YHWH, yaitu dengan sebutan EL-ROI, The God who sees me. (Kej.16: 11 dan 13)
  • Sekalipun Yesus “sepertinya” dipakai sebagai dalil & tameng bahwa Ia tidak pernah melafalkan kata YHWH, namun bukankah Yesus juga absen memanggil TUHAN? [Dan siapa bilang Yesus tak pernah panggil YHWH? See pasal akhir]
  • Diakrobat seperti apapun, dapatkah Anda menyamakan YHWH identik dengan  TUHAN (dan ALLAH) dalam segala dimensi inheren-Nya?
  • “CARILAH WAJAH YHWH”:
    Pemazmur berkata bahwa YHWH mempunyai “wajahNya Tuhan” (Maz 27:8), yang membawa natur aslinya secara penuh. “YHWH” mempunyai cahaya, enersi, power dan hidup. Sebaliknya  ‘TUHAN’ tidak ada keaslian apapun disitu kecuali dilabelkan seolah identik.
    Pengabjatan T.U.H.A.N itu hanyalah sebuah nama generik tadinya, yang dikenakan label atau JUBAH LUARANsupaya bisa disepakati bersama sebagai nama pribadi untuk ketuhanan, Sang Penguasa!  
  • Maka kembali kita diingatkan akan kaidah bahwa penggantian nama pada dasarnya berarti memberi status baru yang berbeda, atau lebih tinggi, atau lebih rendah dari status sebelumnya. “Each thing is what it is and not another thing”.

Tetapi Yesus justru sudah berkata dengan sangat lugas:
“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat” (Mat.5:37).

(Bersambung ke Serial ke-6)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *