Kontra Polemik: Nama ‘ALLAH’ vs ‘YHWH’ (Seri Kedua)

Kontra Polemik: Nama ‘ALLAH’ vs ‘YHWH’ (Seri Kedua)

Apakah boleh asal-asalan saja terhadap nama diriNya dan nama-nama makhluk pilihanNya? Bukankah Tuhan sendiri yang memberi nama bagi diriNya, suatu nama yang tidak terjangkau dan Cemburuan itu: AKU ADALAH AKU? Dan bukankah Dia pula yang memberi nama kepada para malaikat? Pemberian nama manusia yang paling awal, Adam di Perjanjian Lama, sejak 4000an tahun yang lalu diikuti penggantian nama Abraham dan Sara (yang dulunya Abram & Sarai) dan Ismael dan juga Israel dari tadinya Yakub. Demikian seterusnya hingga kepada nama Yohanes (Pembaptis) dan Petrus (dari Simon) dan tentu saja YESUS, AnakNya! Jadi NYATA SEKALI Tuhan sangat berkepentingan dengan nama sehingga dengan SENGAJA Dia memberi dan mengganti nama-nama Nabi dan Rasul tertentu untuk disesuaikan dan dilekatkan kepada VISI, peran & jati diri baru yang sudah disiapkan Tuhan kepada mereka bagi KerajaanNya!

USAHA MANUSIA MENCARI & MEMILIH NAMA BAGI TUHAN

Dalam kondisi yang terkunci, kita kadang  perlu mencarikan langkah terbalik atas langkah-langkah yang yang sudah kita jalankan. Maka dalam kontroversi ini baik diusulkan agar nama sakral YHWH yang kekal itu jangan sekali-kali digantikan, tetapi giliran nama Allah itulah yang justru bisa diganti dengan nama yang lebih mencerminkan propertinya orang-orang Kristen, misalnya ELOHIM atau THEOS.  Bukankah itu sudah menyelesaikan sedikitnya 50 persen masalah, bilamana gagasan ini bisa diterima oleh akal sehat dari kedua belah pihak yang bertikai?

“Waaah, nanti dulu! Tak bisa selesai begitu saja”.
Demikian seruan kaum mainstream, lalu mengeluarkan banyak teori, fakta dan bukti untuk menyanggahinya…

Nah, inilah yang kita mau perlihatkan disini bahwa apa yang mau disanggahi ini pertama-tama bukanlah kesalahan yang harus mutlak ditolak, melainkan hanya sebuah preferensi pilihan saja. Sebutan/nama-nama asli Alkitab bagi Tuhan kita ini pasti bukan kesalahan atau kelemahan apapun sehingga harus ditolak. Bahkan dari segi ketepatan makna Bahasa. ELOHIM misalnya mempunyai keunggulan yang unik karena itu bukanlah kata benda tunggal mutlak untuk menyebut Tuhan – seperti halnya dengan kata Allah, melainkan berbentuk tunggal dalam kejamakan. Dan ini sesuai sepenuhnya dengan esensi Tuhan kita yang Trinitas, tunggal dalam kejamakan pribadiNya.

Beda utama dengan kata Allah hanya sebatas asal bahasa (Ibrani atau Arab) dan beda kebiasaan pelafalan, yaitu yang mana yang lebih biasa dipakai sehari-hari di Indonesia. Namun itu justru bukan hal prinsip untuk ngotot memilih kata bahasa Arab ketimbang Elohim, karena kata Elohim juga pasti mudah diserapkan kedalam bahasa kita – apabila umat Kristen setuju mengadopsinya – persis seperti halnya dengan istilah Kristus, Mesias, Pentakosta, Sabat, Mezbah dll.

Keunggulan superlatif kata Elohim itu justru terletak pada fakta bahwa itulah wahyu asali yang mana nama Tuhan disebutkan pertama kalinya dalam Alkitab,

“Beresyit bara Elohim weet hassammayim weet haaretz”,
Pada mulanya ELOHIM menciptakan langit dan bumi.

Ada banyak pencaharian dan teori yang ruwet tentang asal usul kehadiran dan penggunaan kata tersebut, namun fakta yang kita tampilkan ini ialah bahwa nama Elohim sudah dipakai secara konsisten oleh Tuhan Alkitab mulai dari ayat yang pertama hingga seterusnya di seluruh Perjanjian Lama Ibrani, dimana sebutan Elohim telah dipakai paling luas, sedikitnya 2500 kali di Alkitab. Bukankah ini fakta-keras yang sekaligus membukakan mata kita bahwa sebutan nama Elohim itu sudah diterima baik-baik oleh Tuhan sendiri, tanpa masalah seperti yang dipermasalahkan manusia hingga tidak dimunculkan dalam teks Alkitab?

Sebaliknya, kata Allah-lah yang harus kita selidiki APA keunggulan-intrinsik dan kesejarahannya secara lebih luas dan obyektif sebelum ia dibela/dipertahankan mati-matian sebagai sebutan yang layak dan tepat dan kudus bagi Tuhan Alkitab. APA kelebihan strategis yang signifikan untuk kata Allah disini, sehingga sampai harus dipakai seterusnya dalam Alkitab Indonesia? Bukankah penterjemahan Alkitab dari waktu kewaktu secara terus-menerus melakukan pengeditan tatabahasa, termasuk menyesuaikan istilah/nama terjemahan demi ketepatan serta penghindaran dari isu-isu kontroversial, seperti beberapa contoh yang sudah dilakukan sebagai berikut:

Tampak bahwa banyak istilah-istilah Arab sudah diganti dengan yang lebih semestinya, namun entah kenapa nama Allah tetap kukuh dipertahankan, melainkan bahkan ditambahkan kepada Bait Allah misalnya. Mempertahankan kata Allah diatas Elohim (tanpa alasan yang kuat), disaat pelbagai umat makin sensitif, tegang dan sadar bahwa kata Allah itu bukan milik-warisan kekristenan, sama halnya seperti mengabaikan hikmat-zaman. Sebab Tuhan sudah mengharuskan kita untuk sanggup menilai zaman yang terus berubah. Lihat Lukas 12:56-57. Pada masa kini kita dapat merasakan bagaimana aura Allah-asali yang dulu beda dengan aura Allah-kini. Aura Elohim yang dulu (berbaur dengan kepaganan) beda dengan Aura Elohim-kini.

NAMA ALLAH NON-EKSIS DALAM TEKS ASLI ALKITAB PL & PB

Beberapa tokoh Kristen mengakui bahwa menerima penggantian nama Allah menjadi Elohim tidak akan merugikan iman umat Kristen, teologi Kristen dan kebenaran Alkitab. Ini bukan masalah doktrinal dan internasional melainkan lebih kepada kesepakatan LOKAL dalam penterjemahan Alkitab bahasa Indonesia. Bahkan bagi pihak Muslimpun, penggantian ini akan diterima dengan rasa lega.

Sebaliknya menggantikan YHWH dan Elohim menjadi TUHAN, ALLAH atau Allah seperti posisi yang dipegang oleh sebagian besar umat Kristen saat ini sudah menimbulkan masalah intern yang terus bereskalasi ke depan, bahkan mulai mendapatkan protes dikalangan dunia Muslim saat ini dan diyakini akan terus berlanjut di masa depan. Lihat masalahnya makin terbuka mulai dari asal usul nama Allah, bagaimana nama itu muncul, masalah teologis dan ontologis, sampai kepada roh dibalik nama tersebut.  Kita sadar bahwa nama Allah bukan milik perbendaharaan kosa kata Kristiani. Allah bukanlah Bapanya Yesus dalam teologi Islam maupun Kristen. Nama Allah itu sudah muncul diabad ke-5 SM dan dipakai di kalangan orang Arab yang tersebar luas khususnya diwilayah Arab, Trans-Yordan, Syria, Palestina, Israel. Alkitabpun sedikitnya memberitakan keberadaan mereka di Yerusalem (Kis 2:11) dan di tanah Arab (Gal.1:17) yang berinteraksi dengan orang-orang Israel termasuk para Rasul, Paulus dan rekan rekan mereka.

Maka kitapun harus lebih menyadari makna Tuhan yang telah mengosongkan kata Allah dari seluruh perbendaharaan kosa kata teks Alkitab asli (PL Ibrani dan PB Yunani) disepanjang sejarah, walau kata/nama itu telah muncul di Timur Tengah berabad-abad sebelum Masehi sebagai ilah berhala.

Lihat betapa nama Allah tak pernah muncul dari mulut YHWH di seluruh Perjanjian Lama.Demikian juga dengan semua Nabi, Yesus dan para Rasul. Bahkan nama Allah juga tak pernah terucap dari mulut Muhammad pada awal-awal kenabiannya (Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran, p.582 dst. dimana Quraish Shihab mengakui di awal kenabian Muhammad atau pada 30 unit wahyu awal Qur’an kata Allah tak pernah muncul melainkan yang muncul adalah kata Rabb atau Ar Rahman sebagai sebutan untuk Tuhan). Pada akhirnya kata ‘Allah’ terpaksa diterima oleh Muhammad kemudian karena tak ada padanan kata lainnya untuk Tuhan Islam. Apakah ini sebuah kebetulan, sesuatu yang acak atau karena kecolongan? Kita tentu tahu bahwa tidak ada yang kebetulan dalam setiap kehendak dan tindakan Tuhan. Tidak seekor pun dari pada burung pipit itu yang dilupakan Tuhan, bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya (Lukas 12:7). 

Kaum mainstream sebaliknya mengatakan bahwa nama A.l.l.a.h sudah ada di Alkitab, dan bahkan sudah disahkan penggunaannya oleh Roh Kudus! (Wow, ini klaim yang amat berani mereka lontarkan, lihat link ( https://youtu.be/p8WgTDJSDhl ). Alasannya ini:

Karena dalam peristiwa Pentakosta Kisah 2:11 misalnya, orang-orang Arab yang juga hadir pasti telah mendengar kata ALLAH yang disampaikan Roh Kudus dalam bahasa mereka masing-masing. Yaitu tentang “perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah”. Mereka mengklaim kata asli ‘Theos’ dalam ayat tersebut tidak bisa diterjemahkan dengan kata lain dalam Bahasa Arab, selain dengan kata‘Allah’!

Tentu saja ini salah kaprah, karena ayat tersebut tidak merujuk kepada kata hurufiahnya, melainkan sedang berbicara tentang karya Tuhan yang besar. Apabila dipaksa harus diterjemahkan oleh Roh Kudus, toh bisa dialihkan dengan sengaja kepada sebutan kata-kata lainnya untuk Tuhan misalnya: Rabb, Al-Khalik, Al-Rahman dll. karena YHWH memang “tidak mengenal ALLAH” sebagaimana ALLAH juga “tidak mengenal YHWH”.

Mainstream mungkin masih menyanggah dengan berargumen:
“Tidakkah kalian tahu bahwa usaha penggantian nama Allah dengan Elohim hanyalah usaha sia-sia saja? Periksa yang dalam, dan kalian akan menemukan bahwa pelafalan‘Elohim’ itu dari kata Eloah,sesungguhnya serumpun dengan lafal ‘Allah’ dalam bahasa Arab yang mana sudah dipakai umum dijaman dulu sebagai istilah yang NETRAL untuk sosok penyembahan, baik oleh kaum pagan ataupun non pagan”.

Lalu mereka menyodorkan sejumlah fakta dan bukti berupa prasasti dan inskripsi kuno yang memperlihatkan betapa Elohim itu nama netral yang juga umum dipakai untuk merujuk kepada hakim, raja, malaikat, ilah. Bahkan itu juga nama umum disembah oleh kaum pagan ataupun non-pagan. Dan sebaliknya kata Allah juga diadopsi dan oleh orang-orang Kristen dan pagan pra Islam sebagai Tuhan. Jadi kenapa pemakaian nama Allah ini harus disalahkan oleh kaum Yahweist?

Kembali kita melihat bahwa sanggahan-sanggahan itu lebih merupakan ujud ego pembelaan diri yang keliru, bukan sanggahan substantif. Ini samasekali tidak menjadikan dirinya benar dari dalam substansinya yang mengadopsi nama Allah yang tidak pernah dianjurkan oleh Tuhan YHWH.
Kita disini justru mengundang semua pihak membuka hati bersama untuk mencari pilihan nama/sebutan terbaik bagi Tuhan kita, yang nota bene hanya Dialah yang sah dan benar menetapkan atau menyetujui nama panggilan bagi diriNya. Tidak seperti yang digeneralisasikan kaum mainstream menjadi suka-sukanya manusia menyebutkan/memanggil nama bagiNya.

WHAT’S IN A NAME?

Pujangga Shakespeare pernah menciptakan syair yang menjadikan QUOTE ini terkenal sejagat: “What is in a name? A rose by any other name would smell as sweet”. (Apa yang ada dalam sebuah nama? Mawar dengan nama lain akan juga berbau manis).Sayang Quote tersebut kini seperti sudah layu bahkan dianggap sebagai kesalahan. Itu hanya ada dalam drama Romeo dan Juliet zaman dahulu, dan khususnya tidak ada dalam pandangan Tuhan kita! Siapa bilang Tuhan tidak berkepentingan? Apakah boleh asal-asalan saja terhadap nama diriNya dan nama-nama makhluk pilihanNya? Bukankah Tuhan sendiri yang memberi nama bagi diriNya, suatu nama yang tidak terjangkau dan Cemburuan itu: AKU ADALAH AKU? Dan bukankah Dia pula yang memberi nama kepada para malaikat? Pemberian nama manusia yang paling awal, Adam di Perjanjian Lama, sejak 4000an tahun yang lalu diikuti penggantian nama Abraham dan Sara (yang dulunya Abram & Sarai) dan Ismael dan juga Israel dari tadinya Yakub. Demikian seterusnya hingga kepada nama Yohanes (Pembaptis) dan Petrus (dari Simon) dan tentu saja YESUS, AnakNya!

Jadi NYATA SEKALI Tuhan sangat berkepentingan dengan nama sehingga dengan SENGAJA Dia memberi dan mengganti nama-nama Nabi dan Rasul tertentu untuk disesuaikan dan dilekatkan kepada VISI, peran & jati diri baru yang sudah disiapkan Tuhan kepada mereka bagi KerajaanNya!

Pada mulanya, Tuhan sungguh tidak berurusan atau perlu-perlunya memperkenalkan nama-Nya. Kenapa begitu? Ya, karena memang hal tersebut tidak diperlukan pada awalnya. Bukankah Dia itu satu-satunya yang dikenal oleh manusia ciptaanNya yang paling awal? Dia cukup diseru dan disembah dalam sebutan umum yang dijunjung, dalam hal ini sebagai satu-satunya Elohim/Eloah/El dalam makna agung Sang Pencipta Mahakuasa. Namun belakangan muncullah tuhan-tuhan tandingan yang palsu yang diberhalakan manusia. Maka Tuhan harus lebih khusus mencirikan jati diri asaliNya agar manusia tidak salah sembah, dan agar nama diriNya yang kudus itu terjaga dan terpisah dengan nama-nama illah berhala. Muncullah CIRI KHAS & PEMBEDA yang Tuhan berikan secara spesifik antara the True and False God. Kini tidak hanya disebut secara umum saja, tetapi Dia juga yang menyebut diriNya secara lebih khusus sebagai
Elohim Abraham, Elohim Ishak, Elohim Yakub (Keluaran 3:6 dst).

Maka disini kaum mainstream yang menganut paham pluralistis bagi nama Tuhan perlu mengkaji diri kembali. Mereka menyimpulkan bahwa selama nama itu adalah sebutan maka sebutlah nama Tuhan menurut kehendakmu (sesukamu), boleh pakai Gusti, boleh Theos, boleh God, boleh Elohim, boleh Allah dst. Tetapi pluralisme iman demikian tidak berani menjawab bagaimana bila daftar nama/sebutan bagi tuhan mereka diteruskan dengan sejumlah padanan istilah bagi ilah-ilah berhala zaman dulu seperti: Amon, Kamon, Dagon, Baal, Bel, Hubal. Allah, Molokh, Milkom, Asytoret, Tartak, Asima, Zeus, Hermes, Artemis dst.


Apakah dibenarkan oleh para mainstream pluralis jika saya memanggil Tuhan Alkitab kalian dengan sebutan: Milkom, Hubal, Molokh, Zeus? Apakah satu persatu ilah-ilah ini mampu kita bedakan secara yakin mana yang nama-diri dan mana yang nama-umum/sebutan? Bukankah Baal-pun dikatakan sejumlah ahli bahwa tadinya itu merujuk kepada nama umum tapi lama kelamaan menjadi nama diri? Demikian pula, bagaimana dengan proses nama al-Ilah menjadi Allah monoteis bagi pemahaman sebagian para ahli dan Muslim. Tahukah kalian bagaimana persisnya esensi kebingungan kaum Arab Quraisy yang memprotes Muhammad karena dituduh mengantikan Allah (yang telah mereka sembah duluan), lalu mengintroduksikan Allah yang lain dengan sebutan nama yang sama, namun dianggap hanya menjadikan semua allah itu jadi satu (monoteis),

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka (pagan Arab):
“Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka
menjawab: “Allah”
, maka bagaimanakah mereka dapat
dipalingkan (dari menyembah Allah)?”
[QS. 43: 87]

“…dan orang-orang kafir berkata (tentang Muhammad):
“Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta.
Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu
 (ALLAH) saja?
[QS.38:4-5a]

 Sebaliknya, Muhammad tetap berkata kepada Ahli Kitab:

“Allah kami dan Allah kamu adalah satu, dan kami hanya
kepada-Nya berserah diri.””
(Qs.29:46)

JADI TAMPAKLAH, betapa nama Allah telah membingungkan orang-orang kafir zaman dulu di Arabia. Juga terlihat disini melalui terjemahan Quran yang diakui dunia.

Yusuf Ali: “Our Allah and your Allah is One, and to Him do we submit”.

Pickthal: “Our Allah and your Allah is One, and unto Him we surrender”.

Depag: “Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan hanya kepada-Nya kami berserah diri”.

Tampak ada kerancuan terjemahan disini, apakah pakai ‘Allah’, atau ‘Tuhan’, yang mana berurusan dengan kecenderungan memposisikan Allah sebagai Nama Diri atau nama generik sebutan saja! Belum lagi dipersoalkan bunyi Kalimat Syahadat yang meniupkan lurus makna nama diri Allah versus sebutan tuhan-tuhan selain Allah.

Kini Allah yang macam apa lagikah yang sudah kalian introduksikan kedalam kekristenan dengan cara multipluralisme nama Allah?

DAN KENAPA PERLU PILIH ELOHIM?

Tetapi setanpun tidak berhenti berusaha merebut bagian dalam nama ini dan sekaligus untuk menajiskannya.Itu sebabnya nama Elohim sempat dipluralistik-kanjuga kedalam praktek penyembahan orang-orang pagan, namun kita harus mawas bahwa pembauran nama ini tidak bisa dikatakan NETRAl dan tanpa masalah. Ini melainkan adalah ULAH manusia yang tanpa sadar menanamkan tanaman lalang kepada gandum, sama seperti yang mereka kenakan kepada nama YHWH. Sekaliber sosok seperti Imam Besar Harun pun sempat terlibat merujukkan nama YHWH diatas ritual pagan (Kel.32:1-5).Dan banyak praktek bakti kepada YHWH namun mereka beribadah dengan mencampurkan berhala-berhala mereka (2Raja 17:33, 41 dll). Ini adalah satu contoh saja pada masa lampau dimana penajisan dikaitkan dengan perbauran terhadap patung-patung fisik.  Namun bagaimanawujudnya pada masa kini? Tentu bukan berupa patung fisik lagi.

(A). Kita lihat dulu bagaimana pihak Islam misalnya memperlakukan nama Elohim atau YHWH? Disini, walau Tuhannya dikatakan sama dengan Tuhan Nasrani (QS.29:46), namun nama-nama asli (Elohim dan YHWH) tidak muncul samasekali di Quran “untuk membalas” nama Allah yang juga kosong dari seluruh Alkitab.Menurut Alkitab, keduanya saling tidak mengenal! Ya diatas ya, tidak diatas tidak (Matius 5:37).Namun Quran mencoba “mempluralkan” dirinya dengan sebagian muatan Alkitab yang hanya di permukaan saja. Khususnya menyamakan dan men-sinabungkan sosok Allah, Malaikat, Nabi dan Rasul, Kitab-kitab-Nya diantara 3 kepercayaan Semitik, Yahudi, Kristen dan Islam. Akibatnya tentu membingungkan semua pihak. Sosok Allah dan lain-lainyang disama-samakan itu harus dimunculkannya dengan sifat dan jatidiri yang berbeda sekali. Singkatnya, didalam Quran telah terjadi penggantian nama dan sosok atas nama Allah yang “dipaksakan harus satu dan sama” dengan Tuhan Alkitab? Apakah pluralisme ini menguntungkan?

(B). Bagaimana dengan kalangan Kristen tertentu dalam memperlakukan nama Elohim dan YHWH? Bukankah disini terlihat ada usaha-usaha mereka – bersama atau sendiri sendiri –membiarkan penghilangan/penggantian nama tersebut atas alasan yang lain lagi? Semisal pendalilan umum mereka sbb,
“Tuhan itu mahatahu dan Dia tahu ketika saya berseru kepadaNya maka konsep rujukan ‘Allah saya’ berbeda dengan ‘Allah Islam’, walau sebutan nama keduanya sama”.

Nah, kembali ini dalil pembenaran, bukan kebenaran dimata Tuhan. Sebab Tuhan yang sejati telah meletakkan suatu beban tanggung jawab agar kita tetap terlibat dalam urusan KerajaanNya. Kita diajariNya dalam DOA BAPA KAMI: “Dikuduskanlah namaMu”. Toh Tuhan tahu itu, dan sekalipun tanpa doamu Dia tetap kudus namaNya. Namun dengan doa tersebut, Anda diperlukan Tuhan untuk harus ikut bertanggung jawab dan melibatkan diri dalam pengudusan namaNya, termasuk dengan tidak sembarangan menggampangkan dan mencampuradukkan nama kudusNya dengan nama lain yang Anda anggap kudus karena berpikir bahwa itu adalah nama-nama Tuhan yang bersifat netral dan umum dipakai.

Adalah benar bahwa Tuhan tahu konsep rujukan Allahmu. Tahu akan doa dan permintaanmu, keluhanmu dan semua hal tentang dirimu. Namun diatas semuanya, Diapun menuntut keterlibatan dan tanggung jawabmu untuk MEMISAHKAN namaNya (yang kudus) dari yang tidak kudus, bahkan dipisahkan dari semua nama-nama ilah lainnya,yang hampa. Sebab segala Allah bangsa-bangsa adalah hampa (Mazmur 96:5). Tuhan meminta namaNya dikuduskan(kudus: artinya dipisahkan dari) – bukan dinetralkan –sampai seprima-prima kudus yang ada!Pemakaian namaNya yang ‘Netral’ tidak bisa mengikuti tuntutan Yesus: “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak” (Matius 5:37).

Kaum mainstream mengajukan banyak “fakta & bukti” historis, arkeologis, prasasti dll tentang eksistensi yang sah bagi nama Allah bahkan sudah diadopsioleh pihak Kristen sendiri sebelum ada Islam. Predated Islam! Namun fakta bahwa nama Allah sudah dipakai oleh orang-orang Kristen dimasa pra-Islam samasekali tidak membuktikan bahwa nama tersebut sudah benar dikenakan kepada Tuhan Alkitab. Tolok ukur kebenaran ini tidak disitu. Praktek tradisi Yudaisme dan Kristiani serta keimanannya tidak selalu berjalan benar dan tidak semua selamat. Begitu pula orang-orang Kristen purba pun tidak semuanya pengikut Yesus. Marshall Hodgson berkata bahwa diera pra-Islam, bahkan ada orang-orang Arab Kristen yang berziarah naik Haji ke Kabah untuk memuliakan Allah sebagai Tuhan Sang Pencipta.

Akhirnya harus ditegaskan disini bahwa nama/kata ‘Allah’ yang dianggap “Netral” (karena sudah dipakai secara umum oleh kaum pagan dan non pagan dijaman dulu) itu sungguh menyesatkan! Itu bukan nama yang Tuhan perlukan. Ketika menyebut nama Tuhan yang Kudus, kita tidak dibenarkan untuk memakai nama yang bersifat tradisional/umum hanya dengan asumsi bahwa itu adalah NAMA YANG NETRAL.


NamaNya adalah AJAIB (Hakim-hakim 13:18).
NamaNya adalah CEMBURUAN (Keluaran 34:14).
NamaNya adalah DAHSYAT (Mazmur 99:3).
NamaNya adalah KUDUS (Imamat 18:21, 19:2 dll).
Namanya adalah YHWH (AKU ADALAH AKU)


Semua attribut ini justru bermakna maha-anti terhadap nama untuk Tuhan yang dianggap netral dan bersifat umum serta pasaran! Hal ini juga sudah puluhan kali dinyatakan dalam Alkitab:

“Haruslah kamu dapat membedakan antara yang kudus dengan yang tidak kudus, antara yang najis dengan yang tidak najis” (Imamat 10:10).

“Aku akan menguduskan nama-Ku yang besar yang sudah dinajiskan di tengah bangsa-bangsa, dan yang kamu najiskan di tengah-tengah mereka” (Yehezkiel 36:23).

Pada waktu itu Aku akan menggeledah Yerusalem dengan memakai obor dan akan menghukum orang-orang yang telah mengental  seperti anggur di atas endapannya dan yang berkata dalam hatinya: TUHAN tidak berbuat baik dan tidak berbuat jahat (alias NETRAL?)” (Zefanya 1:12b)

KESIMPULAN AWAL
(AKAN DIPERKUAT LAGI, DALAM SERIAL LANJUTAN)

Penetapan nama manusia oleh manusia saja tidak harus benar, apalagi bila penetapannya dikenakan untuk nama-Tuhan. Tolok ukur yang mutlak benar bukan berdasarkan alasan-alasan sejarah, budaya, tradisi, lingustik, arkeologi, ilmu dan tafsiran apapun bilamana itu tidak mendapatkan dukungan konfirmatif dari Alkitab. Aksioma berkata: Tak ada mahkluk Tuhan yang bisa tahu tentang DiriNya dan NamaNya apabila bukan Tuhan sendiri yang memberitahukannya kepada anak-anakNya.

Kita hanya tahu NAMA TUHAN YANG BENAR apabila Tuhan sendiri sudah mewahyukan atau sudah menetapkan panggilan bagi diriNya!

Jadi, sedikitnya kita telah menyaksikan fakta dari dalam Alkitab yang mendukung nama ELOHIM, meskipun belum membahas faktor eksternal (dalam hal ini faktor Islam):

  • Dan nama ‘Elohim’ adalah satu yang sudah disambutNya atau disebutkan bagiNyasebanyak 2.500 kali dalam Alkitab, sementara ‘Allah’ justru tidak sekalipun disebutkan.
  • Wahyu pertama yang terdapat di Kejadian 1:1 dimulai dengan kata Elohim sebagai penyebutan untuk Tuhan sang Pencipta.
  • Tuhan juga telah mencirikan dan mengkuduskan nama diriNya sebagai “Elohim Abraham, Elohim Ishak dan Elohim Yakub”, demi membentengi diri terhadap pemalsuan dari Elohim-Elohim dan allah-allah lain manapun, karena segala Allah bangsa-bangsa adalah hampa. Tuhan menyebut diriNya Elohim Abraham, Ishak dan Yakub oleh karena kepada ketiga Patriakh inilah Ia telah menyatakan diriNya serta mengikat Perjanjian Kekal dengan mereka yang berdampak tidak hanya pada keturunan mereka (Israel) tapi juga bagi seluruh umat manusia.
  • Tuhan sangat peduli dengan namaNya yang kudus, bahwa antara yang kudus dengan yang tidak kudus harus dipisahkan dan dibedakan, bukan malah membiarkan pembauran pluralistik namaNya supaya netral.
    [NB. Nama yang dianggap netral tidak bolehdijadikan alasan untuk “pen-desakralisasian” nama Elohim/YHWH]

KALAU DEMIKIAN– secara lurus tanpa kekeliruan & berdasarkan kebenaran– nama manakah yang sebenarnya lebih layak dan tepat diserukan kepada Tuhan Alkitab? Elohim atau Allah?

“We TRUST that
much disagreement about
ELOHIM/YHWH/ALLAH
 finds itself resolved
at the cross, if only
we will kneel
rather than mock”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *