Siapa Bilang Tuhan Boleh Dipanggil dengan nama ALLAH atau YAHWEH dan Itu Sama Saja!

Siapa Bilang Tuhan Boleh Dipanggil dengan nama ALLAH atau YAHWEH dan Itu Sama Saja!

KONTRA POLEMIK: Nama YHWH vs. ALLAH Serial -4

YANG ADA VERSUS YANG TIADA

Sebenar benarnyalah, tidak ada satu manusiapun yang boleh berbicara tentang nama pribadi Tuhan. Tidak boleh karena memang tak ada manusia yang tahu apa dan siapa itu sejatinya Tuhan, ditambah lagi bahwa kita-kita ini terlalu hina – jadi akan terlalu lancang — untuk kasak-kusuk ‘menggosip nama Tuhan-Allah’. Manusia yang terbatas tak pernah mampu berbicara tentang dirinya sendiri, apalagi sosok Tuhan Semesta yang tidak terbatas.

Mahkluk ciptaan Tuhan hanya bisa tahu tentang Diri Penciptanya & NamaNya apabila & hanya apabila –INI AXIOMA–  Tuhan sendirilah yang memberitahukan hal maha-pribadi ini kepada kita lewat pewahyuanNya yang secara terbuka.  Dan EQUALY-TRUE (turunan dari axioma tsb) adalah Axioma-Barengan yang sama benarnya bahwa sekali nama pribadi itu sudah diberitakan dari mulutNya Tuhan, maka tidak ada seorangpun lainnya yang boleh lancang mengubah, mengganti, atau menghilangkannya!

Akan tetapi sepanjang sejarah kemanusiaan, tak ada tuhan-tuhan manapun yang pernah memproklamirkan namanya, kecuali satu Tuhan saja, yaitu dari pewahyuan Alkitab. Syukurlah bahwa Dia ini berkenan memberitahukannya kepada umatNya lewat Musa, secara langsung dari mulutNya sendiri, yaitu memperkenalkan namaNya sebagai ‘YHWH’. Sejak itu barulah umat manusia mengenal nama ini diserukan dan dipujikan paling luas dan sepenuhnya oleh nabi-nabi di PL, khususnya Daud! Hampir disetiap pasal Mazmur Daud, nama YHWH praktis diserukan berulang-ulang sampai lebih dari 700 X. Dan Daud sendiri berseru: “YHWH TELAH MEMPERKENALKAN DIRINYA” (Mazmur 9:17).

Seruan ini bukan sekedar kesaksian Daud atas apa yang dia tahu nama ini dari leluhurnya, melainkan juga dari pewahyuan langsung  YHWH kepadanya. Dan bahkan merupakan sebuah nubuatan yang mungkin belum disadari oleh Daud waktu itu bahwa kelak YHWH akan telah memperkenalkan diriNya lewat keturunannya dengan nama YEHOSHUA, YESUS, “YHWH Menyelamatkan”! Menjadikan ayat tsb sekaligus seruan proklamatif bagi nama YHWH secara profetik. Tidak heran dipaling akhir dari Mazmurnya, Daud pun menutupnya dengan seruan pujian yang profetis pula:
“BIARLAH SEGALA YANG BERNAFAS MEMUJI YHWH!  Haleluyah! (Maz.150:6).

Seperti yang sudah bisa diduga dan disepakati, nama Sang Pencipta pasti bukan hanya sekedar nama panggilan biasa, melainkan nama yang Ajaib, Kudus dan Dahsyat, satu-satunya nama yang luar biasa dan yang menggentarkan! “AKU ADALAH AKU – YHWH”, itulah Tuhan alam semesta yang selalu ada dan sedia mengikatkan diriNya dengan segala perjalanan kehidupan umat Israel, bangsa pilihanNya

Sebaliknya, tuhan yang bukan Tuhan, bisa seperti bergaung hebat tetapi tidak pernah tampak bermanifestasi. Dia sebenarnya non-exist alias tiada. Dia hanyalah sosok fiktif, yang diada-adakan oleh pemujanya, dan itu persis yang Raja Daud katakan dalam Kitab Mazmurnya: “Sebab segala allah bangsa-bangsa adalah hampa, tetapi YHWH-lah yang menjadikan langit” (Maz. 96:5).

YHWH sesuai dengan namaNya adalah Sang-Ada. Dan memang hanya Dialah yang ada, dan yang mencipta segala sesuatu yang ada dari yang tiada. Ia menunjukkan (memanifestasikan) diriNya yang eksis, serta mempertontonkan kuasa mukjizat-Nya yang dahsyat! Dia berfirman dan memperkenalkan nama pribadiNya langsung dari mulutNya. Sedangkan alah-allah selainnya hanyalah abal-abal yang hampa, dianggap berkata-kata tapi tak pernah terbukti berfirman dari mulutnya. Manusialah yang mengklaim bahwa alah-allah ini menurunkan “wahyu langsungnya”, walau tak ada bukti dan saksi apapun yang mendukungnya. Namanya hanyalah sebuah penggelaran yang diberikan oleh para pemujanya secara konsensus, keberadaannya diklaim dan dimitoskan, dan ritual penyembahannya disakralkan dan dibuatkan upacara venerasinya  … dan jadilah dia seorang DEWA!

Tatkala manusia-manusia pintar sekarang ini mencoba memperdebatkan nama yang ADA ini versus yang TIADA, mereka sebenarnya sudah meletakkan premis yang salah dalam dasar perdebatannya, betapapun ilmiahnya! Adakah ADA bisa di-versus-kan dengan TIADA? Namun yang terjadi adalah bahwa kita-kita ini sungguh sudah disuguhi – sampai kenyang– menyaksikan adu argumentasi dan perdebatan-perdebatan yang hiruk pikuk dan nyaring bunyinya dalam pelbagai macam kemasan keilmuan, namun kontradiktif , kosong dan sia-sia! Lihat 1Tim 6:20-21.

PARA PEMIMPIN  DUDUK DIKURSI MUSA

Dari dulu, kita sudah menyaksikan betapa gencar debat antar para pemimpin gereja dan pakar-pakar teologi tentang isu nama YHWH versus Allah. Kita saksikan juga di Youtube yang banyak mem-videokan pandangan, diskusi dan perdebatan-perdebatan yang dimulai dengan harapan besar (seperti yang terlihat dalam doa & pidato pembukaannya) bahwa kehadiran kedua pihak ini adalah untuk saling berdialog tentang nama Tuhan dalam kasih dan hikmat Tuhan. Akan tetapi praktis semuanya berakhir dengan saling menuding dan bersuara sengit dalam menyerang dan mengolok penuh emosi. Yang satu melabel diri dengan MOKSA (Mengapa Orang Kristen Sembah Allah), dan lawannya MAKSA (Mengapa Alergi Kristiani Sebut Allah). Yang satu mencap yang lain pendusta, bodoh, tidak jujur, sesat… sampai ada yang berani mengklaim bahwa RohKudus telah mengesahkan kata “Allah” untuk dipakai di Alkitab, bla-bla-bla… Dan apa hasil kesudahannya? Nol besar, tanpa kesimpulan apapun kecuali huru-hara dipihak audience! Bukannya masing-masing pihak makin bisa menghargai dan memahami, melainkan makin keras  prejudices, permusuhan serta umbar nafsu untuk mengalahkan yang lain … dan akhirnya tragis, meluap hingga berperkara ke Pengadilan resmi! Bayangkan! Betapa manusia tegar tengkuk saling berperkara di pengadilan dunia, tentang sesuatu yang mereka tak punya otoritas apa-apapun : Nama Tuhan Sang Pencipta yang di sorga!
Padahal tiap pihak ini sangat paham dari ayat Tuhannya: “…tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Tuhan selain Roh Tuhan” (1 Kor 2:11).

Alkitab memperingati kita berulang kali agar tidak mudah termakan oleh para ahli teolog dan pengajar-pengajar yang kebablasan, yang ahli membius dengan frasa dalil-dalil dan filsafat yang kaya, penuh keilmiahan. Yang logis dan enak didengar dipermukaan, namun pada dasarnya itu adalah frasa keduniaan yang tidak berlandaskan kepada ultimate truth dari sang Pencipta. Kristus berkata secara simple dan lurus, “Akulah… Kebenaran (Yoh.14:6). Akan tetapi bahkan bagi seorang Pilatus yang pakar dan penguasa hukum, toh sampai harus bertanya: “Apakah kebenaran itu?” (Yoh 18:38a). Dan kita tahu bahwa Yesus bukan berbicara tentang kebenaran abal-abal ala dunia, melainkan Dia adalah Kebenaran itu sendiri. Sang Benar!

Namun paparan demi paparan ilmu dan ajaran terus dilakukan saja oleh para “Ahli Taurat” demi untuk ”menyempurnakan” apa yang Sang Benar sudah sampaikan secara lugas dan cukup (properly sufficient) tentang diriNya. Pelbagai cara makin dilakukan orang secara smart play keilmuan termasuk antara lain praktek-praktek “politically corect” berikut, semisal:
* mereduksi atau menambahi, *menggeser atau mengaburkan isu inti,
*men-generalisasi atau mengkompromikan, atau menyimpulkan dengan deduksi bias. Mereka ahli mencari dan pilih-petik literatur/inskripsi yang dikira sesuai, mengenakan analogi plintiran dan bahkan sengaja membiaskannya ketika mem-parafrasakan suatu petikan. Tidak jarang mereka mempersilang atau mendramatisasi suatu isu secara spekulatif dll dll.

Alkitab wanti-wanti memperingatkan tentang penyelewengan otoritas Tuhan didalam BaitNya. Namun kini malah menjalar hingga kepada pelataran bait dan meluap keluar. Sedikitnya ada tiga peringatan yang Tuhan layangkan nyaring kepada kita sebagai domba-dombaNya:

Pertama, Yesus mengingatkan kita tentang noraknya arogansi dan nafsu para pemimpin rohani  yang disebutNya sebagai para munafik. Mereka berlomba untuk memperebutkan otoritas pengajaran dan Taurat Musa: “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. (Mat 23:2). Jikalau 2.000 tahun yang lalu sudah begitu, apakah anda mengharapkan diabad kita ini bahwa “perburuan untuk menduduki kursi Musa” itu menjadi berkurang? Samasekali tidak!

Kedua, Rasul Paulus juga memperingatkan Jemaat Korintus untuk jangan hanya bersabar saja menyaksikan pemberitaan lain yang menyelewengkan sosok Yesus, Roh, dan Injil dari apa yang aslinya sudah diberitakan (2Kor.11:4).

Ketiga, juga tak ketinggalan peringatannya kepada Timotius untuk ber-awas-awas tentang apa yang disebut dengan “pengetahuan” yang menyesatkan:

Hai Timotius, peliharalah apa yang telah dipercayakan kepadamu. Hindarilah omongan yang kosong dan yang tidak suci dan pertentangan-pertentangan yang berasal dari apa yang disebut pengetahuan, karena ada beberapa orang yang mengajarkannya dan dengan demikian telah menyimpang dari iman” (1Tim 6:20-21).

Bahaya terbesar yang dihadapi gereja-gereja dewasa ini justru adalah pesan dan ide-ide yang nyeleweng yang dilontarkan oleh para pemimpin rohani yang mendaulat kursi Musa, dan menyelinapkannya secara licin tak terkendala kedalam kesatuan tubuh Kristus. Tidak satupun dari kita yang IMMUNE terhadap penyiasatan ilmu Injil-Injil yang palsu.  “Siapakah yang dapat mengetahui kesesatan? Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari.” (Maz.19:13). Kita hidup dalam dunia yang membingungkan secara moral. Sangat mudah dan lumrah kita meng-angguk-angguk terhadap setiap kalimat yang diucapkan oleh pemimpin karismatik yang kita favoritkan. Namun apakah semuanya itu murni Alkitabiah sebagaimana yang Tuhan maksudkan? Mana yang terdengar baik (SOUND RIGHT), dan mana yang sebenarnya benar (ACTUALLY TRUE)? Ini merupakan pencaharian yang melelahkan dan yang menyebabkan frustrasi. Maka itulah sebabnya anak-anak Tuhan yang milenial malahan sudah mulai bertanya-tanya apakah kekristenan ini memerlukan pemikiran ulang atau malahan re-invention…?

TUHAN PUNYA RANAH PRIVAT

Tetapi puji Tuhan, selalu ada Kabar Baik bagi mereka yang letih kelelahan, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat.11;28). Pondasinya adalah “Back to Basic Bible” (BBB) yang akan kita paparkan disaat ini.

Kita mulai dengan “problem identificaton”, yaitu menyimak natur perdebatan sia-sia yang terjadi selama ini. Apakah sejatinya pokok isu yang terus diperselisihkan oleh para petinggi rohani kita selama ini tetapi berakhir dalam kepahitan yang getir? Bukankah itu antara lain tentang nama ‘YHWH versus Allah’?  Dimana pihak yang satu hanya mau menerima satu-satunya namaNya, sementara pihak kedua justru mau melestarikan kedua nama tsb?

Nah, bilamana itu saja isunya – tentulah hal tersebut amat simpel solusinya dan mudah dinetralkan (diperdamaikan) dalam saling kerendah-hatian, kasih dan hikmat Kristus didalam kedua kubu. Jauhkan diri dari bayangan iming-iming kursi Musa, melainkan berilah suatu sofa bersama yang mendukung kesatuan roh BBB dalam tubuh Kristus.

Mari, kita cari pangkal masalahnya dengan merendahkan tegar tengkuk.
Bukankah setiap kubu telah menggunakan Kitab Suci yang sama?
Jadi yang tidak samanya dimana? Ternyata cara pendekatan dan penafsiran masing-masing pihak terhadap Kitab-Kitab Suci  itulah yang berbeda, dan yang memisahkan keduanya! Segera terlihat para petikai ini tidak sensitif dalam memperhatikan ISU SUBSTANSI SPESIFIK yang dipertikaikan tsb, sehingga masing-masing memakai metode baku penafsirannya sendiri-sendiri, walau mungkin (?) kedua mereka sama mengakui prinsip SOLA SCRIPTURA . Ini yang harus diawasi dengan lebih sensitif sehingga kita tidak jatuh dalam debat kusir.

Pada dasarnya semua tafsiran sangat tergantung kepada apa subyek yang mau diselidiki! Bila subyeknya lebih bersifat umum, maka pendekatan pemahaman firman yang bersifat Penafsiran Terbuka—tentu bisa menjadi pilihan. Misalnya penafsiran tentang kelahiran Yesus hingga kepada  penguburanNya dll yang memang banyak bersinggungan dengan tradisi dan budaya. Akan tetapi sebaliknya, bilamana isu-nya menyangkut nama Tuhan yang sakral (!), itu adalah dalam ranah privat Tuhan yang memang tersembunyi, dan karenanya kita HARUS mengandalkan prinsip Sola Scriptura yang dibatasi hanya dalam finalitas  Kanon- Tertutup (Closed Canon). Sedemikian sehingga kita bisa menjaga lurus, tidak cenderung terbius dan melenceng kepada paparan menarik yang sound right, namun yang tidak actually truth!  Dan ini tepat dikenakan pendekatan  Back to Basic Bible (BBB). Dan inipun perlu lebih dijelaskan, karena BBB bukan penafsiran hurufiah seperti yang sering disalah pahami dan dianggap sempit –seolah menyempitkan kebesaran Tuhan– dalam kesan yang negatif. Tetapi untuk ranah privat Tuhan ini kita semua memang harus disiplin dan tunduk dengan HUMBLE kepada otoritas pesan kebenaran hakikinya Tuhan. Walau penggalian dunia seolah bisa memberikan iluminasi, namun kita hanya mengadopsi Kanon Tertutup sebagai pewahyuan (revelation dan inspiration) yang absah dan cukup bagi kebenaran jatidiriNya, yang tunggal, final dan berotoritas!

A. Dalam BBB, kita percaya tiga hal, bahwa (1) Tuhan punya ranah privat-Nya yang sakral, yang dibatasiNya sendiri terhadap manusia yang sering lancang dan memang terbatas, “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi YHWH, Elohim kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya” (Ul.29:29).  Ini misalnya tentang nama dan keberadaan DiriNya (1Kor2:11) atau tentang rahasia Kerajaan Sorga (Mrk.4:11), kedatangan hari Tuhan/kiamat (Mat 31:32) dll yang supra natural, yang memang pantas diistilahkan sebagai AJAIB (secret, beyond understanding – Hak.13:18).

B. Dan karenanya, (2) hanya firman Tuhan yang dapat menjelaskan tentang Tuhan. Tegasnya, diwilayah sakral ini tidak ada manusia, tradisi, histori, kutipan inskripsi /literatur dll yang boleh dijadikan sumber teologi-tambahan untuk menafsirkan kemahaan Tuhan, misalnya tentang namaNya. Argumentasi congkak yang memaksa atau menghadirkan nama-alternatif lain yang dispekulasikan/di-reinvented atas nama ilmu pengetahuan diluar presupposisi Alkitab akan berakhir sia-sia. Tuhan Yang Maha memang membatasi kuriositas (desakan untuk tahu) manusia pada porsinya yang terbatas dan tersembunyi.  Itu sudah diberikan, bukan sebuah penemuan! Dan sudah tertutup! Maka selebih dari itu adalah sikap yang lancang dari manusia yang hanyalah makhluk ciptaan.

C. Dan (3) Dia sebagai Tuhan yang Mahatahu memang sudah cukup & perlu untuk menjelaskan porsi diriNYA kepada umatNya. Inilah Kanon Tertutup. Apakah Anda dapat membuktikan konsep Tuhan Trinitas dengan contoh-contoh yang ada di alam semesta, benda materi atau  ilmu luar apa saja yang dapat anda sodorkan? TIDAK ADA! Karena dimensi keberadaan Pencipta berbeda dan terpisah dari Ciptaan.

BBB atau closed canon adalah bagian dari “harga mati” yang tidak bisa di-Tarik-tarik lebih jauh sesukanya, walau atas nama kecanggihan ilmu yang manapun dari dunia.  Bisa-bisa porsi tarikan tambahan  itulah yang menyesatkan sebagaimana Adam-Hawa telah disesatkan tanpa disadarinya. 

Kehakikian namaNya telah Ia letakkan dalam sifatNya Yang Kudus, Dahsyat, Ajaib, Cemburuan—yang cukup menjelaskan kenapa nama ini tidak memerlukan tambahan-tambahan  pendalilan semu, sejarah yang rusak, tradisi yang karatan, inskripsi-inskripsi yang tidak valid, dan teori-teori investigatif yang spekulatif .

NamaNya yang tersembunyi dan kudus telah memisahkan diriNya dengan mahklukNya dalam batasan porsi yang sudah diberikan – given by Him alone—sehingga tepat porsinya, yang disebut SEPERLUNYA & SECUKUPNYA! (Necassary & Sufficient, Rom 1:19; Yoh.20:30-31) sebab tanpa Roh Tuhan, tidak seorangpun mengerti Tuhan (1Kor.2:11).    

Contoh Praktis: UFO, Coronavirus, dan Sikap Anak Kecil
Dunia memuja ilmu pengetahuan dan informasi. Ya, itu tak bisa disangkal, khususnya untuk hal hal dunia fisik yang terbatas. Namun tatkala kita berurusan dengan sebuah sosok UFO misalnya, kaidah-kaidah ilmu dunia kita mungkin tidak memadai mengungkapkannya. Dan baru-baru ini saja, dengan isu wabah coronavirus yang telah begitu misterius membingungkan masyarakat dan para ilmuwan, bagaimanakah kita bisa menghadapi mahkluk ajaib ini secara langsung? Tatkala kita mau berdebat terbuka dan menafsirkan isu misterius  itu secara terbuka, maka kitapun harus memasukkan tafsiran yang digadang-gadang ada dimana virus itu sebagai TENTARA ALLAH dan vaksin obatnya adalah taubat! Sebaliknya kami yang (umpama) saat ini tak berdaya dan terbatas ilmu dan pengetahuan akan obatnya, maka dalam lingkup yang terbatas itulah kami menafsirkan obatnya yang SEPERLU & SECUKUPNYA, yaitu berupa: “Belum ada yang tahu obat penangkal virus ajaib itu, tetapi  kami menghadapinya dengan PRINSIP-PRINSIP DASAR KESEHATAN!”… Dan itu manjur!

Itulah contoh ilustratif isu ajaibnya nama-Tuhan, dimana kitapun harus kembali kepada BBB (Back to Basic Bible) prinsip-prinsip dasar Alkitab, sambil menggeser ilmu pengetahuan dunia yang tak bakal mampu menembus ranah privat & misterinya Tuhan..
Tuhan tidak cenderung melayani kita-kita yang bertanya-tanya secara “usil” demikian demi memenuhi nafsu kedagingan kita. Kepada umatNya Tuhan sudah memberi tahukan apa-apa yang perlu diketahui dengan secukupnya, supaya kita semua percaya.                                                                                                                           

Di wilayah yang utama dan sakral, menghadapi Bapa yang Mahabesar disini, kita seharusnya bersikap dengan prinsip-prinsip keluguan bak seorang anak kecil saja yang mengandalkan bapaknya (yang Yesus puji, lihat Mat 18, 19:14). Percaya dan berserah, memegang lurus apa yang bapaknya sudah sampaikan kepadanya – tentang namanya– yang pasti sudah sempurna dalam ruang lingkupnya. Ya, Yesus telah memasukkan anak-anak lugu ini dalam KerajaanNya! 

MEMAHAMI RAHASIA PENYATAAN NAMA YHWH

Memahami rahasia Nama Tuhan dimulai dengan kesadaran bahwa Tuhan itu punya ranah privat, tersembunyi seperlunya dan secukupnya untuk dinyatakan kepada manusia. Kita bisa lihat contoh TIGA kasus dibawah ini : Manoah dan Yakub dan Musa ; yaitu ketiga sosok manusia yang pernah bertanya kepada Sosok Ilahi tentang namaNya. Tampaklah betapa aneh dan ajaibnya Tuhan dalam menjawab mereka satu-persatu. Semuanya ini membantu kita untuk memahami secuil saja (yang toh besar dan berharga!) kedaulatan Tuhan atas penyataan namaNya. Dia sengaja melakukan penyataan bertahap dalam tahapan waktu, ruang, dan subyeknya kepada siapa penyataan itu masing-masing ditujukan.  Itu Dia sikapi secara aneh/ajaib dan berbeda dalam ranah privatNya yang satu ini: ada yang diberi jawaban yang sepesifik, otoritatif dan insight yang dalam (seperti kepada Musa), ada pula yang TANPA menghiraukan sama sekali apa kepentingan si penanyaNya (Yakub dan Manoah). Simak baik-baik…

(1). Manoah, bapaknya Simson.
Apa yang terjadi ketika Manoah mau mencari tahu siapa nama seorang abdi Tuhan yang rupanya mirip malaikat Tuhan? Ia bertanya “Siapakah namamu”? Namun aneh bahwa pertanyaan tersebut diabaikan samasekali oleh Malaikat  Tuhan yang ditanyai itu. Sebagai ganti jawabnya, Malaikat Tuhan cukup merujukkan kepadanya kata kunci AJAIB (rahasia, melampui pengertian) yang bersifat tertutup, tidak dibukakan lebih jauh (Hak.13:18). Itulah ranah ketersembunyianNya yang teramat privat  dan transendental .

 (17)  Kemudian berkatalah Manoah kepada Malaikat YHWH itu: “Siapakah nama-Mu, sebab apabila terjadi yang Kaukatakan itu, maka kami hendak memuliakan Engkau.”

(18)  Tetapi jawab malaikat YHWH itu kepadanya: “Mengapa
engkau juga menanyakan nama-Ku? Bukankah nama itu ajaib?” ……

(21)  Sejak itu Malaikat YHWH tidak lagi menampakkan diri kepada Manoah dan isterinya. Maka tahulah Manoah, bahwa Dia itu Malaikat YHWH. (Hakim-Hakim 13:17-21).

Pertanyaan Manoah itu tidak dijawab oleh Malaikat YHWH melainkan justru dibalas balik dengan pertanyaan beruntun:
“Mengapa engkau juga menanyakan nama-Ku?
“Bukankah nama(Ku) itu ajaib?”
 

Ini cukup jelas memberikan gambaran bahwa Tuhan tahu dan sekaligus ingin meluruskan nafsu naluriah manusia untuk mengetahui hal-hal yang ghaib, yang ajaib dan rahasia tentang namaNya. Dan atas nafsu itu pulalah Tuhan menolak mengungkapkannya. Dia mematahkan ke-ingin-tahuan Manoah karena sesungguh-nyalah hal itu tiada-guna, hanya sikap keingintahuan kedagingan Manoah semata. Maka jawabNya, “Bukankah nama(Ku) itu ajaib, rahasia (KJV), diluar akal (NIV)?”  Yang maksudnya dikembalikan lagi kepada Ulangan 29:29 dimana ada porsi-tersembunyi yang memang hanyalah milik dan kedaulatan Tuhan saja untuk mengungkapkannya.

Terkesan ada kelancangan/ tak layak bertanya yang sedemikian transendental-nya kepada Tuhan, bila itu hanya nafsu kedagingan. Perburuan nafsu manusia yang memaksa mencari jawabnya secara “spesifik inskriptif” akan terbentur dan percuma,  Dengan iluminasi roh yang porsinya tidak usah melebar kemana-mana, tapi toh akhirnya Manoah dan istrinya dicukupkan Tuhan dan berhasil tahu secara non-spesifk:
Maka tahulah Manoah, bahwa Dia itu  Malaikat YHWH!”

(2). Yakub di Pniel
Hal yang lebih aneh kita lihat dalam kasus patriark Yakub di Pniel, dikala dia bergulat dengan sosok Ilahi hingga fajar. Disini Alkitab menampilkan 3 hal yang berurusan dengan nama. Pertama, Sang Sosok yang mulai bertanya kepada Yakup, “Siapakah namamu?” Yakub menjawabnya.

Akan tetapi , Sang Sosok langsung menunjukkan otoritasNya dengan memaklumatkan nama Israel (awas, bukan mengganti nama) sebagai nama baru bagi Yakub. [Yang kelak nama tersebut melambangkan suatu umat Tuhan, bangsa Israel ]. Kini, giliran Yakub bertanya balik akan nama sang Sosok tersebut. Namun aneh, Yakub bukan menerima jawaban melainkan pertanyaan balik: “Mengapa engkau menanyakan namaku?” (Kej 32 :29). Konteksnya disini memperlihatkan bahwa sang Sosok bukan saja tidak menjawab, tetapi malah tidak mau menjawab, alias pertanyaan Yakub tidak diacuhkan, dan larangan untuk tidak usil! Maka Diapun segera pergi sesudah memberkati Yakub….

Namun sebelum peristiwa Pniel itu, di Betel YHWH langsung berbicara dalam mimpi Yakub dengan berkata: “Akulah YHWH…” (Kejadian 28:13, juga 16). Jadi YHWH sudah memperkenalkan namaNya secara spesifik di Betel. Tetapi sekarang di Pniel, Sosok Ilahi ini malah tidak mau memberitahukan namaNya, sekalipun ditanya. Kenapa begitu? Rupa-rupanya seperti kasusnya Manoah, kuriositas pribadi Yakub (akan nama Tuhan yang utama itu) tidak layak untuk Tuhan layani. Nama YHWH yang sudah dikenal oleh Yakub di Betel dan sebelumnya, sudahlah cukup mengiluminasikan namaNya yang Ajaib! Toh akhirnya Yakub sadar sepenuhnya bahwa Dialah YHWH, sehingga memberikan nama tempat tersebut Pniel, sambil berucap syukur: “Aku telah melihat Elohim berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong!” (Kejadian 32:30).

 (3). Musa dan Harun Diutus Meng-Ultimatum Firaun.

Berlainan dengan semua tuhan-tuhan di dunia, kita tahu hanya ada satu nama diri Tuhan yang dinyatakan langsung dari mulut Tuhan sendiri. Secara spesifik, penuh otoritas, dan sangat mendalam. Dan itu hanya Dia berikan kepada Musa di gunung Horeb (Kel.3:13-15). Musa-lah satu-satunya sosok penanya nama Tuhan di PL, yang Tuhan jawab langsung:
“AKU ADALAH AKU… YAHWEH, Elohim nenek moyangmu, … itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun” (Kel.3:14-15)..

Dan disusul kemudian, sesaat sebelum Musa  & Harun diutus untuk memberi ultimatum kepada Firaun, yaitu seperti tercatat di Kitab Keluaran pasal 6.

Awalnya seperti ada semacam teka-teki besar. Tampak di ayat-ayat pertamanya bahwa Tuhan telah membagi dua tahapan waktu untuk penyataan namaNya, yang bila diparafrasekan, jelas memperlihatkan pentahapan kontradiktif,
“Aku telah… tetapi belum”.  Itu karena “hanya” nama El Shaddai yang mula-mula dinyatakan Tuhan kepada patriark, tetapi kemudian kepada Musa mengapa diproklamasikan sebagai YHWH. Bukankah ini bermasalah?

“Berfirmanlah Elohim kepada Musa: “Akulah YHWH. Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Elohim Yang Mahakuasa, (El Shaddai) tetapi dengan nama-Ku YHWH Aku belum menyatakan diri.…
“Sebab itu katakanlah kepada orang Israel: Akulah YHWH. Aku akan membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir, melepaskan kamu dari perbudakan mereka dan menebus kamu dengan tangan yang teracung dan dengan hukuman-hukuman yang berat. Aku akan mengangkat kamu menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Elohimmu, supaya kamu mengetahui, bahwa Akulah YHWH… Dan Aku akan membawa kamu ke negeri yang dengan sumpah telah Kujanji-kan memberikannya kepada Abraham, Ishak dan Yakub, dan Aku akan mem-berikannya kepadamu untuk menjadi milikmu; Akulah YHWH.” (Keluaran 6:1-7).

Kembali kita melihat keanehan/ajaib tatkala berurusan dengan nama utama Tuhan. Dia berkata kepada Musa bahwa Ia (Aku) sudah menampakkan diriNya kepada Abraham, Ishak dan Yakub, sebagai Elohim yang Mahakuasa (El-Shaddai) ,
tetapi dengan nama-Ku YHWH Aku belum menyatakan diri.
Padahal bukankah nama YHWH itupun sudah dikenal dan dipanggil oleh moyang-moyang terdahulu , khususnya sejak zaman Set (Kej.4:26) dan seterusnya hingga Abraham, Ishak, Yakub dst? (Kej:20, 26:22, 13:4 dll).

Ini tampak seperti ada unsur kontradiksi intern sehingga sempat diramaikan oleh banyak ahli dengan penafsirannya yang terbuka, berbeda-beda dengan teorinya masing-masing.

Ada Commentary  yang mengakui bahwa sekalipun para patriark tahu akan nama Tuhan sebagai YHWH, namun mereka tidak mengenal Tuhan secara intim. Yang lain memahami ayat tersebut bukan sebagai kalimat penegasan, melainkan lebih berupa pertanyaan retorika yang swa-nyata (self-evident) dari Tuhan; ini mengingat gaya bahasa dan frasa Ibrani yang sering tidak diketahui bahwa  pembacaan kalimat tertentu adalah sebuah bentuk pertanyaan, kecuali bila kita selesai membaca keseluruhan konteks dasarnya. Sehingga ayat tersebut justru bermakna …. “tetapi dengan namaKu YHWH Aku belum-kah menyatakan diri?” Bahkan ada pula Commentary yang sampai mencoba menjelaskan kontradiksi  intern itu berasal dari kesalahan konsepsi yang terbangun karena Kitab Kejadian dan Keluaran telah ditulis dari “sumber” yang tidak sama sehingga tidak selamanya berjalan seharmoni….dll dll lagi.

Jadi, itulah kusutnya hasilnya, jikalau kita menafsirkan Tuhan (yang tak terbatas itu) secara terbuka, Padahal kita dapat melihatnya secara jelas dan sederhana dengan pendekatan BBB dalam paralelisme alkitabiah tentang kehadiran Roh Tuhan.

Bukankah Roh Kudus juga sudah ada dan berperan dari awalnya Kitab Kejadian? Namun dalam perjalanan kisah-kisah tentang moyang patriark Alkitab, penampilan Roh hanya pasif dan tidak signifikan di seluruh PL. Namun ketika kita menginjak kisah di PB, khususnya sesudah kenaikan Yesus ke sorga, mulai dari pencurahan Roh di Yerusalem, maka peran dan manifestasi Roh Kudus menjadi sangat implikatif dan menyentuh seluruh nafas perjalanan kehidupan dan penginjilan para Rasul dan umat Tuhan.

Jadi penyataan progresif nama YHWH kepada Abraham, Ishak dan Yakub di Keluaran pasal 6 memang sudah dilakukan YHWH dan sudah dikenal awal-awal oleh para patriark diatas (mirip dengan peran progesif Roh Kudus “yang masih pasif” di PL), namun frasa “dengan nama-Ku YHWH Aku belum menyatakan diri” … itu mengindikasikan bahwa para patriark ini belum (sampai) memahami implikasi sepenuhnya tentang nama YHWH tersebut, yang mencakup atribut-atribut keadilan, kebenaran, kesetiaan, welas kasih, dan kekudusanNya. Adalah Dia YHWH yang akan membebaskan umatNya dari perbudakan dengan segala kedahsyatanNya yang mengentarkan (lihat catatan NIV untuk ayat tsb).

CARA/TAHAPAN TUHAN MENYATAKAN NAMA-NYA

  Nama YHWH Dinyatakan     Manoah   Yakub   Musa
Wahyu Generik / Iluminasi
Wahyu Spesifik/ Langsung ? V
Wahyu Specific Signifikan/Otoritas   X X

Chart memperlihatkan kedaulatan Tuhan untuk menyatakan nama-Nya,menurut cara dan tahapanNya secara ajaib/secret,  secukupnya dan seperlunya untuk dikenal oleh umatNya.

Moyang sebelum Musa, belum sepenuhnya menghayati betapa serius dan signifikannya nama YHWH tersebut harus dihayati dan dikibarkan.
Perikop petikan Keluaran pasal 6 diatas hanyalah pendek saja, namun memuat 4 kali pernyataan Tuhan yang kencang menekankan otoritas namaNya disetiap ujung kalimatNya: AKULAH YHWH! Dan ini bukan saja dimaksudkan untuk menekankan ketuhananNya yang berkuasa atas moyang Abraham, Ishak dan Yakub dan umat Israel, melainkan sekaligus MEMPERAGAKAN kemahakuasaan yang PASTI, untuk Musa & Harun menghadap Firaun dan melakukan pembebasan umatNya sesuai dengan janjiNya yang mengikat (covenantNya). Ini adalah ayat-ayat penghunjukan kuasa YHWH yang menghakimi, dan itu tidak mungkin dihasilkan efeknya jikalau Dia hanya sekedar menyebut nama-Nya sebagai  “TUHAN” apalagi “ALLAH” seperti yang manusia namakan Dia!  Rasakan betapa Sosok ini sedang berbicara sepenuh bobot otoritas Nya: AKULAH YHWH! Titik!

NB. Sambil lalu, Pihak pro-nama-Allah selalu berusaha mengklaim bahwa mereka tidak pernah tidak menerima baik kata YHWH dan menghormati YHWH. Tetapi tak pernah jelas seberapa jauh mereka menerima baik, hormat, dan turut memuliakan, mengkuduskan dan memasyurkan nama tsb, dibandingkan dengan nama Allah atau ALLAH? Ketika anda-anda memilih menyimpan kebelakang nama YHWH (yang anda kenal dan hormati itu) dibalik nama ALLAH dan TUHAN yang selalu malah anda tampilkan, maka  signifikansi dan implikasi penuh dari kedahsyatan dan bobot otoritas nama itupun terkaburkan dan terhambarkan.

Itulah sebagian catatan kerahasian dan keanehan penyataan nama Tuhan kepada manusia. YHWH sudah mengatakan apa yang perlu dan cukup untuk kita ketahui tentang porsiNya yang amat utama & sakral. Dia berdaulat dan mengontrol penuh pemberitaan namaNya. Kuriositas manusia pintar yang meng-ada-adakan akan dianggap tidak layak dan lancang. Lebih dan lain daripada yang Dia nyatakan akan DIDAMPRAT, atau malah DICUEKI! NamaNya sudah IA BERIKAN, dimaklumatkan dengan nyaring dan ribuan ulangan:

“AKU ADALAH AKU… YHWH, Elohim nenek moyangmu, Elohim Abraham,
Elohim Ishak dan Elohim Yakub, telah mengutus aku kepadamu:
itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun.

Itu saja Nama DiriNya, Dahsyat, Kudus, Ajaib.
Tidak ada yang lain, unik, satu-satunya.
Tidak ada waktu kosong-antara, selalu dan selamanya.
Tidak tersembunyi, apalagi diganti dan hilang.
Tidak untuk disembunyikan/dipingit seperti sekarang ini,
melainkan justru untuk dipromosikan diantara bangsa-bangsa:

“Bersyukurlah kepada YAHWEH, panggillah nama-Nya,
perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa…
(1Tawarikh 16:8-9).
“…supaya mereka tahu, bahwa namaKu YAHWEH” (Yer 16:21).

THE AGE OF UNREASON: METODE TAFSIR YANG BIAS

Sudah dikatakan bahwa para teolog dan apologet-besar cenderung mendewakan Penafsiran-Terbuka-Non-Literal seraya menistakan Penafsiran- BBB yang dianggap seperti/seolah kerdil cakupannya. Dan disinilah mereka jatuh dalam arogansi yang mirip menduduki ‘Kursi-Musa’. Akan tetapi disini –ada perbedaan dengan Musa– mereka bukan menyerukan nama YHWH untuk diberitakan kesegenap umatNya, malahan sebaliknya, melarang kalua-kalau ada yang mengajarkan begitu. Atau menolak pelatihan misi yang diadakan dengan menggunakan nama YHWH, sekalipun kepada Panitia Host sudah diberitahukan bahwa team nara sumber pelatihan tsb bukan dari  kaum Yahweist yang kebablasan (yang apa-apa harus berdoa, memuji, membaptis atas nama YHWH, bila tidak ia dianggap sesat, termasuk kalau memakai nama Allah dsb.

Padahal kami penganut BBB, bukan dari kalangan mereka begitu). Berbeda dengan Musa lagi ketika mereka justru merasa nyaman saja menyerukan dan menyamakan nama Allah/ALLAH /TUHAN dengan nama YHWH! Atas dasar apa?
O, the age of supposedly full reason yet embracing of the unreasons, sbb…

(A). Mendalilkan Kajian History & Tradisi-Kuno
(B). Mendalilkan Inskripsi Tentang Nama Allah dan YHWH
(C). Mendalilkan Absennya Nama YHWH di PB (dimulut Yesus & Rasul-Rasul).

Karena alasan yang tak masuk akal dan absurd, ya kita cukup komen dengan counter komen yang singkat saja namun sangat telak.

(A). Mendalilkan Kajian History & Tradisi-Kuno
Kita bukan anti sejarah dan tradisi. Itu cabang keilmuan dan budaya yang manusiawi dan sangat perlu. Sayangnya banyak pihak yang tidak menyaring apa-apa lagi terhadap sejarah/tradisi. Sementara pepatah kunonya juga masih berlaku: “Terlalu banyak mulut bercerita tentang-X  berulang-ulang akan menjadikan X itu suatu kebenaran”. Dengan peringatan lain yang lebih keras: Dusta yang terus menerus diulang akan jadi “kebenaran”.

Khusus dalam kajian sejarah kuno, sering terjadi bolong-bolongnya kronologi dan jalur benang merahnya, dan itulah cacat yang tidak bias diperbaiki karena sering tidak tercari lagi kepingan supplemen-nya, menjadikan dia sebuah ‘The Broken History. Maka kita perlu kritis bahwa tidak semua histori/tradisi itu selalu baik atau selalu harus dibenarkan, apalagi lewat waktu dan zaman yang terus berjalan. Apalagi ditinjau dari kacamata Tuhan kita. Ingat! karena tradisi pula maka Yudaisme menolak PB dan Yesus sebagai Mesias! Dan itu fatal!

CONTOH:

Uskup Palestina ini mencoba membela tradisinya hingga mirip memutlak-kannya. Beliau mengklaim tradisi agamis mereka yang dianggap baik-baik saja, tak bermasalah dalam lintas agama.  Beliau berkata, “Istilah-istilah seperti Allahu Akbar, Masya Allah, Alhamdlillah itu selalu diucapkan orang Muslim karena itulah bahasa Arab yang merupakan bahasa-ibu kami. Dan kata Arab untuk ‘God’ hanyalah ‘Allah’ tak peduli apakah anda itu Kristen atau Muslim”.

TANGGAPAN:
Disinilah sebuah contoh betapa arogansi tradisi bias-bisa membutakan diri terhadap perkembangan baru atas apa yang terjadi disekelilingnya. Anda tentu baik-baik saja bila tetap berjalan kaki atau pakai unta saja. Tak ada yang pusing selama itu urusan dapur anda. Cuma masalahnya apakah anda sadar akan kendala/masalah-masalah tertentu, dan bahwa itu benar masih berupa pilihan terbaikmu saat ini? Apakah dengan selalu terbiasa mengucapkan Allahu Akbar, Masya Allah, Alhamdulillah dst itu lalu menjadikan anda benar untuk menggantikan nama YHWH? Siapa yang berkata begitu? Atau lebih baik daripada memakai kata Elohim? Bila begitu, bacalah Kontra-Polemik, Serial-3, dimana sudah dipaparkan secara intensif belasan kendala/ masalah prinsip yang menjadikan kita orang-orang Kristen yang terjerat dalam sejarah kekelaman. Sebagai anak Tuhan kenapa kita masih memfavoritkan penggunaan kata ‘Allah’ dewasa ini. Padahal kita bisa merdeka dan damai hati MEMILIH PINTAR penyerapan kata gantinya dengan nama yang lebih baik dari aslinya Alkitab. Ini jelas aman, tanpa kontroversi dan masalah, tanpa terbeban dengan sejarah kelam yang bahkan terus bereskalasi hingga kini.
Dan ini PASTI memuliakan NamaNya (!) karena Dia sendiri telah mengenakan/memuliakan nama YHWH dan ELOHIM bagi panggilan diriNya! Terlalu asing dalam bahasa kita? Tapi bukankah proses penyerapan nama asing menjadi nama-lokal-sudah dilakukan juga oleh para pemimpin rohani, yayasan LAI bersama seluruh jemaat? Misalnya nama-nama yang asing tadinya: Mesias, Kristus, Sabat, Mezbah, Baptis, Haleluyah dll kini semua menjadi istilah-istilah bahasa- ibu yang memperkaya roh kita. Maka, ketimbang memperebutkan nama Allah yang mulai diklaim oleh orang-orang Muslim sebagai property-nya Islam, kenapa kita tidak rela (dan tidak dengan berhikmat) melepaskan kata Allah itu  (yang justru asing/kosong dari mulut Tuhan, Nabi & Rasul, Alkitab PL & PB asli) dan siap mengadopsi kata ELOHIM yang shahih, karena kata itu  sudah Tuhan sebutkan ribuan kali dari mulutNya?

Sesungguh-sungguhnyalah (!), Nama ‘Allah’ sangat bernilai untuk Islam, namun itu tidak berharga bagi khasanah kosa-kata dalam kekristenan dan di Alkitab, dan akan terhilang beban masalahnya di dunia Kristen, sekali kata Elohim diserap sebagai gantinya.

 (B). Mendalilkan Inskripsi  Tentang Nama “Allah” dan “YHWH”

Persepsi kita sering tersesat saat kita terkagum-kagum ketika disodori dengan inskripsi-inskripsi kuno yang dianggap Penemuan-Fakta-Berharga. Sekali lagi kita tidak mengkerdilkan inskripsi-inskripsi kuno. Itu bisa bernilai jutaan dolar.  Masalahnya yang perlu diingatkan adalah bahwa ia sudah terbiasa disamakan seperti “fakta” – fakta atau saksi sejarah masa lampau– padahal hakekatnya ia masih lebih tepat disebut “teori-lapangan”.

Fakta-fakta inskriptif jaman kuno rawan sekali terhadap arah sudut-pendekatan dan penggaliannya. Bentuk atau teksnya sering tergerus dan tidak terbaca pada bagian-bagiannya. Lebih-lebih lagi ia rawan dengan metode analisa dan penyimpulannya. Sebab fakta yang diperoleh pun masih bisa diinterpretasikan berbeda-beda, dengan implikasi yang berbeda pula. Ia ibarat satu film hasil foto rontgen, namun yang bisa dibaca berbeda-beda oleh ahli rontgenolog yang satu terhadap yang lain.

Para arkeolog dan ilmuwan sangat getol mencari artefak,  inskripsi dan manuskrip/buku-buku sejarah untuk menelusuri asal muasal Tuhan, sejarah agama kuno & praktek  peribadatannya, termasuk  tentang apa makna, siapa dan bagaimana nama sesembahan-nya serta ritualnya dll.

Singkat cerita, misalnya tentang  inskripsi nama “Allah”.
Ini  getol ditelusuri mereka yang pro-nama-Allah kemana-mana. Dan beberapa jenis bukti yang  mereka yakini sebagai tidak terbantahkan akan ditampilkan disini:

  1.  Kitab-Kitab Tafsir Islam yang paling awal (a.l.Tafsir Al-Tabari) dan menemukan bahwa nama itu berasal dari kata “al-Ilah” (the God) yang muncul sebagai sebutan generik dan terkontraksi menjadi “Allah”.
    Kesimpulan & implikasinya: Karena bukan nama pribadi — maka mereka menyimpulkan bahwa tak ada masalah bahwa YHWH mau disebut sebagai Allah, atau Gusti, Debata dsb.
  • Mereka juga menyodorkan penemuan besar apa yang disebut sebagai Inskripsi Qirbeth el-Qom dan Kuntillet Ajrud (abad ke-9 SM, Nablus, Israel) yang memperkuat fakta yang tak terbantah bahwa YHWH itupun sama disembah sebagai pasangan-berhala  bersama dengan Dewi Asyerata. “I bless you by Yahweh of Teman and by his Asherah”…

 Asherah is identified as the queen consort of the Sumerian god Anu, and Ugaritic ʾEl, the oldest deities of their respective pantheons, as well as Yahweh, the god of Israel and Judah.

Kesimpulan Pihak Pro-nama-Allah & implikasinya:  Allah dan YHWH juga sama-sama pernah disembah sebagai berhala, jadi apa pasalnya maka serapan nama Allah harus ditolak oleh orang Kristen, sedangkan serapan nama YHWH harus dipaksakan untuk diadopsi? .… Hahaha!

  • Dan ini fakta paling favorit, bahwa terdapat banyak inskripsi-inskripsi yang bertebaran bahwa orang-orang Kristen pra-Islam dan  juga dijaman kebangkitan Islam, justru sudah menyebutkan nama Allah.
    Jadi tidak benar kata “Allah” hanya spesifik milik Islam. Jauh sebelum Islam kata ini sudah dipakai di lingkungan non-Kristen maupun Kristen. Kata tsb adalah NETRAL. Inskripsi-inskripsi yang ditemukan di abad ke-6 (Zabad, Umm al-Jimal) memuat kata “al-ilah” dan “Allah”.
    Kesimpulan & inplikasinya
    : Kata Allah itu netral (innocent) yang mana menandakan penggunaan nama ini adalah sah, tanpa masalah dan benar!

Nah, inilah contoh-contoh nyata tentang kesimpulan dan implikasi/applikasinya atas dasar pembuktian “fakta” yang mereka bangga-banggakan. Padahal itu hanyalah bukti abal-abal yang bias menyilang, tidak valid atau irrelevan terhadap isunya!
Mereka terbius oleh istilah sakti: Inskripsi dan prasasti-prasasti, sebagai fakta dan bukti keras. Tetapi ini BUKTI TERHADAP APAKAH? Mari kita kaji…

Sanggahan butir (B1): Kitab Tafsir Islam
Bukti plesetan yang paling tidak sudah kedaluarsa & irrelevan!

Kita tahu,  Islam sangat terkenal dengan minimnya bukti sejarah jahiliyah pra-islam, sehingga mustahil bisa dimutlakkan kata Allah sebagai  nama generik dan pasti bukan proper-name (?) bagi semua klan dan suku Arab. Berkaca sedikitlah dan simak biografi nabi Muhammad, itupun baru eksis pada abat ke-9, dan yang ada itupun (Sirat Ibn Hisyam) tidak terluput dari kisah editan menjadikannya sebuah hagiografi, seperti yang diakuinya dalam Mukadimahnya. Singkatnya, banyak sekali sejarah Islam kuno itu yang adalah broken-history, dan banyak teolog pendebat/apologet Kristen di Indonesia yang praktis ignorant (kurang ilmu) terhadap puluhan masalah serius di seputar sejarah-aktuil kata ‘Allah’. Padahal justru sisi historis yang lain inilah yang akan meredamkan syahwat pemaksaan kata Allah untuk menjadi kosa kata dalam Alkitab. (lihat Kontra Nama YHWH vs Allah, Serial ke-3).

Dimanapun didunia ini, fakta kebangkitan & perkembangan heroik suatu agama — seperti Islam disini– selanjutnya mudah untuk mempersonafikasikan  gelar idolanya menjadi ikon persona, alias dari nama sebutan Allah (kalau ada) menjadi nama pribadiNya! Lihat syahadat dan seruan takbir Islam kini kian kencang menunjukkan nama diri Allah yang diserukan. Lihat dewa BAAL-pun berproses dari nama generik menjadi proper name. Lihat juga paham Muslim Malaysia, misalnya, sehingga terang-terangan diproklamasikan nama pribadi Allah itu milik Islam. Bila itu hanya suatu nama generik netral, tentulah banyak sekali Muslim yang akan bertanya sadar: “Siapakah nama Allah kita?”, suatu pertanyaan yang tak pernah timbul di hati Muslim sedunia! Dan akhirnya, bagaimana At-Tabari harus menafsirkan maksud Allah/Quran sendiri, ketika nama Allah itu dipertanyakan oleh orang-orang kafir, “Has he made the gods (all) into one Allah? (Yusuf Ali, QS.38:4-5)?

 
Jadi dengan ringkas kita katakan, bahwa rujukan petikan Tafsir At-Tabari dll untuk pengukuhan nama Allah dalam Alkitab, adalah jauh panggang dari api! At Tabari hanya memperlihatkan kata al-Ilah itu disingkat Allah, dan itu adalah nama sebutan, yang dilihatnya pada masa pra-Islam. Jadi tentu sudah sangat kadaluarsa untuk melihat gambaran baru dalam perkembangan personifikasi sosok Allah yang makin dianggap Muslim sebagai nama diri.
Petikan “bukti” At Tabari bukan saja salah waktu (kadaluarsa) tapi juga salah tempat (non-relevant) karena tidak membuktikan apapun tentang nama YHWH yang bisa digantikan oleh nama Allah (di Alkitab). Apalagi sudah dikatakan bahwa YHWH (diAlkitab) tidak kenal Allah/ALLAH (di Quran) dan sebaliknya!

Sanggahan butir (B2):  Inskripsi Kuntillet Arjud dll
Prasasti keberhalaan YHWH yang justru membenarkan firman YHWH!

Pihak-pro-Allah bersukacita dapat mengandalkan temuan Inskripsi Qirbeth el-Qom dan Kuntillet Ajrud untuk membuktikan bahwa YHWH yang dijagokan oleh kaum Yahweis ternyata juga disembah oleh orang-orang Israel bersama dengan dewi Asyera. Dan kini ada pihak yang mengejek dan ada yang diejek karena penemuan ini?  KONYOL! Harusnya pihak pengejek bukan merayakan penemuan fakta ini, sebab ia sungguh bukan fakta baru, melainkan hanyalah sebuah konfirmasi atas apa yang sudah tertulis di-Alkitab, yang mana bukan memperlihatkan hebatnya Inskripsi tsb, melainkan justru hebatnya Firman YHWH dalam Alkitab! Logika mereka memang sudah terbalik-balik. Bacalah 2Raja-Raja 17:33, 41:

 “Mereka berbakti kepada YHWH, tetapi dalam pada itu mereka beribadah kepada allah mereka sesuai dengan adat bangsa-bangsa yang dari antaranya mereka diangkut tertawan”.

“Demikianlah bangsa-bangsa ini berbakti kepada YHWH, tetapi dalam pada itu mereka beribadah juga kepada patung-patung mereka; baik anak-anak mereka maupun cucu cicit mereka melakukan seperti yang telah dilakukan nenek moyang mereka, sampai hari ini.

Bukan hanya logika mereka terbalik, tetapi sikap hati mereka juga terbalik bagi Tuhan!
Kita selalu mendengar bahwa sebagai anak Tuhan, pihak pro-nama-Allah juga MENGHORMATI nama YHWH, tak ada yang ditolak. Baik! Jadi seharusnya kita semua anak Tuhan (yang pro-nama-Allah atau pro-YHWH) bukan merayakan penemuan ini, melainkan menangisi fakta bahwa ada kelancangan orang-orang dahulu yang walau percaya akan YHWH, tetapi masih juga mendegradasikan “ke-Yahweh-an” YHWH dengan sosok berhala. Awas, kemunafikan bisa terjadi diam-diam dengan mulut berkata hormat, tetapi hatinya menyepelekan-Nya. Ingat YHWH mengatakan juga bahwa namaNya adalah “Cemburuan” (Keluaran 34:14) dan Dia tidak ingin adanya nama lain yang difavoritkan diatas namaNya. Maka tangisilah diri anda bila sempat menjagoi Inskripsi Kuntillet Ajrud ini dengan men-konklusikannya bahwa nama YHWH juga tercemar berhala itu akhirnya sama (sami mawon) dengan nama Allah pagan juga!

Selalu akan ada orang-orang yang menyalah gunakan atau tidak mengkuduskan nama YHWH, sejak moyang kita hingga masa kita-kita ini. Oke, pemujaan sesat sesaat di zaman dulu. Lalu apa itu menjadikan Roh YHWH tercemar namaNya? Dewi Asyerah dll yang di-ada-adakan pemujanya telah dipunahkan.  Tetapi YHWH tetaplah AKU ADALAH AKU selamanya. Jadi kenapa nama YHWH harus disamakan atau digantikan dengan ALLAH atas penemuan inskripsi ini? Bagaimana benang merahnya? Apakah kedua sosoknya –ROHNYA– menjadi sama berhalanya karena inskripsi-inskripsi tsb? 

Buka matalah! Jelas ulah pencemaran/pelecehan konyol itu bukan bagian dari penghormatan nama YHWH. Perintah penghormatan nama Tuhan bukan saja terbatas pada pengucapan, melainkan dimulai dari hati dan pikiran, anggapan, dan prasangka-prasangka, yaitu hanya dengan anggapan yang melecehkan namaNya saja (!) maka YHWH sudah menganggap itu sebagai kejahatan:

“Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?…mencemarkannya? (Yaitu)  Dengan cara menyangka: “Meja YHWH boleh dihinakan!”  (baca Mal.1:6-8).

 “Aku akan menguduskan nama-Ku yang besar yang sudah dinajiskan di tengah bangsa-bangsa, dan yang kamu najiskan di tengah-tengah mereka”
(Yeh 36:23).

Sanggahan Butir (B3): Orang Kristen Kuno Sudah Pakai Nama Allah
Orang-orang Kristen pra-Islam sudah lama memakai nama Allah tanpa masalah.
Ya, tapi siapa bilang bahwa mereka jadi tolok ukur bagi kebenaran Kristianitas? .

Orang-orang Kristen pra-Islam  bukan dewa, tidak istimewa. Mereka sama saja dengan kita-kita ini yang pendosa, yang bisa berbuat salah apa saja dalam penghayatan keimanan.

Remember, Not everyone in Israel was “saved.”
Not everyone in Christianity follow Jesus.

Bukankah orang-orang Yahudi juga meneriakkan: Salibkan Yesus?
Dan mereka tidak percaya akan Injil dan Yesus sebagai Mesias?

 Marshall Hodgson  berkata bahwa dalam masa pra-Islam , sejumlah orang-orang Kristen  Arab telah melakukan ziarah suci ke Kabah untuk memuliakan Allah sebagai  Tuhan Sang Pencipta.  …..

Dan bagaimana pula praktek keimanan/pengajaran Waraqa ibn Nawfal (sepupu Siti Khadijah) yang katanya ulama Kristen Nestorian itu? Apakah nubuatnya tentang kenabian Muhammad bisa diterima oleh orang-orang Kristen?

Jadi, apakah inskripsi-inskripsi tradisi & budaya moyang Kristen bisa dijadikan tolok ukur kebenaran Injil?

Kita geleng-geleng kepala menyaksikan begitu banyak kekonyolan pendalilan untuk pembenaran nama Allah/ALLAH sebagai pengganti nama YHWH. Padahal nama ALLAH sudah (atau belum) dipakai oleh orang Kristen  tidaklah menentukan benar atau tidaknya nama tersebut! Yang menentukan adalah apabila nama itu benar disebutkan di AlkitabNya (bahasa asli Ibrani)! Dan ternyata tak ada nama Allah dipanggilkan diseluruh Alkitab. Tuhan dan semua utusan-utusanNya (malaikat, nabi, rasul) dan Yesus sendiri “seperti sengaja” mengosongkan nama tersebut dari mulut mereka. Ini sepertinya bukan kebetulan karena memang Allah bukan Bapanya Yesus, dan bukan milik orang Kristen pengikut Yesus.

Akhirnya, tak perlulah kita ikut-ikut bodoh dengan memasang billboard NEW CUYAMA diatas…  Itulah kekonyolan yang disebut Dimentional Error. Dimana kita tanpa sadar menyamaratakan dan mencampur-adukkan dimensi (natur) P dan F dan E (seperti diatas) yang sesungguhnya berbeda sampai kepada unit-unitnya.

Dan maaf (bukan maksud mendiskreditkan gereja tertentu, melainkan memperlihatkan dimensi-substansi), kita tak usah jauh-jauh, lihat contoh di Indonesia saja, dimana nama Isa Al-Masih masih terus disandangkan anak-anak Tuhan (terutama sebelum tahun 1970) kedalam sebagian Injil, buku-buku kidung gereja, kalender, traktat & undangan KKR, hingga nama yayasan dan gedung-gedung gereja. Bukankah itu ibarat sederetan “inskripsi-inskripsi” terbesar dan mencolok di Indonesia? Padahal Roh Yesus dan Isa tidak mempunyai kesamaan substansif apapun! Yang satu nama historis, yang lain non-historis. Untunglah bahwa belakangan ini baru mulai disadari oleh orang-orang Kristen Indonesia bahwa inskripsi-inskripsi” yang dihasilkan dulu itu tidaklah semuanya berazazkan kebenaran.

Geoffrey Parrinder berkata, “It is too easily assumed that all traditional doctrines are firmely based on the Bible”. Terlalu mudah kita (orang-orang Kristen) beranggapan bahwa semua doktrin-doktrin tradisional itu berdiri teguh diatas kebenaran Alkitab….

(Bersambung ke serial-5)

SIAPA BILANG NAMA YHWH TIDAK ADA
DI ALKITAB PERJANJIAN BARU PB?
Serial ke-5 (Final)

(C). Ganti Nama YHWH Dengan  Mendalilkan Absennya
Nama YHWH di Mulut Yesus & Rasul2.

Ini kah yang dianggap sebagai fakta pamungkas untuk menolak nama YHWH
menggantikan kata ALLAH? If so, sangat (7x) tragislah kekristenan kita!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *