Apakah Ada Agama Yang Sejati? Part 1

Apakah Ada Agama Yang Sejati? Part 1

Jika kita menginginkan agar diskusi mengenai agama yang sejati menjadi sesuatu yang bermakna, maka diskusi itu harus mempunyai titik awal obyektif. Jelasnya, diskusi itu harus paralel dengan metode ilmiah. Kita tidak dapat memulainya dengan faktor yang diberikan begitu saja pada kita. Titik awal itu haruslah merupakan sesuatu yang dapat diterima dan dimiliki oleh semua orang. Ia tidak dapat berasal dari sudut pandang suatu kitab suci tertentu. Tidaklah bermanfaat bagi orang Kristen untuk mengutip Alkitab untuk seorang Muslim, atau seorang Budha apabila salah satu atau kedua agama tersebut menolak Alkitab sebagai kitab yang berotoritas. Jika kita harus berhadapan dengan pertanyaan mengenai agama yang sejati, kita harus memulainya sebelum kitab-kitab itu digunakan. Kita tidak dapat memulainya dengan praduga bahwa satu agama tertentu lebih baik dari agama lainnya.

Ravi Zacharias mengatakan bahwa besar kemungkinan semua agama adalah palsu daripada semua agama adalah benar. Ada terlalu banyak kontradiksi di antara sistem-sistem keagamaan. Di jaman akurasi politik seperti saat ini, nampaknya perkataan sopan yang harus disampaikan adalah bahwa semua agama adalah sama, dan semua agama mempunyai tujuan yang sama. Hanya orang-orang yang tidak tahu apa-apa yang akan berkata seperti itu.   

Blaise Pascal, seorang ilmuwan Perancis dan seorang jenius dalam hal agama pada abad ke-17, mengusulkan sebuah poin awal untuk mendiskusikan isu mengenai agama yang sejati, yang mungkin dapat diterima oleh semua orang.

Pascal berusaha untuk mengemukakan proposisi-proposisi tertentu, berdasarkan pada observasi dan sebagai bagian dari nalar, yang akan menolong orang untuk menemukan agama yang sejati, apabila agama yang sejati itu memang ada. Walaupun Pascal tidak pernah menyelesaikan usulan karyanya, potongan-potongan pemikirannya  (Pensées)  telah menjadi salah satu literatur klasik dunia. Pendekatan Pascal memiliki fitur yang dapat diterima oleh semua orang: setiap orang dapat melihat, mengobservasi, dan menarik kesimpulan-kesimpulan dari tempat dimana ia berdiri. Ini benar-benar merupakan suatu metode induktif.  (Harus dikatakan bahwa pendekatan Pascal bersifat pre-yudisial karena ia berasal dari tradisi Kristen, sehingga harus diingat bahwa prinsip-prinsip ini bukanlah produk iman Kristen.  Apakah prinsip-prinsip ini benar atau salah tidak bergantung pada apakah seseorang adalah Kristen atau tidak. Prinsip-prinsip tersebut berhadapan dengan fakta-fakta yang dapat didiskusikan dalam konteks agama apapun. Pertanyaan-pertanyaan ini tidaklah lazim bagi semua orang, dan dapat diverifikasi dari pengalaman semua orang).

Pascal berpendapat bahwa agar suatu agama dapat dikatakan sebagai agama yang sejati, maka agama itu harus memberikan jawaban yang memuaskan dan tepat terhadap kriteria berikut ini. 

 

  1. Agama yang sejati mengajarkan ketersembunyian Tuhan

Sangatlah jelas bahwa Tuhan itu tidak dapat dipahami oleh persepsi sensori. Tuhan bukanlah sebuah obyek yang telah dianalisa di laboratorium. Jika Tuhan itu eksis, Ia eksis dalam semacam keadaan atau bentuk yang tersembunyi; karena kita tidak dapat melihat-Nya. Berkenaan dengan hal ini, Pascal menulis, “Maka Tuhan itu tersembunyi sehingga setiap agama yang tidak mengafirmasi bahwa Tuhan itu tersembunyi adalah agama yang tidak benar, dan setiap agama yang tidak memberi alasan mengenai hal itu, tidaklah instruktif.” (Pascal, Pensees, h. 191.). Ketersembunyian Tuhan, atau dalam istilah Latin, Deus absconditus, adalah poin awal bagi dialog di antara tradisi-tradisi religius.     

Ini adalah kebenaran umum yang dapat disepakati semua. Orang Muslim, Budha, Hindu, Kristen, Yahudi, dan siapapun juga, tidak dapat melihat Tuhan. Kita dapat melihat pada penerapan-penerapannya.

Dalam menerapkan prinsip ini, kita dapat memulainya dengan sistem-sistem religius panteistik. Definisi populer dari panteisme adalah “segala sesuatu atau segala makhluk adalah moda, atribut, atau penampakan dari satu realitas tunggal Keberadaan/Makhluk; oleh karena alam dan Tuhan diyakini sebagai identik.” (Van Harvey, Handbook of Theological Terms (New York: The Macmillan Co., 1964), h. 173)

Manusia sebagai pengamat tidak dapat membuat kesimpulan berdasarkan pengujiannya akan realitas bahwa alam dan Tuhan itu identik. Untuk menjadi seorang Panteis, orang harus membawa sesuatu dengan observasinya; yaitu, keyakinan bahwa Tuhan dan Alam adalah satu. Ia tidak akan mendapatkan hal ini hanya dari alam. Panteisme berkaitan dengan eksistensi manusia, yang berarti bahwa manusia adalah bagian dari esensi ilahi. Manusia adalah percikan keilahian. Namun sekali lagi, ini bukanlah sesuatu yang kita ketahui melalui observasi, melalui penglihatan, sentuhan atau pengetahuan yang didapat sendiri. Bisa jadi itu adalah pembengkokan besar dari pengetahuan yang didapat sendiri. Hanya ada dua hal yang dapat diterima oleh nalar yaitu: Tuhan itu tersembunyi, atau tidak! (Dalam mengemukakan alternatif radikal seperti ini, harus ada referensi terhadap “bukti-bukti”  eksistensi Tuhan. Pengetahuan yang dapat kita peroleh dalam argumen tersebut adalah suatu pengetahuan akan bagian terbanyak yang berdasarkan pada “efek-efek” atau karya Tuhan. Itu bukanlah pengetahuan yang akan memberikan arahan bagi hidup, dan juga tidak memberikan intimasi bahwa Tuhan itu mengasihi atau menebus manusia. Survey mengenai bukti-bukti tradisional akan eksistensi Tuhan dapat ditemukan di: http://www.emporia.edu/socsci/philos/chp17.htm.)

Panteisme itu berbahaya karena manusia  dibawa untuk mempunyai pandangan yang terlalu optimistik mengenai naturnya sendiri. Panteisme terperangkap dalam berusaha untuk menjelaskan kejahatan sebagai sebuah ilusi, atau pikiran yang salah, jika tidak demikian ia secara logis mempersalahkan Tuhan karena Tuhan adalah segala sesuatu dan kejahatan adalah bagian dari sifat-Nya. Kraemer menegaskan bahwa  hasil dari panteisme adalah bagian-bagian dari Hinduisme, yaitu bahwa “Tuhan atau Yang Ilahi itu tidak pernah benar-benar eksis.” (The Christian Message in a Non-Christian World, h. 162)

Satu-satunya hal yang benar-benar dialami orang adalah hati nurani manusia yang dipandang sebagai yang terbaik. Tetapi secara paradoks, agama-agama yang mengidentifikasi manusia dengan Tuhan dalam beberapa bentuk panteistik adalah agama-agama yang tidak menerima inkarnasi sejati, dalam mana Tuhan menjadi manusia. (Avatar dalam Hinduisme sangatlah berbeda dengan inkarnasi dalam kekristenan, karena inkarnasi berarti Tuhan menjadi manusia sejati. Avata adalah sebuah “personifikasi mitologis sesosok dewa untuk tujuan praktis, sedangkan keilahian yang sejati adalah esensi murni yang tidak beratribut dan tidak bertindak.” (Ibid., h. 370-71)

Dalam cara yang berbeda, prinsip Pascal ini terlihat dalam pengajaran-pengajaran klasik Budha dan Konfusius seperti yang kita ketahui. Tak satupun dari para pendiri agama ini yang berminat dalam mendiskusikan eksistensi Tuhan. Untuk tujuan-tujuan praktis, Gautama dan Konfusius adalah non-theis. Pada waktunya, tidak hanya para pendiri agama itu ditinggikan menjadi Tuhan, namun ada sesembahan lainnya lagi yang ditambahkan. Gautama tidak bisa dikatakan telah menerima “wahyu ilahi”. Apa yang terjadi adalah bahwa ia datang untuk melihat kebenaran mendasar mengenai natur penderitaan, alasan adanya  penderitaan, dan kemungkinan untuk mengelakkan diri dari penderitaan. Ajarannya adalah suatu pemahaman mengenai jalan menuju kebahagiaan jika orang memandang kebahagiaan sebagai pintu untuk meloloskan diri dari hasrat. Namun demikian, telah diobservasi bahwa bahkan hasrat untuk melepaskan diri sendiri dari hasrat, pun adalah hasrat. 

Pengajaran Konfusius tidak lebih daripada suatu bentuk humanisme kuno. Ia menyatakan bahwa “absorpsi dalam studi mengenai supranatural adalah hal yang paling berbahaya.” (Lionel Giles, The Sayings of Confucius (London: John Murray, 1917), h. 94)

Dalam gaya humanis sejati, Konfusius menjelaskan kejahatan sebagai keegoisan manusia, delusi dan ketidakmampuan. Ketika seorang murid bertanya padanya mengenai kematian dan pelayanan roh-roh, ia menjawab, “Hingga kamu telah belajar bagaimana melayani manusia, bagaimana kamu dapat melayani hantu-hantu?…Hingga kamu mengetahui mengenai yang hidup, bagaimana kamu dapat mengetahui yang sudah mati?” (Edward J. Jurji, The Christian Interpretation of Religion (New York: The Macmillan Co., 1952), h. 183)

Ironinya adalah, baik Gautama maupun Konfusius, yang hanya sedikit berbicara mengenai apakah Tuhan itu eksis atau tidak, dijadikan sebagai sesembahan oleh para pengikut mereka yang kemudian.

Dalam kasus Islam, yang ilahi itu tersembunyi tetapi tidak ada penjelasan mengapa Ia tersembunyi, yang berkaitan dengan bagian kedua dari proposisi Pascal. Qur’an tidak mengenal Tuhan Yang Suci yang menyembunyikan diri-Nya oleh karena keberdosaan manusia. Islam adalah suatu bentuk agama yang moralistik, rasionalistik, dan menekankan pada usaha untuk mendapatkan pembenaran dan penerimaan Tuhan. Kraemer mengatakan bahwa Islam adalah “agama legalistik dalam mana segala sesuatunya bergantung pada upaya-upaya orang-orang beriman dan apakah ia menggenapi tuntutan-tuntutan dari Hukum Ilahi. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa, suatu agama yang tercipta dari suatu bentuk – atau diwarnai oleh suatu bentuk – pembebasan oleh diri sendiri, pembenaran oleh diri sendiri dan pengudusan oleh diri sendiri, pada akhirnya tidak mempunyai dasar yang teguh dan tetap.” (Kraemer, Why Christianity of All Religions?, h. 105)

Ketersembunyian Tuhan menuntut suatu konsep baru yang radikal mengenai Tuhan harus dibuktikan dalam penjelasan. Konsep mengenai Tuhan ini hendaknya bukan merupakan suatu konstruksi pikiran manusia, karena manusia tidak dapat mengeluarkan apa yang tersembunyi oleh karena ketersembunyian berkaitan dengan Tuhan. Jika kita ingin mengetahui alasan dari Tuhan itu tersembunyi, itu tidak dapat ditemukan dari dalam pikiran manusia. Jawabannya harus datang dari Tuhan yang tersembunyi itu. Ini hanya dapat dimungkinkan dengan gagasan mengenai pewahyuan. Oleh karena Budhisme, Hinduisme, Konfusianisme dan Taoisme tidak mengklaim pewahyuan, maka tidak ada perkataan dari Tuhan yang tersembunyi. Sehubungan dengan Budhisme dan Hinduisme, yang ada hanyalah meditasi, bukan pewahyuan. 

Ada tempat dimana alasan ketersembunyian Tuhan itu dinyatakan. Imamat 11:45 berbunyi,

“Sebab, Akulah YAHWEH yang telah membawamu keluar dari tanah Mesir untuk menjadi Elohimmu, maka kamu menjadi kudus, sebab Aku ini kudus”.

Kekudusan menuntut adanya pemisahan dari dosa-dosa kaum pagan dan para penyembah berhala di sekitar mereka. Kekudusan menuntut kemurnian moral pribadi dalam hidup dan ketika orang Israel terus-menerus memberontak terhadap Tuhan, Ia menarik diri dari mereka dan membawa mereka kepada penghakiman atas dosa-dosa mereka. Yeremia menulis, “Kejahatanmu akan mengajar engkau, dan kemurtadanmu akan menegur engkau, dan ketahuilah serta lihatlah bahwa yang jahat dan pahit adalah dengan meninggalkan YAHWEH, Elohimmu” (Yeremia 2:19). “Dosa-dosamu telah menahan kebaikan dari padamu” (Yeremia 5:25). Puncak dari hal ini digambarkan dalam Surat Roma yang menceritakan bagaimana Tuhan menyerahkan mereka untuk mengikuti jalan mereka sendiri menuju penghancuran diri mereka sendiri. 

Konsep Deus absconditus (atau ketersembunyian Tuhan) erat berhubungan dengan alasan mengenai ketersembunyian itu. Mengingat penjelasan Pascal mengenai ketersembunyian Tuhan ada pada dosa manusia. Jika dosa tidak dipandang secara serius, identifikasi manusia dengan yang ilahi menjadi mudah. Jika dosa adalah suatu tindakan yang serius dan berat terhadap yang ilahi, suatu tindakan etis dan penyimpangan etis, maka tidak mungkin untuk mengidentifikasi manusia dengan Tuhan. Perbedaan kualitatif antara Tuhan dan manusia harus ditekankan. Pada umumnya, tradisi-tradisi religius dunia gagal menyikapi konsep dosa dengan serius (Perhatikan komentar Jurji mengenai Islam, yang mengabaikan gagasan mengenai seorang penebus “terutama karena Islam sama sekali tidak mengenal dosa mula-mula dan pendiri serta para penafsirnya tidak mempunyai kejelasan mengenai problem kejahatan dan mengabaikan kebutuhan jiwa akan pengampunan, seorang Juruselamat pribadi, dan doa-doa sebagai hubungan intim yang sangat penting dengan Sang Kekal.” (op. cit., h. 256)

Brunner mengatakan, “Akibat dari agama tanpa dasar sejarah, agama tanpa seorang mediator, adalah kegagalan untuk mengakui karakter radikal dari kesalahan dosa. Itu adalah suatu usaha untuk menciptakan sebuah hubungan dengan Tuhan yang tidak memandang kenyataan akan rasa bersalah.” (Emil Brunner, The Christian Doctrine of the Church, Faith and the Consummation, trans. David Cairns and T. H. L. Parker (Philadelphia: Westminster Press, 1962), h. 7)

Dalam konsep mengenai ketersembunyian Tuhan, kita tidak dapat menyimpulkan bahwa Tuhan itu kudus atau bahwa Ia adalah kasih. Ini adalah pesan yang harus datang dari Tuhan kepada manusia; dan tidak berasal dari manusia.

“Pesan bahwa Tuhan adalah Kasih adalah sesuatu yang benar-benar baru di dunia. Kita memahami hal ini jika kita berusaha untuk menerapkan pernyataan ini kepada ilah-ilah berbagai agama dunia: Wotan itu Kasih, Zeus, Jupiter, Brahma, Ahura Mazda, Vishnu, Allah itu Kasih. Kesemua kombinasi ini sangat mustahil. Bahkan Tuhan yang diajarkan Plato, yang adalah punsak dari semua yang Baik, bukanlah Kasih. Plato bisa saja memandang pernyataan ‘Tuhan adalah Kasih’ dengan menggeleng-gelengkan kepalanya keheranan.” (Ibid., h. 200)

Brunner melanjutkan dengan mengatakan bahwa adalah mungkin untuk menemukan Tuhan yang “Pemurah” dalam beberapa agama dunia, “tetapi kenyataan bahwa Tuhan itu Kasih, dan oleh karena itu kasih adalah esensi dasar dari Natur Tuhan, tidak pernah secara eksplisit dikatakan dimanapun, dan masih sangat kurang sekali dinyatakan dalam penyerahan diri sendiri yang ilahi. Tuhan dari agama Bhakti, yang seringkali dianggap paralel dengan iman Kristen, ‘pada dasarnya – dalam hubungan-Nya dengan Dunia, sangat tidak berminat’”. (The Christian Message in a Non-Christian World, h. 172) 

Sebagai konklusi dari bagian ini, kita harus mengafirmasi ketersembunyian Tuhan. Jadi jika Tuhan itu tersembunyi, kita harus mengetahui alasannya. Ini berarti bahwa jika kita ingin mengetahui tentang Tuhan dan seperti apa Dia, pengetahuan ini tidak akan ditemukan dalam apapun selain dari Tuhan sendiri yang berbicara. Oleh karena Tuhan itu tersembunyi, kita harus menolak pendekatan-pendekatan semacam itu terhadap hidup keagamaan yang mensetarakan manusia dengan Tuhan. Jika Tuhan itu tersembunyi, alasan mengenai ketersembunyian-Nya akan disampaikan sendiri oleh Tuhan dan tidak dapat ditemukan oleh upaya manusia semata. Pertanyaan penting yang muncul disini adalah: apakah Tuhan telah berbicara dengan cara yang jelas mengenai hal-hal ini? Ini akan dijawab kemudian. 

 

  1. Agama yang sejati harus menjelaskan kesengsaraan manusia

Pascal menulis, “Agar sebuah agama dikatakan sebagai agama yang benar, ia harus mempunyai pengetahuan mengenai natur kita. Ia harus mengetahui kebesarannya dan kekurangannya, dan alasan untuk kedua hal itu” (Pensées 433).  Dalam Pensées 493, ia menulis, “Agama yang benar mengajarkan kewajiban-kewajiban kita; kelemahan-kelemahan kita, kesombongan kita, dan nafsu kita; dan obat untuk itu, kerendahan hati dan mortifikasi”. Pemahaman Pascal mengenai natur manusia adalah sesuatu yang dapat secara alamiah bertumbuh dari observasi induktif. Mengenai manusia ia menulis, “Sungguh suatu angan-angan! Seekor monster, sebuah kekacauan, sungguh suatu kontradiksi, sebuah prodigy! Hakim atas segala sesuatu, cacing tolol dunia ini, pembenaman kebenaran, timbunan ketidakpastian dan kesalahan, kesombongan dan penolakan alam semesta!” (Pensées 434, h. 143)

 

Apakah ada agama yang sejati – Bagian 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *