Kepada Anda Yang Belum Kenal Atau Salah Kenal DiriNya: “Apa katamu, Siapakah Aku Ini?”

Kepada Anda Yang Belum Kenal Atau Salah Kenal DiriNya: “Apa katamu, Siapakah Aku Ini?”

Kepada Anda Yang Belum Kenal Atau Salah Kenal DiriNya:  

“A p a  k a t a m u, S i a p a k a h  A k u  I n i?”

TUJUH CATATAN “GUINNESS BOOK OF WORLD RECORDS” BAGI AJARAN SANG  GURU

Di abad pertama, dari satu dusun kecil di Nazaret,

tampil seorang laki-laki berumur 30 tahun.

Ia anak dari seorang tukang kayu yang bernama Yusuf.

Namun dilahirkan oleh Maria yang masih perawan,

lewat sebuah proses kehamilan non-benih-biologis yang teramat rumit.

Perawakan fisiknya tidak diketahui, namun “perawakan hatinya” dilukiskan secara penuh. Kepadanya diberi satu nama dan sejumlah gelar yang asing bagi telinga manusia.

Diberikan bukan oleh orang tuanya, melainkan oleh seorang mahluk dari alam lain yang amat berwibawa. Anak laki-laki ini tumbuh tanpa mendapat pendidikan dari guru-agama manapun. Guru Besar Gamaliel tidak mengenalnya. Namun tiba-tiba dan sekaligus Ia tampil sebagai Maha-Guru dan Dokter spesialis ilmu kehidupan yang paling ulung. Tak ada penyakit yang tak dapat disembuhkannya. Ia hanya mengajar dan berpraktek dalam kurun waktu 3 tahun. Spiritual, moral dan etika tertinggi adalah topiknya. Namun ia amat dibenci, dimata-matai, dijebak, sampai dikhianati. Dan akhirnya  Ia dinyatakan bersalah walau tanpa diadili dan tanpa bukti.

Ia diperlakukan sebagai penjahat terbesar, dianiayai, dihukum mati dengan penyaliban, bukan karena APA (yang dilakukan), tetapi karena mengatakan SIAPA DIA.

Namanya: YESUS!

Paparan berikut diharapkan berguna bagi pihak-pihak yang mencari jawaban terhadap pertanyaan pokok,  “Siapakah Yesus ini yang disebut Mesias?”

 

Catatan Satu

Socrates mengajar selama 40 tahun.

Plato 50 tahun.

Aristoteles 40 tahun.      

Muhammad 23 tahun

Namun Yesus hanya 3 tahun!

AjaranNya dalam, namun sederhana, untuk orang-orang sederhana.

Apa yang diwariskan Yesus ke dunia selama pelayanan 3 tahun itu melewati apa yang dapat diwariskan seluruh filsuf dan guru-guru terbesar dijadikan satu disepanjang abad. Fakta kecil ini sekaligus sudah menempatkan Yesus dalam jajaran Maha-Guru Terbesar.

Catatan Dua

Yesus menyampaikan ajaranNya kepada manusia. Lalu ditulis dan dibukukan dalam sebuah kitab yang sakral dan berwibawa. Yesus sendiri tidak menulis ajaranNya, walau Ia cakap menulis. Masa pelayananNya di dunia amat singkat, dan Dia tidak akan menghabiskan waktuNya untuk menulis. Ia bahkan tidak perlu mengawasi penulisan, atau menyuruh orang-lain untuk menuliskan ajaran-Nya. Bukankah itu aneh? Sama sekali tidak!

Alasannya sangat mendasar. AjaranNya yang disebut Injil (yaitu “Kabar Baik”, penyelamatan bagi segenap alam) itu terlalu berwibawa untuk bisa didiamkan dan dibendung. Yesus tahu Injil akan ditulis oleh murid-muridNya kelak SETELAH mereka (dan para pengikutNya) dibukakan mata-batinnya oleh Roh Kudus (Yohanes 4:26; 16:12, 13; 1 Korintus 2:13). Dan itulah yang terjadi! AjaranNya dibukukan, dan telah memberkati bermiliar hati manusia disepanjang zaman. Kitab yang memberi rahmat ini telah menjadi bacaan renungan dan kupasan yang paling luas diseluruh muka bumi. Kini telah diterjemahkan kedalam lebih dari 1300 bahasa/dialek dunia. Suatu prestasi terjemahan yang paling luas tiada tanding!

Catatan Tiga

Ajaran yang termulia tidak akan ada nilainya, bilamana si pengajarnya sendiri tidak berperilaku mulia seperti yang diajarkan. Tetapi Yesus bukan hanya mengajar, melainkan sekaligus mencontohkannya dalam karakter-karakter, perilaku dan karyaNya. Apa yang keluar dari mulutNya, itu yang diwujudkanNya.

Bahkan apa yang terucapkan untuk masa mendatang, itupun terjadi tanpa kecuali! Itu yang disebut orang sebagai pe-nubuat terhadap hal-hal yang akan datang! Keselarasan antara ajaran dan perilaku, antara ucapan dan perbuatan, antara nubuat dan penggenapannya, sungguh merupakan sebuah kesaksian-diri Yesus yang mustahil dapat diduplikatkan Guru lainnya.

Catatan Empat

Setiap kali Yesus muncul mengajar secara terbuka, Ia otomatis menarik perhatian ribuan orang yang datang berhimpun, berjejal-jejal untuk mendengar pengajaranNya. Tidak ada panitia-panitiaan yang dibentuk untuk menarik masa. Tidak perlu alat-bantu semisal sound system untuk menembuskan suaraNya hingga ketelinga barisan paling belakang.

Ia melakukannya secara solo! Ia bahkan tidak memerlukan bendahara dan seksi-konsumsi ketika Ia sendiri mem-pagelarkan sebuah perjamuan spektakuler kepada 5.000 orang laki-laki dewasa (belum termasuk perempuan dan anak-anak) yang tengah lelah dan kelaparan. Setiap hari, selama 1000-an hari, Ia mengajar dan berkarya non-stop, termasuk karya-karya mujizat yang “mustahil” bagi mata dan otak manusia. Dari pagi hingga malam, dari Galilea hingga Yudea, Yesus berjalan kaki berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar (Lukas 13:22). Ia menjelajahi seluruh pelosok untuk mencari dan menyelamatkan “domba-dombaNya” (kita-kita) yang tersesat dan yang hilang. Ia berkata tentang diriNya selaku Anak Manusia yang selalu melayani walau tanpa fasilitas khusus apapun: “Serigala mempunyai liang, dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya.” (Matius 8:20).

Siapa yang menyamaiNya?

 

Catatan Lima

Yesus bukan mengajar dan berkotbah seperti Guru-agama dan ahli Taurat, namun berkata-kata dalam kepenuhan kuasa. Inilah yang disaksikan dalam Injil:

Takjublah orang banyak itu mendengar pengajaranNya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka” (Matius 7:28-29).

“Mereka takjub….sebab perkataanNya penuh kuasa” (Lukas 4:32).

Suatu ketika para penjaga Bait Elohim diperintahkan untuk menangkap Yesus. Tetapi mereka ternyata pulang dengan tangan hampa, bukan karena tidak bertemu dengan Yesus, atau gagal membekukNya. Mereka ditanyai oleh para pemimpin yang memberi perintah penangkapan: “Mengapa kamu tidak membawa Dia?”. Dan para penjaga menjawabnya: “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!” (Yohanes 7:46). Ya, setiap perkataan Yesus adalah wibawa tersendiri. Sekalipun Ia sering dihadapkan dengan banyak pertanyaan sulit dan penuh jebakan dari musuh-musuhNya, namun tak satupun itu dijawab dengan ragu, kabur, menanti-nanti, keliru, atau menyusulkan koreksi. Ia tidak menunggu wahyu baru bisa menjawab. Setiap perkataanNya adalah total-wahyu, disetiap waktu. Tidak ada yang bertele-tele, mubazir, harus diperbaiki atau digantikan. Semuanya menakjubkan para pendengarNya. Sekali kata-kata keluar dari mulutNya, itulah INJIL-Nya yang kekal! Ia berkata dengan kuasa:

“Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataanKu tidak akan berlalu”. (Markus 13:31).

Catatan Enam

Ajaran Yesus yang terbesar adalah ajaran kasih. Kasih tingkat-tinggi, vertikal dan horizontal, universal, dan cross-emotional. Mengasihi Tuhan, sesama manusia, bahkan musuh-musuh yang menyakitkan: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat.5:44). Dan Dia pulalah yang membuktikan  PERBUATAN KASIH tingkat tertinggi kepada manusia. Ini dirangkumkan Yesus dalam istilahNya sebagai Gembala yang mengorbankan nyawa bagi domba-dombaNya:

“Aku memberikan nyawaKu bagi  domba-domba Ku….

 Aku memberikan nyawaKu untuk menerimanya kembali”  (Yohanes 10:17).

“Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya, (dan) kamu adalah sahabatKu.”  (Yohanes 15:13).

Dan sejarah mencatat bahwa Yesus benar-benar memberikan nyawaNya diatas kayu salib demi manusia, dengan disaksikan oleh puluhan ribu saksi mata.

Memang Tuhan dari agama mana saja dapat mengklaim diriNya maha pengasih dan penyayang. Namun Tuhan manakah yang pernah membuktikan diriNya berkorban bagi umatNya? Hanya Yesus yang menyodorkan satu pembuktian antara ajaran kasihNya dengan perbuatanNya. Itulah pengorbanan nyawaNya diatas kayu SALIB.

Catatan Tujuh

Apa yang dapat dilakukan seseorang yang sedang dieksekusi dengan siksaan yang paling kejam? Ia dicambuk hingga luka-luka terkoyak disekujur badanNya. Sebuah anyaman mahkota-duri “dibenamkan” kepada kepalaNya, dan kepala itu dipukul dengan sebatang kayu. Kemudian Ia diserahkan kepada masa yang memperlakukan Dia semau-maunya. Sambil didera, Ia dipaksa jalan sembari memikul sebuah kayu salib berat hingga ke bukit Tengkorak. Ia tertekan, diteror, kelelahan, kehausan, kesakitan. Ia akhirnya tak kuat meneruskannya lagi, lalu terjatuh ditengah jalan….

Di bukit Tengkorak itulah, Dia disalibkan kekayu balok yang dipikulNya. Caranya? Dengan  meng- hunjamkan paku-paku ukuran 6 inci kepada kedua kaki dan pergelangan tanganNya! Ketika kayu salib itu ditegakkan, maka tergantunglah Ia dalam keadaan luka parah, bercucuran darah, mengerang kesakitan, megap-megap kehausan dan kekurangan oksigen!

———————————————-

Produktif sampai mati

Disaat-saat terakhir melepaskan nyawaNya seperti itu, apakah orang tersebut masih peduli akan dunia, dan mampu menyelamatkan manusia? Mungkin itu hanya ada dalam mimpi saja. Namun, diatas kayu salib itulah, pada detik-detik derita seperti itulah, orang yang bernama YESUS, justru masih sempat memecahkan rekor-dunia, mengukir sebuah moral dan karya yang terbesar dalam sejarah!

———————————————

Lihat, seluruh masa telah kerasukan roh jahat untuk mengenyahkan Yesus. Begitu sengitnya kebencian orang-orang Yahudi akan Yesus sehingga mereka lebih memilih bersumpah melaknati diri mereka sendiri ketimbang melepaskan Yesus dari hukuman disalib. Mereka berteriak:
“Salibkan Dia, salibkan Dia…Biarlah darahNya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami”. Kayu salib yang setia tidak bisa bicara, namun Yesus yang tersalib menyaksikan diriNya dengan satu contoh moral, ajaran-pengampunan total yang tak terhapuskan oleh sejarah. Ia berdoa kepada Sang Bapa, Elohim di sorga:

“Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23:34).

Lebih dari itu — berjuang ditengah kesekaratan, sakit dan sulit bernafas yang sangat kritis sesaat sebelum nyawaNya tercabut– Yesus tetap produktif menyelamatkan seorang penjahat yang juga tersalib disampingNya. Sipenjahat ini disaat-saat terakhir menyesali dosa-dosanya. Ia menoleh kepada Yesus, menyesali dirinya dan bertobat sambil memohon:

“Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang (kelak) sebagai Raja.” Yesus dalam keadaan sekarat didetik-detik terakhir, masih peduli dan produktif sepenuhnya untuk menyelamatkan orang yang percaya padaNya. Ia berkata dengan otoritas ilahi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan bersama-sama dengan Aku didalam Firdaus.”…

Ini bukan sebuah janji moga-moga, bukan juga janji kelak-kelak, bahkan bukan janji ‘silahkan datang’. Tetapi janji KEPASTIAN PENYERTAAN seperti yang diproklamirkan oleh malaikat Gabriel  terhadap Yesus sebagai satu sosok Imanuelyaitu sosok  “Tuhan Elohim menyertai kita” – Dialah yang selalu menyertai umatNya hingga bersama-sama, ya dibawa bersama, masuk kedalam Firdaus’.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *