Kontra Polemik: Nama ‘ALLAH’ vs YHWH

Kontra Polemik: Nama ‘ALLAH’ vs YHWH

Serial ke 3

SUPPOSISI vs PRESUPPOSISI

Diatas sudah kita nyatakan bahwa kaum mainstream cenderung alergi terhadap pihak Yahweist, yang mana dilihat sebagai kalangan pemrotes yang amat fanatik dan kebablasan menjunjung nama YHWH yang sekaligus ANTI nama Allah, sampai-sampai dianggap sebagai chauvinist pemulihan firman, puritanist ke tradisi Yahudi, penghakim dan pemecah belah gereja. Begitu over-sensitif terhadap agresi Yahweist sehingga merekapun tanpa sadar TERIMBAS dengan posisi kebalikannya, yaitu begitu fanatik terhadap nama ‘Allah’ sebagai nama keramat yang harus dipertahankan dengan segala cara sehingga nama Elohim & YHWH terlangkahi, malah tidak dipedulikan lagi. Apalagi ini dilandaskan kepada azaz anggapan pluralis & kenetralan nama-nama bagi Ilahi dimana mainstream sering menslogankan bahwa Tuhan kita boleh dipanggil dengan nama apa saja – Theos, Kurios, Adonay, Yahweh, Elohim, Allah, Gusti, Debata, Dewata/ Dewa, Brahman, Ra, Horus dll asalkan semuanya adalah entitas yang dituhankan.

Akan tetapi tanpa kesadaran penuh, mereka hanya beranggapan begitu tanpa adanya presupposisi manapun bahwa Tuhan sudah membolehkannya! Adakah itu? Bahkan pada kenyataannya mereka justru tidak benar-benar sadar apakah setiap nama Tuhan (dari sederetan yang dibolehkan itu) itu sama benar, baik dan nyamannya (bbn) untuk diterima dan diucapkan! Misalnya nama-nama Dewata, Dewa, Brahman (yang sudah umum dilafalkan di Indonesia) apakah sudah sama bbn-nya untuk boleh diserukan di gereja-gereja mereka? Bukankah mereka justru hanya menshahihkan pelafalan dan teks 6 nama ini — tuhan, Tuhan, TUHAN, allah, Allah dan ALLAH– sekalipun mereka katanya sangat menerima dan mengakui nama lainnya bahkan terhadap kata Elohim dan YHWH sekalipun?

Ya, bukan rahasia bahwa ada gereja-gereja yang was-was dan curiga terhadap orang-orang yang mengucapkan nama Yahweh atau Elohim. Buktinya adalah kasus-kasus true stories model sbb:
Pernah ada seorang Hamba Tuhan yang sudah diundang dan dijadwalkan
sebagai pembicara suatu seminar apologetika di sebuah STT di Makasar. Namun ketika team Hamba Tuhan itu terbang dan mendarat di Makasar, maka kepadanya diberitahu lewat WA (only!) bahwa acara dibatalkan karena Sang Ketua Penyelenggara tidak memperkenankan penyebutan Yahweh dalam seminar ini, tetapi hanya nama Allah dan Alkitab LAI saja yang jadi rujukan! Inilah buah-buah negatif dikedua belah pihak yang dihasilkan oleh prejudicies dan sentimen dari akumulasi interaksi para pihak yang bersilangan, antara lain karena logical fallacy dan post truth yang tidak dijernihkan diantara supposisi dengan presupposisi. Kita bisa bersupposisi dengan banyak hipotesa, pendalilan dan penggalian deduktif yang dalam tentang linguistik, histori, tradisi dan budaya dll, namun untuk isu super-khas seperti isu nama Tuhan ini tetaplah kita harus berdasarkan presupposisi yang terkonfirmasi dalam Alkitab!

Kita tahu ada banyak sekali yang kita sebut bukti historis ternyata tak lebih dari “the so called theoritical history”, khususnya ancient histories tentang ilah-ilah yang terkenal dengan “BROKEN HISTORIES”.

Dalam seri terdahulu bukankah sudah kita perlihatkan betapa adagium
Shakespeare “What’s In A Name” itu sudah ditolak oleh Tuhan kita. Sekalipun Tuhan mahatahu akan maksud baik hati kita, namun Dia justru teramat demonstratif dan CHOOSY dalam memilihkan nama-nama bagi anak-anakNya, dan tentu saja bagi pemanggilan nama DiriNya sendiri! Anda bisa bersupposisi rendahan bahwa ‘Allah’ itu tidak terbatas pada satu nama sebutan saja, jadi boleh memanggil-Nya dengan nama apa saja dengan alasan toh ‘Allah’ Yang Mahatahu akan isi hati & pikiran kita yang hanya tertuju kepada Allah yang satu (yang diimani, bukan iman
berseberangan). SEKALIPUN supposisi membolehkan TETAPI presuposisi kita yang mutlak adalah Alkitab. Dan Tuhan Alkitab tidak mengajarkan pandangan begitu untuk panggilan namaNya secara pasaran. Kita seharusnya mengambil bagian untuk menghormati namaNya hingga MAXIMUM, dapat memilih yang terbaik, dan memisahkan nama-Nya yang kudus terhadap yang tidak kudus.

Bagaimanapun, pilihan manusia bisa bias, kurang, dan salah. Maka pastikanlah pilihan terbaik harus datangnya dari khasanah perbendaharaan Alkitab yang Tuhan sendiri telah meng-endorsnya… Bukankah kita seharusnya begitu?

DIMANAKAH SIKAP KITA SEBAIKNYA?

Judul diskusi ini mencerminkan dimana posisi kita diantara pihak Yahweist dan mainstream. Dan posisi kita (kami) sungguh tidak termasuk keduanya dan tidak membela atau mengutuk siapapun, melainkan lurus menyatakan bahwa perselisihan kedua mereka ini sebagai BIAS TERHADAP HIKMAT ALKITAB. Karena sepertinya mereka telah terkooptasi dengan “the generic sound” yang dianggap baik, tapi atas korban “the right voice” dari Alkitab!

Anda misalnya gandrung dengan istilah Allah (yang asing dari Alkitab asli) tetapi tidak nyaman bila diperhadapkan dengan istilah Elohim yang baku dari Alkitab. Kenapa begitu? Karena alasan kontekstualisasi, applikasi, dan tradisi yang supposisional! Namun perlu dipahami bahwa kita tidak berbicara tentang hal-hal tsb, melainkan berbicara langsung
tentang SUBSTANSI, atau sedikitnya harus merupakan PILIHAN TERHIKMAT yang ada pada kita untuk dipilih. Jangan lupa akan Geoffrey Parrinder yang berkata dengan gamblangnya, “It is too easily assumed that all traditional doctrines are firmely based on the Bible”

Kita melainkan harus pilih dalam hikmat dan kebenaran Tuhan saja, sambal MENJAUHI SEGALA MASALAH &BEBAN yang melekat pada nama-nama Ilah dunia, baik masalah di zaman awalnya apalagi sampai yang berdampak hingga sekarang. Dan nama Allah jelas mempunyai segudang masalah demikian disepanjang jejak perjalanannya, dari tinjauan sejarah, dari Alkitab, maupun dari Quran dan Islam sendiri …[ Kita akan memaparkannya sebentar lagi].

MASALAH DISEPUTAR NAMA KEMBARAN
Kita semua percaya bahwa penggenapan Bible’s Truth is being revealed in times, hingga Yesus datang. PL dinyatakan penggenapannya dalam PB. Kitab/nubuat Daniel, Wahyu dan Kidung Agung dan juga sosok Antikris sedang diungkapkan. Bukan melulu diungkapkan dari dalam internal Alkitab, melainkan juga dalam validasi budaya, tradisi, histori, trend/gaya hidup, world view dan interaksi lintas iman dll. Maka apa yang dulu-dulunya dianggap oke-oke dan tak bermasalah karena tradisi, ignorant, pikiran-pikiran innertia, mati-suri, masabodo dll yang dianggap
sebagai sepele dan bukan masalah, kini mendadak jadi isyu yang hidup bahkan hot…

Contoh nya…
Dulu tak ada gaung Islam yang esensi nya mengkontraskan iman Kristen head to head sampai kepada essensi nya yang paling doktrinal. Natur ini bahkan tidak disadari oleh Nabinya dan para sahabatnya hingga abad ke-9 sebelum terbitnya Sirah Ibn Ishaq dan aHadist, bahkan Injil Kristus-pun baru resmi dicap palsu tatkala diabad ke 11. Sejak itulah pertentangan dan perseteruan makin ber-eskalasi, sampai-sampai nama Allah dianggap sebagai property Islam only, dan takbir Allahu Akbar turut menjadi kredo jihad melawan musuh Islam termasuk unsur-unsur Kristus.

Tatkala nama Allah tsb makin kentara termanifestasi menjadi nama yang AntiChrist, maka logisnya kitapun seharusnya mengambil sikap yang makin tegas dalam memisahkan nama panggilan antara Sesembahan kita dengan Sesembahan mereka. Tetapi yang terjadi justru adalah kontra logika bahwa kita kok makin merancukan nama-kudus Tuhan kita kedalam nama yang makin sengit mengutuki Kristus dan ketrinitasanNya? Apalagi nama itu makin jelas kini dimaksudkan untuk menghilangkan nama YHWH dengan menggantikannya menjadi Allah (QS.29:46)? Yaitu dengan menjadikan semua sesembahan diluar Islam itu menjadi ALLAH?

Bukankah orang-orang non-Muslim sudah mengungkapkan isu Allah kembaran mereka, lalu bertanya, “Mengapa ia (Muhammad) menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu (ALLAH) saja?” [QS.38:4-5a].

Ya, bertanyalah dengan huruf besar: MENGAPA? Mengapa kita makin memilih dan mengentalkan peng-kembaran nama Tuhan kita sama dengan Allah seberang? Mengapa kita makin tumpul sensitivitas (mati-suri) terhadap SIAPA DIA yang hanya mau dipanggil secara layak, kudus, dan unik-ajaib dari perbendaharaan terbaik? Ia bukan dalam lingkaran nama pasaran atau kembaran.
Dia Maha- Memisahkan-Diri dalam sifat KudusNya, AjaibNya (Hak 13:18), dan dalam CemburuanNya (Kel.34:14) dalam ejaan yang unik dan satu2nya:
“AKU ADALAH AKU – YHWH, itulah namaKu untuk se-lama-lamanya dan itulah sebutanKu turun temurun”.

Sedemikian sehingga Ia menegaskan lagi:
“…supaya mereka tahu, bahwa namaKu YHWH” (Yer 16:21)
“Biarpun segala bangsa berjalan masing-masing demi nama allahnya,
tetapi kita akan berjalan demi nama YHWH Elohim kita untuk selamanya
dan seterusnya” (Mikha 4:5).

Secara kepantasan saja, bukankah kita diajari agar berperilaku beradab bahkan untuk Kakus/ WC di mana-mana, yaitu dengan memuliakan (memoles) panggilannya dengan nama indah seperti Toilet, Rest Room, Wash Room dll? Jadi kenapa kita malah kurang sensitif untuk beradab terhadap nama Tuhan sehingga tidak siap memuliakan sebutan nama Tuhan hingga kepada pelafalan dan teks aksaranya yang maksimal, alkitabiah dan terbaik bagiNya?

Juga, kitapun diajari berdoa dengan khidmat, melipat tangan, bertelut dst demi bersikap HORMAT & PENGKUDUSAN NAMANYA? (Mat 6:9). Lalu kenapa kita tidak siap memilih nama KudusNya, melainkan malah lengket mengadopsi kembaran nama ilah-ilah seberang yang pasaran (1 Taw 16:26) demi nyamannya kebiasaan kita semata dengan mendalilkan bahwa “ALLAH (semuanya capital) tahu rujukan otak dan hati saya kepadaNya, dan bukan Allah Islam?” Inilah dalil persangkaan pribadinya, dan dalil bodoh ini selalu nyaman dijadikan AKSIOMA yang membutakan hati mereka.

Oke Tuhan tahu, bahkan mahatahu, tetapi apakah anda anda tidak perlu tahu apa yang Tuhan sudah menyuruh engkau harus tahu dan mengerjakannya? Apakah engkau mempersembahkan korban kepada Tuhan YANG KAUSANGKA ITU BOLEH SEMBARANGAN KORBAN? Simak & renungkan ini baik-baik,
‘Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati
tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman YHWH semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?” Kamu membawa roti cemar ke atas mezbah-Ku, tetapi berkata:
“Dengan cara bagaimanakah kami mencemarkan-nya?” Dengan cara
menyangka: “Meja YHWH boleh dihinakan!”
Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan,
tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan
sakit, tidakkah itu jahat?’ (Mal.6-8).
Sekalipun bisa dibedakan oleh Abraham (dan seisi rumahnya), namun pastilah
dia tidak akan berbuat bodoh dengan menamakan kedua anaknya secara sama
kembaran, misalnya ‘anak-sulung kedagingan’ disebutnya ‘Allah’ (merujuk
SWT), dan juga ‘anak-tunggal perjanjian’ disebutnya ‘ALLAH’ (merujuk YHWH).

NAMA ALLAH DENGAN MASALAH-MASALAH YANG MELEKAT
Saking terbius oleh kebiasaan dan kenyamanan, maka nama Allah itu praktis dilihat semua orang sebagai clear and clean dari sejumlah masalah yang melekat kepada dirinya. Maaf, ini salah besar! Adaqium post-truth berlaku sarat disini: People tend to believe what they want to believe. Maka terlewatlah begitu banyaknya masalah-masalah mendasar dan inheren didalam nama keramat yang satu ini, karena – seperti yang sudah diterangkan sebelumnya– merasa nama Allah itu NETRAL pada dasarnya, dipakai luas di Asia Tengah oleh pagan atau non-pagan. Tetapi silahkan simak dengan seksama dan obyektif sebagian beban dari masalahnya yang faktuil dan obyektif…

  1. Pertama-tama, nama-asalnya berhala, syirik, dari sejak zaman jahiliah.
    Setiap suku Arab jahiliah mempunyai ilah-ilahnya sendiri, yang laki dan perempuan, atau yang beranak. Ada yang memproklamirkan keberadaan sosok “ilah-yang tidak dikenal” yang mereka sebutkan sebagai “al-ilah”, Allah, yang secara literal berarti “ilah itu” (the god). Maka ‘Allah’ begitu saja dianggap bersama sebagai tuhan yang tidak tampak, tuhan tertinggi, sekalipun mereka masing-masing tidak mempunyai konsep seragam tentang siapa “Ilah-Itu”. Maka hadirlah ALLAH menjadi ‘sebuah sebutan universalitas’ untuk “ilah-ilah itu” dari sesama suku-suku Arab (ada 360 ilah) yang sering dirujukkan
    sebagai “Tuhan atas Ka’bah”.
  2. Nama yang tidak pernah AJAIB atau UNIK sebagaimana yang seharusnya layak begitu bagi Tuhan (Hak.13:18) karena datangnya dari domain dan esensi ajaib yang tidak terbatas. Sebutan universalitas dari kesepakatan pelbagai suku-suku
    tidak akan menjadikannya ajaib dan unik. Uninersalitas demikian hanyalah
    istilah keren untuk menggantikan kata ‘PASARAN’.
  3. Nama Allah bukan berasal-mula dari wahyu manapun. Nama ini sudah ada jauh sebelum Islam ada. Sosok Penyandangnya hanya hadir dalam klaim lewat perkembangan tradisi dan budaya, tidak dikenal manifestasinya, dan tidak terbukti eksisnya. Hal mana sesuai dengan ayat Kitab Mazmur 96:5 atau 1Tawarikh 16:26. Juga sesuai dengan kenyataan bahwa Allah-Ismael yang tak pernah disebut dimanapun dan memang tak ada ujudnya. Ini berbeda dengan “God of Abraham, Isaac and Jacob” yang selalu disebut dan terbukti exist.
  4. Nama yang diragukan, belum bisa diterima pada awalnya oleh Muhammad sendiri. Kata “Allah” tidak muncul di Quran dalam puluhan unit wahyu yang turun awal-awal di Mekah. Disitu Muhammad umumnya hanya disuguhi nama Tuhannya dengan istilah RAB (978 x) dan AR-RAHMAN (376x).
    Dr Quraish Shihab mengakui bahwa Quran menunda mengintroduksikan nama ALLAH kepada masyarakatnya karena menunggu penyesuaian pengertian “semantika” kata tsb (‘Allah’) yang tadinya berkonotasi politeistis agar bisa diserap kemudian jadi monoteistis (Membumikan Al-Quran p. 582).
    Akhirnya nama ini harus diterima dan dipakai juga karena memang tak ada pilihan lainnya yang cocok untuk orang Arab. [NB. Terjadi keanehan mendasar bahwa wahyu pertama digua Hira, yang adalah event penobatan Muhammad jadi Rasul Allah (dalam 5 ayat QS.96:1-5) namun ABSEN dari penyebutan/ perkenalan nama Allah disitu, tetapi ruh sudah keburu pergi dan pewahyuan terputus sampai disitu. Ayat 6 dst baru diwahyukan lagi sesudah 2 ½ tahun kemudian ( lihat Mukadimah Al Quran & Terjemahannya, Depag). Akibatnya serius bahwa sampai kini, tidak ada Muslim siapapun yang tahu kapan dan dimana nama Allah itu muncul pertama kalinya dalam Quran?].
  5. Allah yang memperkenalkan namaNya sebagai ‘Allah’ juga menjadi masalah serius, karena perkenalan khusus tsb bukan ditujukan kepada Muhammad, melainkan hanyalah sebuah retelling story dari Taurat yang mengisahkan pertemuan Nabi Musa dengan Tuhannya (dengan semak belukar yang berapi),
    dimana disitulah Dia memperkenalkan namaNya sebagai ALLAH:
    “…… Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku” (QS.20:14). Tetapi dan justru kita semua tahu secara sangat detail dari Kitab Taurat bahwa ditempat itulah Musa diperkenalkan oleh Tuhannya (dalam Bahasa Ibrani, bukan Arab) dengan Nama YHWH – AKU ADALAH AKU, dan bahwa nama dan sebutan tsb adalah se-lama2-nya dan turun temurun (Kel.3:14-15). Jadi pasti bukan dengan nama Arab ‘Allah’. Maka kini, apabila kita masih juga mengadopsi nama Allah, bukankah itu 100% sama artinya dengan mengadopsi Quran dengan melepaskan kebenaran Alkitab: “Aku adalah YHWH” untuk beralih memilih kebenaran baru Quran menjadi “Aku adalah ALLAH” (Kel.3:15, 6:1, 20:2, Ul.5:6 vs Qs.20:14, 28:30 dll)? Renungilah dalam-dalam…
  6. Nama yang praktis telah menolak syahadat Yudeo-Kristiani demi menegakkan Syahadat Islam: “Tiada allah selain YHWH”, tertolak dan diganti menjadi => “Tiada tuhan (YHWH) selain Allah” (Yes. 45:5, Ul. 5:7, 4:35, Kel.20:3 versus QS.37:35). Dan dalam world view (pandangan dunia) yang terus berjalan,
    Syahadat Islamlah yang sudah “menelan” syahadat Kristiani akibat dari pihak mainstream Kristen yang memang ikut-ikutan men-samar-samarkan/menggantikan nama pribadi Tuhannya kepublik, seperti Yudaisme!
  7. Nama yang terkendala oleh kekudusan Ilahiah. Sebab Allah menyatakan dirinya sebagai “Khairul Makiirin” (Penipu-daya, QS.3:54) yang merancang
    pendustaan publik & umatNya tentang Isa-isaan yang telah disalib. Hal mana
    sungguh berseberangan dengan MUTLAKNYA kekudusan Tuhan Alkitab yang bahkan sekaligus menuntut pengudusan namaNya diantara umatNya yang harus kudus dan tahu membedakan kekudusan (Yes 29:23, Im 20:7, 10:10, Mat 6:9 dll).
  8. Terkandung Spirit Antikris, yang menolak semua aspek doktrinal Alkitab, menyangkal BAPA maupun YESUS sebagai Anak (1Yoh2:22), bahkan sampai mengutuk konsep Tuhan Trinitas (QS.9:30; 5:73).
  9. Siapa Bapanya Yesus? Allah samasekali bukan Bapanya Yesus! Ini benar secara presuposisional, baik dari sudut pandang Alkitab maupun Quran: “Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan”.
  10. Nama yang tidak pernah dikenalkan dan disebutkan di Alkitab dari mulut Elohim, malaikat2Nya, para Nabi/Rasul dan Yesus SEMUANYA di PL dan PB (!), walau Ucapan Ilahi, Kabar Baik/ penginjilan dan Roh Kudus sempat mencakup orang2 Arab dan tanah Arab (Yes.13:20, 1 Raj 10:15, Kis 2:11 dan Gal.1:7 dll).
    Apakah ini sebuah kebetulan belaka? Ataukah Tuhan dan seluruh jajaran UtusanNya memang MENGABSENKAN nama tsb secara ilahiah sepanjang ribuan
    tahun sejarah interaksi Tuhan terhadap manusia? Tidakkah ini mendidik kita untuk harus juga mengabsenkan apa yang asing & bermasalah kepada “Meja Tuhan” (Mal.1:6-7), karena kita justru sudah punya pilihan yang lebih baik?
  11. Nama yang turut diserukan sesaat sebelum aksi menjihadi musuh2 Allah/Islam, termasuk yang dianggap kafir: “Allahu Akbar”.
    Sebaliknya seruan permusuhan/ kekerasan atas nama God’s name adalah justru dilarang oleh Tuhan Alkitab, karena melawan Dasa TitahNya, Kel.20:7.
  12. Nama yang diperintahkan agar kita beriman dan menyembahNya bersama umat Allah (QS.29:46, 9:29 dll). “One nation under Allah”, itulah tujuan Syariah Islam dimuka bumi: Sat-satunya Tuhan, Allah, yang harus disembah!
  13. Akhirnya, wajah ruhnya diperlihatkan dibalik nama Allah. Yaitu bukan sekedar nama YHWH saja yang digantikannya, melainkan ketiga nama, sebutan dan jatidiri pribadi dari Tuhan Tritunggal Yang Kudus secara sistematis juga diganti semuanya:
  • YHWH è diganti jadi ALLAH
  • YESUS è diganti jadi ISA (yang adalah manusia)
  • ROH KUDUS è diganti jadi JIBRIL (makhluk cipataan).
    Apakah ini juga sebuah kebetulan-sistematis dari pewahyuan yang Allah turunkan?

KESIMPULAN
Pertanyaan besar kita sekarang adalah apakah semua masalah2 diatas tidak berdampak samasekali bagi moral peribadatan kita kepada Tuhan dan juga keimanan rohani kita bilamana kita tetap mempertahankan nama kembaran tsb bagi nama Tuhan kita juga? Apa kita tidak bertanya kenapa kitalah pihak yang membebani nama KudusNya kedalam sejarah kelam yang penuh dengan masalah?

Dulu 14 abad yang lalu keberhalaan Allahnya zaman jahiliah tidak mengganggu siapapun. Tak ada ajaran Allah yang esensinya mengkontraskan iman Kristen dan orang kafir sampai kepada essensi yang paling doktrinal seperti sekarang. Tetapi, lewat waktu, fakta menunjukkan terjadinya pergeseran dari nama universal dan politeistik yang tadinya dianggap NETRAL dan tak bermasalah… NAMUN KINI nama Allah bereskalasi menjadi Sesembahan-Monoteistik yang dianggap makin menjadi property Islam saja. Syahadat dan takbir Allahu Akbar menjadi kredo jihad melawan, melaknati dan menghancurkan unsur2 kafir yang non-Islam, khususnya termasuk keanakan & ketuhanan Kristus (6:101, 4:171, 5:75), penyaliban Yesus (4:157-8), ketritunggalan Ilahi (5:73, 5:116).
Terdengar dan terbaca ujaran2 permusuhan dan pelaknatan atas nama ALLAH:
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah…. (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka (Yahudi dan Nasrani)…”.
“…dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah. …
Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?”
(QS.9:29 dan 30).
Perkembangan nyata “sejarah nama Allah” menggoreskan banyak masalah dan tanda2 zaman yang tampak secara kasat mata. Yesus sendiri secara profetik sudah menegur setiap kita agar siap menjadi PENILAI ZAMAN yang jeli berhikmat–bukan sebagai kaum munafik—dan sekaligus seharusnya bisa mudah bersikap dan memutuskan apa-apa yang benar, karena masalahnya toh sudah terbuka kasat mata seperti yang diungkapkan diatas:

“Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya,
mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini? Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar?”
(Luk.12:56-57).

Sudahkah kita melihat rupa bumi dan langit yang berbeda? Sudah!
Sudahkah kita melihat, memahami dan menilai tanda zaman ini? Mestinya sudah!
Sudahkah kita memutuskan sendiri apa yang kita nilai benar tentang zamannya??
Yesus berkata, “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat” (Mat 5:37).

Saatnya kini kita harus meninggalkan pengadopsian nama kembaran yang begitu kusut dan terbeban sejarah kelam bagi Tuhan kita, serta mulai berhikmat menilai, memutuskan & memilih nama yang kudus & mulia yang memerdekakan segala kerancuan: “…haruslah kamu ber-awas2; nama allah lain (yang kini makin dan terus hidup & mendominasi) janganlah kamu panggil, janganlah nama itu kedengaran dari mulutmu”. ( Kel.23:13).

[Bersambung Serial-4]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *